by Karina Tomas de Silva
Bois de Caures, Flabas, Le 22eme Fevrier 1916,
Seorang pria tergeletak di tengah lautan mayat di Bois des Caures. Pria itu hanyalah satu tubuh di antara ribuan tubuh lainnya yang memenuhi tempat itu. Yang membedakan dirinya dari tubuh-tubuh itu hanya satu; tubuhnya masih bernafas, sementara yang lain tidak. Selain dia, semuanya sudah mati.
Sudah berapa lama ia tak sadarkan diri? Hal terakhir yang diingatnya adalah rasa sakit yang amat sangat di bahu kanannya dan letusan-letusan tanpa henti akibat badai artileri. Rasa sakit itu masih ada laksana si jago merah yang melalap tubuhnya, namun bunyi letusan dan jeritan penuh derita tak lagi terdengar. Apa semuanya telah berakhir? Apakah akhirnya ia bisa meletakkan senjata untuk selamanya?
Bau busuk yang sangat ia kenali menusuk-nusuk hidungnya—bau kematian. Ia tak perlu membuka matanya untuk mengetahui bahwa ia terbaring dalam lautan mayat. Tampaknya teman seperjuangannya—tidak, ia tidak pernah menganggap mereka teman—telah lama meninggalkannya. Ia bisa membayangkan bocah-bocah bodoh yang otaknya penuh dengan ilusi kejayaan itu berbaris dengan dada membusung dengan senapan teracung, melangkahi lautan mayat itu menuju medan berikutnya dan menggantikan pekerjaan Sensenmann—sang pencabut nyawa.
Dan mereka pikir mereka telah memuliakan Jerman dengan memerahkan putih Perancis dengan darah rakyatnya. Cih! Mereka semua tertipu mentah-mentah oleh propaganda penguasa. Tak seorang pun yang cukup berakal untuk menyadari bahwa yang namanya membunuh itu hanya mengotori Jerman yang mereka agung-agungkan itu.
Pria itu tak tahu apakah ia terberkati atau malah dirundung malang. Tak akan ada seorang pun dalam pasukannya yang mengingat keberadaannya—kalaupun ada, mereka pasti mengira dia sudah tewas. Itu berarti ia bebas; bebas dari kewajiban terhadap negara yang merenggut kehidupan dan seni darinya dan membelenggunya dengan patriotisme buta, bebas dari mereka yang memaksanya meletakkan kuas dan mengangkat senjata.
Bila sekarang ia menanggalkan atribut prajuritnya dan kembali melukis di pinggir jalanan Paris yang jelas-jelas merupakan wilayah musuh, tak akan ada yang peduli. Ia telah bebas.
Tapi… Apakah ia benar-benar bebas?
Bahu kanan pria itu masih terasa sakit. Ia bahkan tak bisa menggerakkan tangan kanannya sama sekali. Kedua kakinya terasa berat, mungkin tertindih reruntuhan atau mayat serdadu lain. Ia bahkan tidak yakin apakah ia masih bisa berdiri. Dan di tengah medan peperangan seperti ini, entah sampai kapan ia bisa bertahan hidup tanpa makanan dan minuman yang layak sampai ia bisa menemukan peradaban yang belum binasa?
Lagipula ia tidak ingin bangkit. Ia tidak ingin berdiri dan terlunta-lunta hanya untuk sebuah nyawa. Ia hanya ingin berbaring di sana hingga ajal mendatanginya, menggunakan sisa kesadarannya untuk membolak-balik lembar-lembar kehidupannya, membaca kisah cinta dan mimpi-mimpinya, menangisi kegagalan dan kejatuhannya.
Sudah cukup ia berkarya, sekarang saatnya ia beristirahat sejenak dan menikmati memori dalam benaknya.
Pria muda itu menarik napas dalam-dalam.
Lalu terdengar suara rintihan samar-samar, suara seseorang yang bukan dirinya.
