Friendship | Writing | Reading | Learning | Joking | Smiling | Laughing | Comfortable
Tentang Kami
Foto saya
Grup Cafe Rusuh merupakan suatu ruang lingkup tempat di mana para anggotanya bisa berbagi tentang segala hal. Kata "Rusuh" sendiri merupakan kependekan dari "Ruang suasana hati". Sebagai sebuah grup, Cafe Rusuh menjadi sebuah jembatan di mana persahabatan, kekeluargaan dan silaturahmi antara sesama anggotanya tetap terjaga. Selain itu, Cafe Rusuh juga memberikan kebebasan kepada para anggotanya untuk berbagi tentang segala hal seperti puisi, cerita, esai, tips-tips dan info-info yang bermanfaat bagi para anggotanya.
Tampilkan postingan dengan label Esai. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Esai. Tampilkan semua postingan

Jumat, 06 Mei 2011

Rusil (rusuhin Ilmu) - Pembahasan EYD - Bab III - Penulisan Kata

Oleh : Catz Link Tristan

Karena Emak lagi malas ngetik n mindahin isi buku EYD yang baru emak baca kalo lagi ngetik cerita maka emak copas aja dari yang Online.

Astaga, bahas EYD tapi pembukaannya kacau balau. #ampuni emak ini.

A. Kata Dasar

Kata yang berupa kata dasar ditulis sebagai satu kesatuan. Misalnya: Ibu percaya bahwa engkau tahu.Kantor pajak penuh sesak.Buku itu sangat tebal.

B. Kata Turunan
1. Imbuhan (awalan, sisipan, akhiran) ditulis serangkai dengan kata dasarnya.
Misalnya:
  • bergeletar
  • dikelola
  • penetapan
  • menengok
  • mempermainkan
2. Jika bentuk dasar berupa gabungan kata, awalan atau akhiran ditulis serangkai dengan kata yang langsung mengikuti atau mendahuluinya.
(Lihat juga keterangan tentang tanda hubung, Bab V, Pasal E, Ayat 5.)
Misalnya:
  • bertepuk tangan
  • garis bawahi
  • menganak sungai
  • sebar luaskan
3. Jika bentuk dasar yang berupa gabungan kata mendapat awalan dan akhiran sekaligus, unsur gabungan kata itu ditulis serangkai.
(Lihat juga keterangan tentang tanda hubung, Bab V, Pasal E, Ayat 5.)
Misalnya:
  • menggarisbawahi
  • menyebarluaskan
  • dilipatgandakan
  • penghancurleburan
4. Jika salah satu unsur gabungan kata hanya dipakai dalam kombinasi, gabungan kata itu ditulis serangkai.
Misalnya: adipati mahasiswa aerodinamika mancanegara antarkota multilateral anumerta narapidana audiogram nonkolaborasi awahama Pancasila bikarbonat panteisme biokimia paripurna caturtunggal poligami dasawarsa pramuniaga dekameter prasangka demoralisasi purnawirawan dwiwarna reinkarnasi ekawarna saptakrida ekstrakurikuler semiprofesional elektroteknik subseksi infrastruktur swadaya inkonvensional telepon introspeksi transmigrasi kolonialisme tritunggal kosponsor ultramodern Catatan:
(1) Jika bentuk terikat diikuti oleh kata yang huruf awalnya adalah huruf kapital, di antara kedua unsur itu dituliskan tanda hubung (-).
Misalnya:
  • non-Indonesia
  • pan-Afrikanisme
(2) Jika kata maha sebagai unsur gabungan diikuti oleh kata esa dan kata yang bukan kata dasar, gabungan itu ditulis terpisah.
Misalnya: Mudah-mudahan Tuhan Yang Maha Esa melindungi kita.Marilah kita bersyukur kepada Tuhan Yang Maha Pengasih
.
C. Kata Ulang
Bentuk ulang ditulis secara lengkap dengan menggunakan tanda hubung. Misalnya: anak-anak, buku-buku, kuda-kuda, mata-mata, hati-hati, undang-undang, biri-biri, kupu-kupu, kura-kura, laba-laba, sia-sia, gerak-gerik, huru-hara, lauk-pauk, mondar-mandir, ramah-tamah, sayur-mayur, centang-perenang, porak-poranda, tunggang-langgang, berjalan-jalan, dibesar-besarkan, menulis-nulis, terus-menerus, tukar-menukar, hulubalang-hulubalang, bumiputra-bumiputra

