Friendship | Writing | Reading | Learning | Joking | Smiling | Laughing | Comfortable
Tentang Kami
Foto saya
Grup Cafe Rusuh merupakan suatu ruang lingkup tempat di mana para anggotanya bisa berbagi tentang segala hal. Kata "Rusuh" sendiri merupakan kependekan dari "Ruang suasana hati". Sebagai sebuah grup, Cafe Rusuh menjadi sebuah jembatan di mana persahabatan, kekeluargaan dan silaturahmi antara sesama anggotanya tetap terjaga. Selain itu, Cafe Rusuh juga memberikan kebebasan kepada para anggotanya untuk berbagi tentang segala hal seperti puisi, cerita, esai, tips-tips dan info-info yang bermanfaat bagi para anggotanya.
Tampilkan postingan dengan label Puisi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Puisi. Tampilkan semua postingan

Minggu, 11 Maret 2012

Dari Puisi Ke Pantun (Edisi estafet ngaco)

Kamichama DeMeter

Awalnya hijau..
Lalu mulai menguning..
Lalu oranye..
Dan kemudian memerah indah
Kutatap semua, waktu demi waktu
Menikmati perubahannya, detik demi detik..
Sangat menyenangkan, mengamati proses alaminya..
Ah.. Cabe..
Buah imut kesukaanku..


Amy Tan

Cabeee.....cabeeee....
Sekilo lima rebu
Siapa mo beli?

Ada cabe merah keci
Bulat
Keriting juga ada

Mo beli ndak???
*rusuhin*


Sinyo Manteman

kicau kenari di ranting cemara
seperti riuh bocah bermain percik
usai gerimis menjelang senja
buaikan pikiran dalam lamunan

aku di tepi jendela
disapa embun angin basah
dingin serupa lembab lantai hutan
gigilkan kakikaki telanjang

desau angin goyangkan rantingranting cemara
kenari tak lantas bergeming
selintas kudengar lirih suara hati
dendang syahdu sebait puisi


Senin, 05 Maret 2012

Battle Poem Tema Persahabatan

Tentang memori persahabatan yang terjual
by Catz Link Tristan

Dan aku mencari di lipatan sel-sel otak, tentang diriku
Adakah tersisa sepotong senyum di sana?
Mungkin remah-remah canda terselip di antara jalinan urat
Atau sudah kau buka otakmu dan ditukar di mall mewah

Kata manis penambah semangat diaduk dalam cangkir retak
Janji serta peluk hangat disajikan pada piring sekali pakai
Lalu kau letakkan pula tumpukan memori bagai kertas koran usang
Dikilokan pada pemulung, demi sekeping persahabatan baru

Pontianak – Kuching, Malaysia

=======

Photograph
by Ibnu Purdiavril Nugroho

pada selembar foto yang serupa warna senja
masih ada sekilas wajahwajah di pikiran
terukir serupa relief dinding candi
tentang siapa; satusatu coba diingat

kau, dia, mereka
aku lebih suka menyebutnya kita
daripada menghafal namanama yang bisa saja
tak hanya satu
tapi pada guratgurat wajah tak pernah sama
meski kulit berubah keriput
dan punggung mulai membungkuk

ada yang kita tulis di belakang
'kita adalah sahabat'

Buitenzorg, 201111

=======

La la la...
by Minie Kholik

Kau adalah laut
di mana segala bermuara
seperti air mengalir
... meresap hingga palungnya

berpegang sekuatnya
seperti bumi dengan porosnya
seperti bulan dan mentari
berkisah dengan cerita berbeda

nikmati saja
banyak tanda tanya
kau pilih sendiri jawabannya
kuncinya ada di saku bajumu