***
Satu lagi tubuh bernyawa menemukan dirinya tersesat di antara lautan mayat di Bois des Caures. Pria itu tak lagi muda, usianya paling tidak sudah kepala enam. Pandangannya kabur, tapi masih cukup jelas untuk menerangkan kepadanya bahwa ia telah ditinggalkan pasukannya. Dua batalyon pemuda dengan fleur-de-lis dan cinta di dadanya telah mundur dan meninggalkan medan atas perintahnya. Entah berapa yang bisa mencapai shelter sementara dengan selamat, tapi yang jelas dirinya sendiri bukan salah satunya.
Pria tua itu tahu bahwa dirinya tak akan tertolong lagi. Samar-samar ia melihat merah yang makin melebar di sekitar perutnya—atau dadanya? Ia tak bisa melihatnya dengan jelas... Sebagai ganti rasa sakit, ia tak bisa merasakan tubuhnya sama sekali, seolah-olah kepalanya telah terpenggal dari tubuhnya.
Ia tak mau menipu dirinya sendiri. Ia tahu ia pasti mati di sini.
Tapi tak apa. Mungkin memang waktunya sudah dekat. Pemuda-pemuda itulah yang kelak akan menggaungkan semangat Perancis hingga berpuluh-puluh tahun berikutnya, bukan dirinya. Jika memang ia hanya bisa mengantar mereka sampai ke sini, tant mieux…
Ia bohong bila ia tak punya penyesalan. Paling tidak ia ingin pulang ke rumahnya yang tenang dan hangat barang sekali. Ia ingin melihat senyum belahan-belahan jiwanya untuk terakhir kali. Ia ingat ia pernah berjanji akan mengajak istrinya berperahu menyusuri sungai Seine setelah perang usai tepat ketika ia dipanggil kembali bertugas. Ia juga berjanji kepada anak-anak gadisnya akan membawa mereka menghadiri pesta-pesta di London…
…Tapi sekarang, wanita itu hanya bisa menyusuri Seine seorang diri. Dan jangankan berpesta di London, gadis-gadis itu harus mengenakan pakaian berkabung yang suram selama berbulan-bulan…
Raganya kini tak mungkin mencapai mereka… Pria itu hanya bisa berharap esprit—jiwanya—tetap hidup dalam hati mereka.
“Josephine… Mes biyous…”
***
Seorang pria tua dan lelaki yang lebih muda terbaring berdekatan di tengah lautan mayat di Bois des Caures. Yang tua tak lagi punya tenaga untuk bangkit, sementara yang muda tak lagi punya hasrat untuk kembali hidup. Keduanya terkapar dalam kesunyian, sama-sama mengira dirinyalah satu-satunya tubuh yang bernafas di antara ribuan tubuh-tubuh lainnya… Hingga yang lebih tua membisikkan nama kekasih hatinya bagaikan doa dan memecah keheningan di antara mereka berdua.
“Siapa di sana?”
“Ha… Rupanya masih ada yang—“ rupanya masih ada yang hidup selain aku. Si pria tua bertanya-tanya… Apa orang itu juga tengah menanti maut seperti dirinya? Ataukah orang itu masih bisa berdiri tegak dan datang untuk menolongnya… Atau malah menghabisinya? Atau mungkin… Apakah itu suara le Moissonneur—sang malaikat maut—yang datang untuk menjemputnya?
…Apakah malaikat maut berbahasa Jerman?
“…Ha. Bukan siapa-siapa… Hanya seorang tua sekarat yang merindukan rumah…,” ternyata ia masih bisa bicara juga, “…Siapa kau—Qui etes-vous?”
“Rumah… huh? Aku…,” jawab lelaki yang lebih muda, kali ini dalam bahasa Perancis. Suaranya tersendat-sendat, “…Bukan siapa-siapa. Hanya seorang tua sekarat yang menunggu ajal… Tapi nampaknya aku tak setua kau.”
“...Berarti kau masih bocah.”
“Mungkin…”
“Kau... Punya keluarga…, garçon?”
“…Keluarga? Apa artinya keluarga …sekarang?” si pemuda tertawa sinis, “Toh mereka tak akan… mati… bersamaku.”
“Kau tidak ingin… melihat mereka… untuk terakhir kali?”
“…Untuk apa?”
“Pria yang dingin… Kau tidak pernah jatuh cinta?”