D. Gabungan Kata
1. Gabungan kata yang lazim disebut kata majemuk, termasuk istilah khusus, unsur-unsurnya ditulis terpisah.
Misalnya: duta besar, kambing hitam, kereta api cepat luar biasa, mata pelajaran, meja tulis, model linear, orang tua, persegi panjang, rumah sakit umum, simpang empat.
2. Gabungan kata, termasuk istilah khusus, yang mungkin menimbulkan kesalahan pengertian, dapat ditulis dengan tanda hubung untuk menegaskan pertalian di antara unsur yang bersangkutan.
Misalnya: alat pandang-dengar, anak-istri saya, buku sejarah-baru, mesin-hitung tangan, ibu-bapak kami, watt-jam, orang-tua
muda
3. Gabungan kata berikut ditulis serangkai.
Misalnya: acapkali, adakalanya, akhirulkalam, alhamdulillah, astagfirullah, bagaimana, barangkali, bilamana, bismillah, beasiswa, belasungkawa, bumiputra, daripada, darmabakti, darmasiswa, dukacita, halalbihalal, hulubalang, kacamata, kasatmata, kepada, keratabasa, kilometer, manakala, manasuka, mangkubumi, matahari, olahraga, padahal, paramasastra, peribahasa, puspawarna, radioaktif, sastramarga, saputangan, saripati, sebagaimana, sediakala, segitiga, sekalipun, silaturahmi, sukacita, sukarela, sukaria, syahbandar, titimangsa, wasalam

E. Kata Ganti ku, kau, mu, dan nya
Kata ganti ku dan kau ditulis serangkai dengan kata yang mengikutinya; ku, mu, dan nya ditulis serangkai dengan kata yang mendahuluinya. Misalnya: Apa yang kumiliki boleh kauambil.Bukuku, bukumu, dan bukunya tersimpan di perpustakaan.

F. Kata Depan di, ke, dan dari

Kata depan di, ke, dan dari ditulis terpisah dari kata yang mengikutinya kecuali di dalam gabungan kata yang sudah lazim dianggap sebagai satu kata seperti kepada dan daripada.
(Lihat juga Bab III, Pasal D, Ayat 3.)
Misalnya: Kain itu terletak di dalam lemari.Bermalam sajalah di sini.Di mana Siti sekarang?Mereka ada di rumah.Ia ikut terjun ke tengah kancah perjuangan.Ke mana saja ia selama ini?Kita perlu berpikir sepuluh tahun ke depan.Mari kita berangkat ke pasar.Saya pergi ke sana-sini mencarinya.Ia datang dari Surabaya kemarin. Catatan: Kata-kata yang dicetak miring di bawah ini ditulis serangkai.Si Amin lebih tua daripada si Ahmad.Kami percaya sepenuhnya kepadanya.Kesampingkan saja persoalan yang tidak penting itu.Ia masuk, lalu keluar lagi.Surat perintah itu dikeluarkan di Jakarta pada tanggal 11 Maret 1966.Bawa kemari gambar itu.Kemarikan buku itu.Semua orang terkemuka di desa itu hadir dalam kenduri itu.

G. Kata si dan sang

Kata si dan sang ditulis terpisah dari kata yang mengikutinya.
Misalnya:
Harimau itu marah sekali kepada sang Kancil.Surat itu dikirimkan kembali kepada si pengirim.

H. Partikel

1. Partikel -lah, -kah, dan -tah ditulis serangkai dengan kata yang mendahuluinya.
Misalnya: Bacalah buku itu baik-baik.Jakarta adalah ibu kota Republik Indonesia.Apakah yang tersirat dalam surat itu?Siapakah gerangan dia?Apatah gunanya bersedih hati?
2. Partikel pun ditulis terpisah dari kata yang mendahuluinya.
Misalnya: Apa pun yang dimakannya, ia tetap kurus.Hendak pulang pun sudah tak ada kendaraan.Jangan dua kali, satu kali pun engkau belum pernah datang ke rumahku.Jika ayah pergi, adik pun ingin pergi.