Sahabat itu bagaimana menikmati tawa dalam tiap suasana

MK ,Taipei, 20/11/2011

=======

Minggu, 18 September 2011

Poetry Battle Cafe Rusuh : Musim Basah

Sinyo Manteman

sudah tiba rupanya
rerintik yang menumpang awan dari terminal langit utara
mereka jatuh di atap
di beranda
di tanah
di pucukpucuk rerumput

nadanya tunggal
tik tik tik tik tik
tanpa tak
tanpa tuk
tanpa tek
tanpa tok
cuma tik tik tik tik tik

aku suka menari sendiri
jingkat kakiku ikuti ketukannya
satusatu
sesekali menengadah
biar rerintiknya jatuh juga di wajahku
dan aku terpejam
merasakan basahnya

sekali waktu aku hanya berdiri di balik jendela
nadanya masih sama
tik tik tik tik tik

di tepi jendela mereka singgah
mengetuk kaca jendela pelanpelan
seperti denting piano yang tak pernah berubah
ketukannya masih tetap satusatu

dari terminal langit utara mereka datang
mengetuk kaca jendelaku
mengajakku berjingkat

Batavia, 180911



Fannie Faiga 

subuh kemarin
9 potong baju menyatu dengan detergent
siang kemarin
hujan melebat,
balkon asramaku sudah basah basah basah

dan cucianku basah semuaaaaaa

huhuhuhuhuhu :(( pagi ini air mataku pun mengalir basah basah dan basah lagiii, karena aku harus mencuci lagi :((



Arel Bae

Setelah menanti, akhirnya kau kembali
kembali memberi rerintik setelah berharihari hanya terik
menyambung juta waktu yg berlalu bersama keluhan campur harapan
"Langit, mendunglah....
Basahlah"....
...



Riu-kun Xentra 

Dadaku meletupletup menunggu
Dirimu
Meski titik-titik air
Menghujani tubuhku
Meski udara dingin
Membalutku

Kemana dirimu pergi?
Kenapa tak hinggapi aku yang masih menyendiri?



'rea' Harbowoputra

Aku suka air
Air dari langit
Langit yang kelabu

Kelabu itu gelap
Gelap, kata Mama
Mama bilang begitu

Begitu air turun
Turun hujan jadinya
Jadinya senang Aku



Karina Riesling de Silva 

Byur byur byur
Tes tes tes

Payungku menadah
tangis langit yang mengguyur
tubuhmu
Semoga juga bisa menadah
tangismu yang menetes
dari matamu



Sinta Latuhari 

Aku
Butuh
Basah!
Sialnya, tak setetes pun air menitik dari awan



Catz Link Tristan 

Di aspal panas corak mulai terbentuk
Dari titik kecil jadilah penuh
Mobil masih melaju pada jalan yang kau ketuk
Kaca berdebu mereka pun kau basuh

Anak-anak berteriak riuh
Menengadah peluk kalian dalam tawa cerah
Orang tua menghardik marah
Hindari kalian, kembangkan payung dan tarik bocah

Lupalah orang tua pada ceria kala mereka menari bersamamu
Bersenda gurau walau badan telah basah kuyup
Pantaslah kalian malas datang bertamu
Juga alasan kenapa hubungan kita jadi tertutup



Utami Panca Dewi 

Garis-garis arsir turun dari langit
semua bersijingkat mencari tempat berteduh
lelaki kecil bergerak di tengah arena
bak penari...
setumpuk koran sebagai property
disambanginya satu persatu
pintu APV, Soluna dan Honda Jazz
berharap ada yang laku
meskipun satu
garis arsir semakin tebal
lampu yang merah menjadi hijau
lelaki kecil tetap menari
meski
decit roda mobil yang mencumbu aspal...
telah menghantar seliter genangan air
tepat pada setumpuk koran dalam dekapannya.



Amy Tan 

Jatuh satu-satu di atas telaga
Benturannya mencipta riak
Telaga tempatmu bersinggah
Kulihat kuntum sakura di setiap jatuhnya
Ah!..aku terlena oleh rinaimu
Musim basah selalu membawamu padaku

Bias sakura di telaga
Suatu senja di September



Cahya Furi Purnama 

Lalu,
Tarian hujan pun terhenti
Sirna seiring sembab yang tercipta dari ujung mata
Terhilang, kuasa sang jemari takdir

Aku termangu,
Tergagap jejak ruap rintih tanah basah
Dari balik rona yang terseka
Berbisik kata tercipta sesisa sunyi

Patahan silam bukan sesal kupertanyakan
namun engkau tak hanya sebuah ingatan taman hati
Bahagiamu, adalah kata terindah untukku meski gerimis masih bersamaku.