“Kalian Französisch… Bila kalian terus-terusan berpikir soal cinta… Begitu kalian membuka mata… Jerman pasti sudah menghabisi kalian…”
“Kalian Allemand… Tanpa cinta terhadap sesuatu untuk diperjuangkan… Bagaimana mungkin kalian… bisa menang?”
“…Mungkin kau benar, Pak Tua,” si pemuda menjawab, “…Aku menikah dua kali, kau tahu? Tapi aku hanya jatuh cinta sekali… Dan semua itu sudah… tamat. Mungkin… karena itu aku… sudah… tidak peduli lagi…”
Terbayang wajah seorang wanita yang tersenyum kepada si lelaki muda… Wajah yang telah lama ia ukir dalam ingatannya. Lalu terbayang ketika wajah itu tertawa ketika meninggalkannya, tawa yang ingin ia enyahkan untuk selamanya…
“Sudah dua kali aku menikah… Tapi hanya sekali aku jatuh cinta…”
Entah kenapa, tiba-tiba ia ingin bercerita. Menceritakan kisah yang telah belasan tahun ia pendam, kenangan manis dan pahit untuk dia nikmati seorang diri. Entah kenapa kini ia ingin berbagi dengan seorang pria tua tak dikenal, musuhnya di medan perang…
“Dia… lebih tua dariku sembilan tahun… Dia… ingin aku melukisnya…”
Lelaki itu masih ingat ketika pertama kali wanita itu mendatangi studionya yang sempit dan berantakan. Ia bahkan masih ingat ketika wanita itu mengeluh tentang bau cat yang membuatnya merasa sesak. Tapi wanita itu tidak berbalik dan meninggalkannya. Wanita itu tinggal, menanggalkan gaunnya dan menunggu hingga ia selesai mengabadikan wujud moleknya.
“…Cinta itu curang. Penipu. Dia… menipuku… Wanita itu…”
Wanita itu tahu kelemahannya, tahu bahwa ia takluk terhadap kelembutannya… Berkali-kali ia meminta agar dilukis ulang oleh pria itu. Berkali-kali pula ia mendatangi studio sempit itu dengan senyum dan janji-janji palsu. Ciuman dan kata-kata cinta bertukar, diselingi bisik-bisik penuh harapan. Hari demi hari si lelaki muda menanti dengan kanvas tergelar dan kuas di tangan. Mahakarya demi mahakarya yang diciptakan dengan penuh perasaan bertambah satu demi satu, semuanya menggambarkan wanita itu… Hingga akhirnya karya yang kesembilan tak pernah rampung…
“…Dia tak pernah datang lagi.”
Lelaki itu bersembunyi dibalik jubah sang malam menuju rumah wanita itu. Dipanjatnya dinding-dinding berbatu hingga ke beranda peraduannya. Wanita itu membuka jendela dan menerima jiwa dan raganya—atau begitulah yang terucap dari bibir ranumnya. Malam demi malam berganti, kini giliran wanita itu yang menanti. Tapi apakah ia benar-benar menanti kedatangan lelaki itu? Kala itu, ia pasti mengiyakan tanpa ragu, tapi kini lelaki itu tahu kebenarannya.
Ada atau tanpa dia, bagi wanita itu tentunya sama saja.
“Lalu… Dia tutup semua jendela dan pintu… Dia tidak peduli bahwa… aku masih di luar… Menunggu…”
Jutaan lagu ia persembahkan kepadanya. Miliaran kali cinta terucap untuknya. Tapi wanita itu hanya tertawa.
“…Ya… Dia hanya tertawa…”
Wanita itu tertawa, menertawakan si pria muda yang mabuk dalam kemudaannya. Wanita itu mengingatkan ‘kekasih’-nya bahwa ia sudah menikah, dan seharusnya ia bisa menyadari bahwa permainan mereka tak akan berlangsung selamanya. Lalu wanita itu berterimakasih atas potret-potret dirinya yang telah memenuhi pundi-pundi suaminya.
Pemuda itu menolak untuk percaya.
“…Wajahnya masih terus terbayang… Hingga lukisan kesembilan pun rampung tanpa perlu kulihat modelnya…”
…Tapi suara tawa itu masih menggema juga. Dan tidak seperti kedelapan lukisan sebelumnya, potret kesembilan itu dipenuhi warna kesedihan dan putus asa.