Catatan: Kelompok yang lazim dianggap padu, misalnya adapun, andaipun, ataupun, bagaimanapun, biarpun, kalaupun, kendatipun, maupun, meskipun, sekalipun, sungguhpun, walaupun ditulis serangkai. Misalnya: Adapun sebab-sebabnya belum diketahui.Bagaimanapun juga akan dicobanya menyelesaikan tugas itu.Baik para mahasiswa maupun mahasiswi ikut berdemonstrasi.Sekalipun belum memuaskan, hasil pekerjaannya dapat dijadikan pegangan.Walaupun miskin, ia selalu gembira.
3. Partikel per yang berarti 'mulai', 'demi', dan 'tiap' ditulis terpisah dari bagian kalimat yang mendahului atau mengikutinya.
Misalnya: Pegawai negeri mendapat kenaikan gaji per 1 April.Mereka masuk ke dalam ruangan satu per satu.Harga kain itu Rp2.000 per helai.

I. Singkatan dan Akronim

1. Singkatan ialah bentuk yang dipendekkan yang terdiri atas satu huruf atau lebih.
a. Singkatan nama orang, nama gelar, sapaan, jabatan atau pangkat diikuti dengan tanda titik.
Misalnya:


A.S. Kramawijaya Muh. Yamin Suman Hs. Sukanto S.A. M.B.A. master of business administration M.Sc. master of science S.E. sarjana ekonomi S.Kar. sarjana karawitan S.K.M. sarjana kesehatan masyarakat Bpk. bapak Sdr. saudara Kol. kolonel
b. Singkatan nama resmi lembaga pemerintah dan ketatanegaraan, badan atau organisasi, serta nama dokumen resmi yang terdiri atas huruf awal kata ditulis dengan huruf kapital dan tidak diikuti dengan tanda titik.
Misalnya:


DPR Dewan Perwakilan Rakyat PGRI Persatuan Guru Republik Indonesia GBHN Garis-Garis Besar Haluan Negara SMTP Sekolah Menengah Tingkat Pertama PT Perseroan Terbatas KTP Kartu Tanda Penduduk
c. Singkatan umum yang terdiri atas tiga huruf atau lebih diikuti satu tanda titik.
Misalnya:


dll. dan lain-lain dsb. dan sebagainya dst. dan seterusnya hlm. halaman sda. sama dengan atas Yth. (Sdr. Moh. Hasan) Yang terhormat (Sdr. Moh. Hasan)
Tetapi: a.n. atas nama d.a. dengan alamat u.b. untuk beliau u.p. untuk perhatian s.d. sampai dengan
d. Lambang kimia, singkatan satuan ukuran, takaran, timbangan, dan mata uang tidak diikuti tanda titik.
Misalnya:


Cu kuprum TNT trinitrotoluen cm sentimeter kVA kilovolt-ampere l liter kg kilogram Rp (5.000,00) (lima ribu) rupiah
2. Akronim ialah singkatan yang berupa gabungan huruf awal, gabungan suku kata, ataupun gabungan huruf dan suku kata dari deret kata yang diperlakukan sebagai kata.
a. Akronim nama diri yang berupa gabungan huruf awal dari deret kata ditulis seluruhnya dengan huruf kapital.
Misalnya:


ABRI Angkatan Bersenjata Republik Indonesia LAN Lembaga Administrasi Negara PASI Persatuan Atletik Seluruh Indonesia IKIP Institut Keguruan dan Ilmu Pendidikan SIM Surat Izin Mengemudi
b. Akronim nama diri yang berupa gabungan suku kata atau gabungan huruf dan suku kata dari deret kata ditulis dengan huruf awal huruf kapital.
Misalnya:


Akabri Akademi Angkatan Bersenjata Republik Indonesia Bappenas Badan Perencanaan Pembangunan Nasional Iwapi Ikatan Wanita Pengusaha Indonesia Kowani Kongres Wanita Indonesia Sespa Sekolah Staf Pimpinan Administrasi
c. Akronim yang bukan nama diri yang berupa gabungan huruf, suku kata, ataupun gabungan huruf dan suku kata dari deret kata seluruhnya ditulis dengan huruf kecil
Misalnya:


pemilu pemilihan umum radar radio detecting and ranging rapim rapat pimpinan rudal peluru kendali tilang bukti pelanggaran Catatan: Jika dianggap perlu membentuk akronim, hendaknya diperhatikan syarat-syarat berikut:
  1. Jumlah suku kata akronim jangan melebihi jumlah suku kata yang lazin pada kata Indonesia
  2. Akronim dibentuk dengan mengindahkan keserasian kombinasi vokal dan konsonan yang sesuai dengan pola kata Indonesia yang lazim.

J. Angka dan Lambang Bilangan

1. Angka dipakai untuk menyatakan lambang bilangan atau nomor. Di dalam tulisan lazim digunakan angka Arab atau angka Romawi.
Angka Arab  : ٠,١,٢,٣,٤,٥,٦,٧,٨,٩ Angka Romawi  : I, II, III, IV, V, VI, VII, VIII, IX, X, L (50), C (100), D (500), M (1.000)
Pemakaiannya diatur lebih lanjut dalam pasal-pasal yang berikut ini.
2. Angka digunakan untuk menyatakan:
(i) ukuran panjang, berat, luas, dan isi (ii) satuan waktu (iii) nilai uang, dan (iv) kuantitas

Misalnya: 0,5 sentimeter5 kilogram4 meter persegi10 liter 1 jam 20 menitpukul 15.00tahun 192817 Agustus 1945 Rp5.000,00US$3.50*$5.10*¥1002.000 rupiah 50 dolar Amerika10 paun Inggris100 yen10 persen27 orang
* tanda titik di sini merupakan tanda desimal.
3. Angka lazim dipakai untuk melambangkan nomor jalan, rumah, apartemen, atau kamar pada alamat.
Misalnya:
  • Jalan Tanah Abang I No. 15
  • Hotel Indonesia, Kamar 169
4. Angka digunakan juga untuk menomori bagian karangan dan ayat kitab suci.
Misalnya:
  • Bab X, Pasal 5, halaman 252
  • Surah Yasin: 9
5. Penulisan lambang bilangan yang dengan huruf dilakukan sebagai berikut:
a. Bilangan utuh
Misalnya:
dua belas
dua puluh dua
dua ratus dua puluh dua
12
22
222
b. Bilangan pecahan
Misalnya:
setengah
tiga perempat
seperenam belas
tiga dua pertiga
seperseratus
satu persen
satu dua persepuluh 1/2
3/4
1/16
3 2/3
1/100
1%
1,2
6. Penulisan lambang bilangan tingkat dapat dilakukan dengan cara yang berikut.
Misalnya:
  • Paku Buwono X
  • pada awal abad XX
  • dalam kehidupan pada abad ke-20 ini
  • lihat Bab II, Pasal 5
  • dalam bab ke-2 buku itu
  • di daerah tingkat II itu
  • di tingkat kedua gedung itu
  • di tingkat ke-2 itu
  • kantornya di tingkat II itu
7. Penulisan lambang bilangan yang mendapat akhiran -an mengikuti
Misalnya:

tahun '50-an
uang 5000-an
lima uang 1000-an

(tahun lima puluhan)
(uang lima ribuan)
(lima uang seribuan)
8. Lambang bilangan yang dapat dinyatakan dengan satu atau dua kata ditulis dengan huruf kecuali jika beberapa lambang bilangan dipakai secara berurutan, sperti dalam perincian dan pemaparan.
Misalnya: Amir menonton drama itu sampai tiga kali.Ayah memesan tiga ratus ekor ayam.Di antara 72 anggota yang hadir, 52 orang setuju, 15 orang tidak setuju, dan 5 orang memberikan suara blangko.Kendaraan yang ditempah untuk pengangkutan umum terdiri atas 50 bus, 100 helicak, 100
bemo.
9. Lambang bilangan pada awal kalimat ditulis dengan huruf. Jika perlu, susunan kalimat diubah sehingga bilangan yang tidak dapat dinyatakan dengan satu atau dua kata tidak terdapat pada awal kalimat.
Misalnya: Lima belas orang tewas dalam kecelakaan itu.Pak Darmo mengundang 250 orang tamu.