Dina Taz Mardiana 

air berkelabu dengan alam, berbisik menyiangi sang waktu.dari rerupa rintik sampai menggulung bersatu dengan lumpur, bercanda dengan tanah yang menangis karena serakah.

kubawa sampah menggenangi hatimu dalam resah, nanar kulihat alirannya melahap penuh kemenangan, bersinergi dengan pupusnya harapan.

engkau,
satu musim yang kunanti rerintiknya
bukan bencananya





Alfian N. Budiarto 

september rain,
saat kau dan aku bersama
dalam dingin gerimis yang tercipta
ditemani secangkir kopi panas di berandamu
gemericik hujan mengisi kekosongan kita
sesaat setelah kau ucapkan cinta

september rain,
aku masih terpaku di tepian jendela
menatap burung kebasahan
berselimut daun-daun cemara
mengingat adegan kita berpayung di taman kota
tetap basah terguyur hujan

september rain,
musim tetap bersenandung basah
dan aku tetap berpayung
bukan di berandamu
atau di taman kota
aku berpayung di pemakamanmu
masih di bulan september

18.09.2011



Agus Suprianto

musim kering yang basah
hujan dari bukit bebatuan tanah melukis tawa kita
lalu mengalir bersama kumpulan rerintik
yang lebih dulu menemukan jati diri

pada dua belas jam setengah basah itu
kita berjalan dalam kuyup, setelahnya

Jumat, 26 Agustus 2011

APCR : Rona Malam Braga

by Dina Taz Mardiana


langit merah merona jingga
kutelusuri setapak kota tua
tergoda kuhampiri kedai per house
ingin kusesap aroma cafein di senja yang mulai menggigil

malampun mulai beranjak, semilir angin kian menusuk kulit
kakiku terus melangkah, gerimispun  ruah, rerintiknya  jatuh tergenang ditanganku yang luluh
di tepi  trotoar ini aku  bertepi , bersandar pada dinding yang catnya  mulai pucat.
kusapu jalananan  dengan lirikan, di tepi sebuah gedung lukisanlukisan seni dijajakan
mungkin suatu pengabadian kenangan atau harap untuk sedikit tambahan

: dulu
disetapak trotoar ini, segolongan elit kolonial berkeliaran
bercumbu rayu dengan prestice
menghamburkan uang untuk de vries
atau butik au bon marche yang menjual fashion impor dari Paris

: Braga malam ini
Bagai simfoni lagu sunyi, bersenandung sepi
Rerindumu selalu kupeluk erat
Denyut  megah gedung tua yang kian menelisik
kian muram dengan sorotan lentera lampu jalanan
dirimu saksi bisu sejarah dalam memoar
permata kota Paris Van Java  yang mulai pudar


Note :
Coffe perhouse : rumah pelelangan kopi yang dibuat oleh Belanda yang kini jadi balai kota Bandung
De Vries : toko klontong yang selalu dikunjungi petani priangan kaya raya keturunan belanda atau orang kolonial Belanda
Butik au bon marche : salahsatu butik elit yang menjual pakaian impor dari paris dan merupakan tempat fashionnya  sinyo dan none Belanda yang merupakan asalnya kenapa Bandung dijuluki Paris Van Java

APCR : Dewata Menelan Jasadmu

by Nyi Penengah Dewanti


Pijak langkah membagi kecupan
Sedulang kasih memugar kenangan
Di antara rumpun dedaunan
Hati berdenyut secebis senyuman

Pulau dewata memeluk sahdu
Segumpal ari-ariku tertanam
Dayung rindu
Mengucap salam

Birunya langit jatuh dibirunya lautmu
Ombak-ombak harapan berlarian
Bergelayut memerciki batu karang
Jasadmu terbujur kaku