“Kuantarkan… kepadanya dari… pintu depan. Tapi… pintunya tak pernah… terbuka.”
Pintu itu terbuka, namun akan jauh lebih baik baginya bila pintu itu tidak dibuka sama sekali. Wanita itu keluar bersama lelaki tua bangka yang keriput oleh kekikirannya.
Mereka membukakan pintu hanya untuk menendangnya dan lukisannya ke jalanan.
“…Pauvre garcon—bocah malang,” bisik si lelaki tua penuh simpati, “Lalu… kau menikah dengan orang lain?”
“Yang pertama… hanya lima hari…”
Perempuan itu terlalu cepat mati. Pria muda itu tahu perempuan itu sekarat sejak mereka pertama bertemu, tapi ia tidak menduga bahwa maut datang secepat itu.
…Ketika perempuan itu telah tiada, ia tak merasakan apa-apa. Hanya angin yang dinginnya seolah menggigit luka lama.
“…Yang kedua… Ketika mereka memanggilku… untuk… berperang aku… katakan padanya…”
…Anggap saja aku tak pernah ada.
“Kau tahu, garcon? Dulu… istriku membenciku…”
Mendengar cerita pria muda itu, si lelaki tua teringat akan ceritanya sendiri. Pandangannya makin kabur, namun ia masih bisa melihatnya dengan jelas, persis seperti pada pertemuan pertama… Seorang remaja belia berwajah masam dalam gaun pengantin putih yang diantarkan kepadanya oleh seorang jenderal besar. Yang seperti itu adalah hal yang biasa di kalangan perwira militer, seorang berpangkat tinggi menawarkan anak gadisnya untuk dinikahi perwira yang menurutnya paling menjanjikan. Ketika sang jenderal mendatanginya dengan tawaran itu, ia hanya mengiyakan. Ia bahkan tidak merasa perlu untuk menemui gadis itu sebelum hari yang ditentukan. Ia hanya butuh seseorang yang bisa mengurus rumah dan merawat orangtuanya selama ia bertugas. Siapapun tidak masalah, apalagi putri seorang jenderal…
Ia juga masih bisa mengingat dengan jelas air mata gadis itu ketika mengucapkan sumpah setianya.
“…Ia menangis ketika kupasang cincin di jari manisnya… Dan itu bukan… tangis bahagia…”
Waktu itu ia benar-benar merasa seperti penjahat, tokoh antagonis keji yang merenggut kebebasan seorang gadis tak berdosa. Usia perempuan itu masih belum genap enam belas tahun, masih belum sempat menghirup kebebasan dan melihat dunia luar, namun ia sudah harus terikat pada seorang asing untuk selamanya, dalam suka dan duka, dalam kaya dan miskin, dalam susah maupun senang…
Waktu itu ia pikir semua akan berjalan seolah tak terjadi apa-apa. Ia pasti akan sibuk bertugas dan hampir tidak akan pernah ada di rumah. Gadis itu tetap bisa melanjutkan hidupnya seolah dirinya dan pertalian terkutuk itu tak pernah ada.
“Kupikir semua akan… baik-baik… saja…”
Gadis itu tak pernah mau bicara padanya. Seringkali ia pulang dan menemukan gadis itu menangis di kamarnya, lalu buru-buru menghapus air matanya dan memasang topeng es dengan senyum beku di hadapannya. Gadis itu mencoba terlalu keras untuk menjalankan perannya sebagai pendamping seorang asing berpangkat dan bersenjata, sementara pria itu mencoba terlalu keras untuk membunuh rasa bersalahnya dan menganggap bahwa semua yang terjadi memang sudah sewajarnya.
“Aku tak berani… melihat derita di matanya… Aku tak berani… menyentuhnya…”
“Sudah cukup aku… melihatnya… tersiksa…”
Hingga akhirnya pria itu memutuskan untuk melepaskan gadis itu dan mengakhiri segalanya.