Bukan: 15 orang tewas dalam kecelakaan itu.Dua ratus lima puluh orang tamu diundang Pak Darmo.
10. Angka yang menunjukkan bilangan utuh yang besar dapat dieja sebagian supaya lebih mudah dibaca.
Misalnya: Perusahaan itu baru saja mendapat pinjaman 250 juta rupiah.Penduduk Indonesia berjumlah lebih dari 120 juta orang.
11. Bilangan tidak perlu ditulis dengan angka dan huruf sekaligus dalam teks kecuali di dalam dokumen resmi seperti akta dan kuitansi.
Misalnya: Kantor kami mempunya dua puluh orang pegawai.DI lemari itu tersimpan 805 buku dan majalah.

Bukan: Kantor kamu mempunyai 20 (dua puluh) orang pegawai.Di lemari itu tersimpan 805 (delapan ratus lima) buku dan majalah.
12. Jika bilangan dilambangkan dengan angka dan huruf, penulisannya harus tepat.
Misalnya: Saya lampirkan tanda terima uang sebesar Rp999,75 (sembilan ratus sembilan puluh sembilan dan tujuh puluh lima perseratus rupiah).Saya lampirkan tanda terima uang sebesar 999,75 (sembilan ratus sembilan puluh sembilan dan tujuh puluh lima perseratus) rupiah.

Rusil – Membahas tentang EYD – Pemakaian Huruf Kapital dan Huruf Miring.

Oleh : Catz Link Tristan

Rusil – Membahas tentang EYD – Pemakaian Huruf Kapital dan Huruf Miring.
Saya sebagai penulis amatir paling sering ketakutan soal EYD. Bingung dengan apakah tulisan saya ini sudah benar apa tidak. Nah oleh karena itu Emak Catz pengen membahas soal EYD (maklum tadi sore Emak beres-beres lemari buku dan akhirnya menemukan surat cinta Emak – eitsss ngacooo. Bukan ding! Emak menemukan buku EYD yang seharga lima belas ribu, dengan sampul putih biru dengan huruf EYD berwarna merah.)

Buku EYD yang menjadi referensi pembahasan ini ditulis oleh Tim CSG dengan judul EYD (Ejaan yang disempurnakan). Diterbitkan oleh Penerbit Cakrawala dengan distributor PT. Buana Ilmu Popular (Kompas Gramedia Group).

Pembahasan pertama pada buku ini mengenai Pemakaian huruf, tapi sementara Emak langkahi dulu. Kita langsung menuju bagian kedua, yaitu pemakaian huruf kapital dan huruf miring.

A.      Huruf Kapital atau Huruf Besar.
1.        Huruf kapital atau huruf besar dipakai sebagai huruf pertama kata pada awal kalimat.
Misalnya :
-          Dia mengantuk
-          Apa maksudnya?
-          Kita harus bekerja keras
-          Pekerjaan itu belum selesai

2.       Huruf kapital sebagai huruf pertama petikan langsung.
Misalnya :
-          Adik bertanya, “kapan kita pulang?”
-          Bapak menasihatkan, “Berhati-hatilah, Nak!”
-          “Kemarin engkau terlambat,” katanya
-          “Besok pagi,” kata Ibu, “dia akan berangkat.”

3.       Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama dalam ungkapan yang berhubungan dengan nama Tuhan dan Kitab suci, termasuk kata ganti untuk Tuhan.
Misalnya :
-          Allah
-          Yang Mahakuasa
-          Yang Maha Pengasih
-          Alkitab
-          Weda
-          Tripitaka
-          Tuhan akan menunjukkan jalan yang benar kepada hamba-Nya
-          Bimbinglah hamba-Mu ya Tuhan, ke jalan yang Engkau beri rahmat.