Pulau seribu pura
Menelan raga
Membunuh mimpi
Menjinjing sepi


Rimbun pesona
Alam beri pertanda
Sampai jumpa
Matahari senja

APCR : Bisikan Pasir Bromo

by Endang Ssn


Memoar jejak langit masih terbaca
Menyerpih dalam tetes mimpi yang mengangkasa
Perlahan terjuntai
Lalu rebah dalam padang hati

Di penghujung senja, Bromo selayak siluet indah
Tapak-tapak langkah mensejarah
Menilas para pejuang mimpi
Saat satu persatu merayap pasti

Bukan aksara
Tak juga termaktub kata
Tapi bukan kalimat biasa
Saat hampar pasir putih menggeliat goda

Mata terpana akan pesona
Menelisik sisa rasa yang masih ada
Tegak bersama bangun asa
Butiran halus pasir mendekap luar biasa

Desir pasir menjamah jemari
Halus belai sang empunya hati
Mencumbu telaga bening yang menari
Menyibak segenap misteri

Tertunduk sebentuk raga
Saat cintaNya menyapa mesra
Diantara lautan pasir
IndahNya terukir

Hai Jiwa
Mengapa mesti resah saja
Bukankah alam masih berbahasa
Sekeping makna semestinya kau eja

Bisikan pasir luruh dalam rasa
Bersama peluk megah Bromo
Sebuah catatan yang tak lekang
Meski zaman menghilang

APCR : Merindu, Indonesiaku

by Hazztami CiNtya LutHfi

Bambu - bambu yang menghunus
mengisahkan lembaran cerita Kemerdekaan
Memoles keelokan garuda yang mencengkeram Bhineka
Sobekan hati para pahlawan yang telah terjahit rapi
dalam merah putih

Mari turunkan angkuhmu
untuk mengangkat tanganmu dalam hormat
Indonesiaku yang kini mulai lelah
tersapu derita penuh goda
Aku sadar...
Aku tahu...
Aku dan mereka masih terpasung dalam kebodohan
yang menggerogoti obor semangat

Berikanlah seluruh isi rusukmu untuk tanah air
Hapus debu dan peluh dari Indonesiaku
Mari gertak para penjajah budaya
Satukan janji serta bukti...
Tuk menjaga sepenuhnya anugerah dalam
induk negeri
Agar merasakan sejuknya hadir dan merindu
Indonesiaku...

APCR : Sepucuk Surat Untuk Sang Ibu

by Kawako Tami


Salam Ibu,
Bumi yang menjadi rahim 200 juta dari kami.. 

Bu..
Apakah dera bagi anak yang durhaka?
Mencuri dari belanga ibunya..
Menjarah pusaka rumahnya..
Menandas hingga perut ibunya..

Tidak kami tahu, Bu, batas dosa kaki dan tangan ini
Tidak kami kira, Bu, hingga tersengal napasmu
dan jerit anak cucu kami.. 
Kami tak berhenti.. 

Bu.. 
Apakah dera bagi saudara,
yang menari di atas bangkai saudaranya?
Merebut pelangi masa kecil anak mereka
Merampas kehormatan istri-istri mereka
Menutup keran kehidupan mereka

Tidak kami rasa, Bu, keputusasaan mereka
Tidak kami dengar, Bu, hingga satu demi satu bertinggal nama
dan berlagu tawa di atas nisan mereka
Kami tak peduli

Ah.. Ibu..
Jangan kutuk kami jadi batu!

Meski kami putra putrimu
hanya malin-malin dalam rupa baru
Meminum darah dan air matamu
Bersantap bangkai putra-putrimu

Bu, jangan lempar sumpah serapahmu!
Karena kutulis surat ini, Bu..
Jikalau ada sekeping maafmu..
Jikalau waktu mau menunggu.. sadarku..