“Kukatakan… kepadanya… sekarang ia bisa… pergi kemanapun yang ia… mau… tanpa perlu memikirkan… aku…”
Ia bisa pergi menghadiri pesta-pesta, berdansa dengan siapapun yang ia suka. Ia bisa pergi mengelilingi dunia, mengunjungi tempat-tempat yang tak pernah ia datangi sebelumnya. Ia bisa melakukan apa saja yang ia mau. Dan di atas segalanya, ia bisa mendapatkan kembali masa mudanya yang telah hilang di tangan pria itu.
“…Lalu dia… menamparku.”
Gadis itu marah. Marah karena pria itu tak kunjung bisa memahami dirinya. Marah karena pria itu tak juga bisa membaca arti dari tangisnya. Marah karena pria itu tak pernah ada untuknya. Marah karena pria itu kini hendak membuangnya begitu saja.
“Dan ia bilang… percuma… kemanapun ia pergi… tanpa… aku…”
Pria itu masih ingat persis kata-katanya… Gadis itu memuntahkan semuanya, semua kata yang tak pernah terucap karena ia menunggu pria itu menemukannya sendiri.
“Katanya dulu memang… ia… menginginkan semua… itu… tapi…”
Tapi kini ia hanya ingin pria itu ada di sisinya.
“…Aku keluar dari pasukan… Pulang ke rumah… Pulang kepadanya…”
Dan itu cukup bagi mereka berdua.
“Aku mulai menulis… Menulis tentang Perancis… Menulis tentang perang… dan… menulis tentang dia…”
“…Très magnifique… ma Josephine…”
“Kau lebih beruntung dariku… Pak Tua…”
“Sampai di tempat ini… Semua sama saja, garcon. Kita sama-sama… akan tamat… di sini.”
Penglihatan si pria tua telah padam sepenuhnya. Bahkan bayang-bayang wajah istri dan anak-anaknya semakin lama semakin mengabur.
“…Au revoir.”
“Lebewohl, Französisch.”
Selamat tinggal.
*Tant mieux = tak apalah
*Mes biyous = My jewel
*garcon = anak muda
*Französisch = orang Perancis
*Allemand = orang Jerman
*Très magnifique… ma Josephine =
She’s magnificent, my Josephine
- Cafe Rusuh
- Grup Cafe Rusuh merupakan suatu ruang lingkup tempat di mana para anggotanya bisa berbagi tentang segala hal. Kata "Rusuh" sendiri merupakan kependekan dari "Ruang suasana hati". Sebagai sebuah grup, Cafe Rusuh menjadi sebuah jembatan di mana persahabatan, kekeluargaan dan silaturahmi antara sesama anggotanya tetap terjaga. Selain itu, Cafe Rusuh juga memberikan kebebasan kepada para anggotanya untuk berbagi tentang segala hal seperti puisi, cerita, esai, tips-tips dan info-info yang bermanfaat bagi para anggotanya.
Rabu, 27 Juli 2011
ACR: Dasawarsa
by 'rea' Harbowoputra
Adalah umum bagi anak-anak untuk tahu bahwa setangkai bunga kemboja bisa berubah. Dengan menyelipkannya ke buku seperti pembatas, dan meninggalkannya untuk waktu yang lama, jika suatu saat buku itu dibuka kembali maka bunga yang tadinya terjebak di antara lembaran kertas akan berusaha keluar secepatnya.
Berusaha keluar, karena bunga tersebut sudah berubah menjadi seekor kupu-kupu.
Namun terkadang buku tersebut dilupakan. Atau, mereka lupa pernah menyelipkan bunga ke dalamnya. Maka kupu-kupu yang terjebak bisa mati, dan mereka akan menganggap hal ini hanya sebatas isapan jempol masa kecil.
“Terus, kamu pikir aku masih percaya. Gitu?”
Pria di sebelah gadis yang bicara tadi hanya tersenyum. Ia menoleh ke si gadis dan berkata, “Kamu memang percaya, kok.”
“Itu sepuluh tahun lalu, Ren. Sekarang aku enggak percaya lagi.”
Ren, si pria, berkacak pinggang setelah kalimat barusan. Ia sedikit menggeleng sambil menahan tawa ketika berkata, “Kamu tuh masih aja, ya, manggil pake nama.”
“Kita kan gak punya hubungan darah. Buat apa aku manggil kamu Ayah?”