4.        Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama nama gelar kehormatan, keturunan dan keagaman yang diikuti nama orang.
Misalnya :
-          Mahaputra Yamin
-          Sultan Hasanudin
-          Haji Agus Salim
-          Imam Syafii
-          Nabi Ibrahim
Huruf kapital tidak dipakai sebagai huruf pertama nama gelar kehormatan, keagamaan dan keturunan yang tidak diikuti nama.
Misalnya :
-          Dia baru saja diangkat menjadi sultan
-          Tahun ini ia pergi naik haji

5.       Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama unsur nama jabatan dan pangkat yang diikuti dengan nama orang atau dipakai sebagai pengganti nama orang tertentu, nama instansi atau nama tempat.
Misalnya :
-          Wakil Presiden Adam Malik
-          Perdana Menteri Nehru
-          Profesor Supomo
-          Laksamana MUda Husein Sastranegara
-          Sekertaris Jendral Departemen Pertanian
-          Gubernur Irian Jaya
Huruf Kapital tidak dipakai sebagai huruf pertama unsur nama jabatan dan pangkat yang tidak diikuti dengan nama orang atau tempat.

Misalnya :
-          Siapakah gubernur yang baru dilantik?
-          Kemarin Brigadir Jenderal Ahmad dilantik menjadi mayor jenderal.

6.       Huruf Kapital dipakai sebagai huruf pertama unsur-unsur nama orang.
Misalnya :
-          Dewi Sartika
-          Amir Hamzah
Huruf  kapital tidak dipakai sebagai huruf pertama nama orang yang digunakan sebagai nama jenis atau satuan ukuran.
Misalnya :
-          mesin diesel
-          10 volt
-          5 ampere

7.       Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama nama bangsa, suku bangsa dan bahasa.
Misalnya :
-          bahasa Indonesia
-          suku Sunda.
Huruf kapital tidak dipakai sebagai huruf pertama nama bangsa, suku bangsa dan bahasa yang dipakai sebagai bentuk dasar kata turunan.

Misalnya :
-          mengindonesiakan kata asing
-          keinggris-inggrisan

8.       huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama nama tahun, bulan, hari raya dan peristiwa.
Misalnya :
-          bulan April
-          hari galungan
Perang candu

Huruf kapital tidak dipakai sebagai huruf pertama peristiwa sejarah yang tidak dipakai sebagai nama.

Misalnya :
-          perlombaan se njata membawa resiko perang dunia


9.       huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama nama geografi.
Misalnya :
-          Laut Jawa
-          Tanjung Harapan
-          Danau Toba
Huruf kapital tidak dipakai sebagai huruf pertama istilah geografi yaang tidak menjadi unsur diri.

Misalnya :
-          berlayar  ke teluk
-          pergi ke arah timur
-          huruf kapital tidak dipakai sebagai huruf pertama istilah geografi yang digunakan sebagai nama jenis.
Misalnya :
-          garam inggris
-          gula jawa

10.   Huruf kapital dipakai sebaqgai huruf pertama semua unsur nama negara, lembaga pemerintahan dan ketata negaraan.

Misalnya :
-          Republik Indonesia
-          Majelis Permusyawaratan Rakyat
Huruf kapital tidak dipakai sebagai huruf pertama kata yang bukan nama resmi negara, lembaga pemerintah dna ketatanegaraan, badan serta nama dokumen resmi.

Huruf kapital tidak dipakai sebagai huruf pertama kata yang bukan nama resmi negara, lembaga pemerintahan dan ketatanegaraan, badan serta nama dokumen resmi.

Misalnya :
-          menjadi sebuah republik
-          berapa badan hukum

11.   huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama setiap unsur nemtuk ulang sempurna yg terdapat pada nama badan, lembaga pemerintahan dan ketatanegaraan serta dokumen resmi.
Misalnya :
-          Perserikatan Bangsa Bangsa
-          Undang-Undang Dasar Republik Indonesia

12.   Huruf kapital dipakai senagai huruf pertama semua kalimat (termasuk unsur kata ulang sempurna) di dalam nama buku, majalah, surat kabar,dan judul karangan kecuali kata seperti di posis awal.

13.   Misalnmya (da lihat dah)

-          Bacalah majalah Bahasa dan Sstra.
-          Undang Undang Dasar Republik Indonesia


14.   Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama singkatan gelar sapaan dan nama gelar.