                                     Dengan cinta yang terkubur dan tak lagi terlihat
                                                                      ttd
                                     Kami anak-anakmu, maling dalam rumahmu

APCR : JANGAN MENANGIS LAGI PERTIWIKU

by Ammy Cheery-Ozon


Rintihan Pertiwi kian menyayat hati
dentuman sirine lara menjadi penghias telinga
entah itu karena bencana
entah itu karena diam
atas sebuah frase ”Merdeka dalam kepura-puraan”
           
Tubuhku selalu berputar
            sembari mulutku bergumam ”Andainya Pertiwiku bisa”
            bisa menjadi pijakan untuk insan kuat
            bisa menjadi tumpuan untuk insan yang lemah
            namun, tatkala imajiku bergerak keluar dari sebuah fatamorgana
            aku bungkam
            bungkam atas berbagai ketidakadilan
            bungkam atas berbagai ketidakberpihakan
            oh aku salah...ternyata ada keberpihakan
            tapi ternyata hanya untuk insan kuat

Aku tahu, Pertiwiku menangis
menjatuhkan bulir airmata di pipi kiri dan kanannya
aku berbisik ”Jangan Menangis Lagi Pertiwiku”
dibalik ketidakadilan yang kamu lihat
dibalik ketidakberpihakan yang kamu dengar
ada insan lemah namun kuat
kuat bertahan atas penindasan
bukan hanya diam tak bergeming
           
Layaknya dua sisi mata uang
Ada kiri, ada kanan
            ada penjilat, ada pemberontak
            pemberontak atas kemunafikan
            pemberontak atas keonaran terselubung
            pemberontak atas kebiadaban
            pemberontak ini akan selalu menyeka air mata Pertiwiku
            jadi, jangan menangis lagi Pertiwiku

APCR : Kita adalah Harapan (Elegi Indonesia)


by Zday Abiyasa

/1/ Dunia yang Lekang
dongeng satu malam tentang diskriminasi moral
anomali kekalahan meniti waktu
runcing permasalahan dihadapi dengan akal
inti sari agama menu sayur mayur beku

mata melepas kesadaran. dengan akal yang bertolak belakang
antara fungsi yang sudah terkontaminasi
terus meresap dan tumbuh diseantero dunia
agama berubah ladang permainan yang tak terkendali

pujangga politik baru cendekiawan malang sekiranya banyak
energi terbuang menambah daftar kesesatan
gulana gelap
"untuk apa jadi gulma?"
nonsen belaka -zaman sudah lekang
urusan dunia menjadi urgent
nafsu adalah senjata
gemuruh petir menyambarnya
aku melihat dengan mata kepala: saksi bisu tetapi!
nanar pencapaian dunia 'kan musnah jua

laga panggung lebar nan luas ini hanyalah sandiwarasandiwara glamour menyusun rencana
anggap hidup sekali
walaupun korbankan kehidupan yang akan datang
undangundang atau hukum agama sebagai topeng untuk menutupi keserakahan manusia sendiri.

"dasar manusia cerdik!"


/2/Ketika Indonesia Bangkit Kembali
ketika barabara api perlahanlahan menelan bumi
kita tidak masih diam disini menunggu senja

ketika luka masih terbalut
tak perlulah takut
darah mengering beku menyala melahap peristiwa pilu
walaupun terombangambing
kita masih bercanda
masih bisa melihat sekeliling
juga bersuara dan berdoa

tak kan lebih peduli
aku mau padamkan barabara api
agar tak menghanguskan hati

mungkin juga harum melati menyertainya
tatkala tiada darah yang meleleh dari tubuh kita
masih tersisa berjuta pertanyaan dalam lubang kepala
bergelimpangan ribuan nyawa
mati..
serentak semua terjadi disini
ketika tanah ini bangkit kembali


/3/ Kita adalah Harapan
layang raga melayang
ingin terbang bumiku sayang
gerbang beterbangan
debudebu hitam
tenggelam langit mulai tenggelam
kikis
habis kikis tanahtanah
gempal
janganlah berpandang mencurigakan
keegoisan melupa daratan
- lawan

janganlah menghilang
kita adalah harapan
bumi retak
langit gemeratak