Mendengar itu Ren, yang memegang penyembur air untuk paku-pakuan yang ia siram sebelum ini, mengarahkan penyembur ke si gadis. Satu semburan ke dahi berhasil mengagetkan si gadis, satu semburan lagi untuk senang-senang.
“Aku baru mau lari pagi!” dengus si gadis. Ia mengatakan kalimat tadi tanpa membuka rahang. Gemas, itu istilahnya.
“Lari pagi jam delapan,” balas Ren dengan nada tidak percaya. “Kesiangan. Mandi aja sana.”
Dengan kesal, dan sambil mengacak-acak rambutnya yang basah, si gadis kembali ke rumah. Sebuah pembukaan hari yang tidak enak baginya. Ini juga salahnya. Jika ia langsung saja lari tanpa mendengar cerita tersebut pasti keadaannya tidak seperti ini.
“Ai,” sahut Ren dari luar. Si gadis, karena dipanggil, menghentikan langkahnya. “Mandinya jangan…”
“…lama-lama,” sambung Ai sambil lanjut berjalan. Entah sudah berapa kali Ren mengatakan hal tersebut sebelum ia mandi, meski sehabisnya belum tentu kamar mandi dipakai Ren. Mungkin Ren hanya ingin membuatnya jenuh dan kesal. Atau mungkin itu semacam jampi-jampi agar tidak terjadi kecelakaan di kamar mandi, misalnya terpeleset lalu terbentur. Apapun itu tampaknya Ai tidak peduli.
Tak lama, dengan rambut pendeknya yang masih belum kering, Ai duduk di sebelah Ren di depan meja makan. Rupanya sang ayah angkat telah memasak nasi goreng lengkap dengan telur dadar dan ayam iris. Es jeruk terisi di kedua gelas.
“Pasti sengaja,” kata Ai jengkel. “Pasti sengaja bikin nasi goreng pakai telur dadar supaya aku kesal.”
Ren tertawa kecil. “Tadinya mau bikin telur mata sapi.Tapi ah, nanti kamu seneng. Didadar aja.”
Ai singkirkan irisan telur dadar dari nasi goreng di piringnya. Bibirnya tertarik ke samping, memancarkan rona jengkel. “Ini, nih, kenapa aku tadi mau lari pagi ke depan. Nasi uduk di sana lebih mendingan.”
“Terima kasih kembali,” jawab Ren.
Lima belas menit dari pukul setengah sembilan pagi di hari Sabtu mereka habiskan untuk sarapan. Tanpa bicara. Meski Ren selalu terlihat ingin memulai pembicaraan, atau sekedar menambah kekesalan Ai, tetap saja Ai makan dalam diam. Oleh karena itu Ren hanya bisa tersenyum sesekali melihat tingkah Ai yang tak acuh.
“Ren,” panggil Ai setelah mereka selesai sarapan. Di piring Ai masih bersisa irisan-irisan telur dadar, sementara di piring Ren—Ai menahan napas sejenak—bersih seperti baru dicuci.
Jeda yang panjang membuat Ren berkata, “Iya. Ada apa?”
Ai mengerjapkan mata, seolah-olah baru sadar dari sesuatu. “Oh. Itu. Jam sebelasan Yun mau ke sini.”
“Yun yang cantik itu?”
Dipicingkan mata Ai untuk memandang Ren. Mulutnya juga mengatup. Mungkin Ai tidak menyangka ayah angkatnya masih punya keranjang untuk mata. “Kamu udah nikah, Ren.”
“Iya. Dan kalau-kalau kamu lupa, aku menikah dengan ibumu. Makanya seharusnya aku dipanggil Ayah,” balas Ren sebelum ia teguk habis es jeruknya. Terdengar desahan napas Ai, seakan-akan berkata bahwa Ai telah bosan dengan kalimat barusan. Sesaat kemudian giliran Ren yang memicingkan mata ke Ai. “Memangnya kenapa, sih, kamu enggak mau?”
“Udah berapa kali kubilang: kamu bukan ayah kandungku.”
“Masa cuma karena itu?” balas Ren lagi, kali ini dengan sorot mata tidak percaya.