15.   Huruf Kapital dipakai sebagai huruf pertama unsur singkatan, nama gelar dan sapaan serta pangkat.

Misanya :
1.       Dr - Dokter
2.       M.A – Master of Art
3.       Ny. - nyonya

16 .  Huruf kapital tidak dipakai sebagai huruf pertama kata penunjuk hubungan kekerabatan yang dipakai dalan penyapaan dan pengacuan.

Misalnya :
-          “Kapan Bapak berangkat?” tanya Hartio
-          Adik bertanya, “Itu apa, Bu?”
17.  Huruf kapital tidak dipakai sebagai huruf pertama kata penunjuk hubungan kekerabatan yang tidak dipakai dalam pengacuan dan penyapaan.

Misanya : - Kita harus menghormati bapak dan ibu kita.
18. huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama kata ganti Anda.
Misalnya :

-          Sudahkah Anda tahu?
-          Surat Anda telah kami terima

B.      Huruf miring
1.       Huruf miring dalam cetakan dipakai utnuk mrnuliskan nama buku, majalan dan surat kabar yang dikutip dalam tulisan.
Misalnya :
-          Majalah Bahasa dan Kesusastraan
-          Surat kabar Suara Pembaharuan

2.       Huruf miring dalam cetakan dipakai untuk menegaskan atau mengkhususkan huruf, bagian kata, kata atau kelompok kata.
Misalnya :
-          Huruf peratama kata abad adalah a.
-          Dia tidak menipu tetapi ditipu

3.       Huruf miring dalam cetakan dipakai untuk menuliskan kata nama ilmiah atau ungkapan asing kecuali yang telah disesuaikan.

Misalnya :
-          Nama ilmiah buah manggis adalah Gracinia mangostana
-          Politik divide et impera pernah merajalela di negeri ini.
-          Weltanschauung antara lain diterjemahkan menjadi ‘pandangan dunia’


Catatan :  dalam tulisan tangan atau ketikkan, huruf atau kata yang akan dicetak miring, digarisbawahi.

Klub Jurnalistik Sekolah

Oleh : Tri Nugrohoo

Salah seorang teman bertanya pada grup Café Rusuh mengenai hal yang harus dipersiapkan bila ingin mendirikan klub jurnalistik. Kebetulan dia berkeinginan untuk mendirikan klub jurnalistik di sekolahnya. Dan kebetulan juga, saya dulu waktu SMU adalah wapimred di majalah sekolah. Maka saya hendak berbagi pengalaman, CMIIW.
Hal pertama adalah ijin pihak sekolah. Itu adalah hal mutlak yang harus dipersiapkan terlebih dahulu. Buat proposal ke kepala sekolah untuk ijin mendirikan klub tersebut.
Selanjutnya bila izin dari sekolah sudah turun, tentu mencari tenaga pengajarnya dong… cari yang anggota wartawan atau mahasiswa jurusan komunikasi. Kalo punya kenalanan mahasiswa yang ber-UKM di media kampus bisa juga dimintai tolong sebagai pengajar. Kalo misal guru matpel ada yang bisa, bisa juga meminta tolong pada beliau.
Pada umumnya, struktur dalam sebuah ekstrakulikuler adalah sebagai berikut:
1. penanggung jawab                     : kepsek
2. penasehat                                   : Guru Bahasa
3. Pimred                                         : 1 orang
4. Wapimred                                    : 1  orang
5. Editor                                           : 1 orang
6. Layouter                                      : 1 orang
7. reporter                                       : XX orang
Dsb.
Karena jurnalistik sekolah identik dengan penerbitan sebuah majalah sekolah, maka AD/ART juga perlu disusun. Karena, berdasarkan dari hal itu barulah bisa disusun tentang format media, apakah madding saja atau majalah bulanan, dwi bulanan, tri bulan dst. Oplahnya, dananya dari mana, apakah boleh memasukkan iklan dan hal-hal teknis lainnya.
Hal lain yang perlu dipersiapkan adalah ruang arsip (bisa juga dalam bentuk digital), seperangkat computer, tape recorder bila diperlukan (namun lebih baik jika tulis tangan aja).
Demikian idealnya bila ingin membuat klub jurnalis. Kurang lebihnya mohon maaf bila ada salah-salah kata.