Tanpa peduli pertanyaan barusan, Ai beranjak. “Udah ah, enggak penting. Yang penting tuh nanti jam sebelasan Yun mau ke sini. Awas ya, jangan macam-macam dengan Yun. Nanti aku laporin ke Bunda,” katanya sambil menodong dengan telunjuk. Kedua tangan Ren terangkat berkat itu, dan tetap terangkat sementara Ai berjalan ke kamar.
Di pagi tanpa hujan ini keadaan rumah menjadi sepi. Atau setidaknya, sepi oleh kegiatan. Jika berbicara mengenai suara, rumah ini tidak sepi. Ren sedang menonton bincang-bincang di televisi sambil mengemil kacang Bogor. Suara retakan kacang di geliginya dan celoteh orang dalam layar pipih tidak bisa dianggap sepi. Ditambah lagi suara-suara dari kamar Ai. Pastinya Ai sedang menyetel lagu, meski tidak terlalu membahana karena kamarnya ditutup rapat.
Rumah itu sepi penghuni. Dua dari biasanya tiga.
Ren mendengar namanya dipanggil. Sambil mengunyah kacang ia menoleh ke satu-satunya sumber suara yang masuk akal. Kamar Ai.
Di ambang pintu kamar Ai menyandarkan sebelah tubuh. Sejurus kemudian pandangannya bertemu mata Ren. “Yun enggak jadi datang,” katanya pelan dengan nada kecewa. “Nanti jam tigaan antar aku ke Kelapa Gading, ya,” imbuhnya.
“Kenapa enggak bawa mobil sendiri aja?”
“Aku belum punya SIM,” jawab Ai tanpa membuka rahang. “Kan kamu yang enggak bolehin aku nembak SIM.”
Ren mengangguk sebentar. “Kenapa enggak minta antar sama pacarmu aja?” kali ini ada sedikit cengiran setelah bertanya.
“Aku belum punya pacar!” hardik Ai tanpa membuka rahang. Bahkan tampaknya ia menekan rahangnya agar tetap mengatup.
Tawa kecil Ren membuat wajah Ai semakin jutek. “Makanya, belajar marketing lah sama ayah-angkatmu ini,” kata Ren sambil menepuk dadanya sendiri.
Ai terlihat sangat tidak suka melihat ayah-angkatnya membangga-banggakan pekerjaannya. Bukan hanya itu. “Senang ya bikin aku kesal? Enggak bisa, gitu, bilang iya aja dari awal?” jelasnya. Ia mengatakan kalimat barusan sambil melangkah mendekat ke sofa tempat Ren duduk. Dua langkah dari sofa Ai berhenti. “Begini,” katanya memulai. Matanya memicing. “Satu, aku bukan barang,” katanya sambil jarinya membuat isyarat angka satu. “Jangan bilang bahwa aku belum punya pacar karena kurang marketing. Dua”—sekarang angka dua di jarinya—“kalau kamu memang mau jadi ayahku, antar aku pergi.”
“Tiga,” sambung Ren. Jarinya membentuk isyarat angka tiga. “Kamu tambah cantik kalau marah.”
Berhasillah Ren membuat Ai kesal setengah mati. Di perjalanan menuju Kelapa Gading, di mobil, Ai hanya diam menatap kaca samping. Terus diam demi diam demi diam menghias udara mobil.
“Kenapa Yun enggak jadi datang?” suara Ren berusaha menembus kabut. Ia melirik sekali ke arah Ai, namun Ai masih menatap jalanan.
“Tauk.”
“Jadinya dia suruh kumpul di KG langsung?”
“Iya.”
“Mau ngapain di sana?”
“Enggak.”
Tebalnya kabut membuat suara Ren tidak bisa mengoyak pertahanan Ai. Sungguh kuat. Mungkin karena tadi di rumah Ai sudah mengeluarkan semua panas, oleh karena itu sekarang yang tersisa hanya dinginnya. Dan berarti ini harus dicairkan dulu.
“Kamu suka es krim?” tanya Ren tanpa alasan. Sungguh di luar adegan. Mungkin inilah awal dari jurus pemecah es.
“Suka,” jawab Ai singkat. Matanya masih menatap kaca samping.
“Ayah juga suka,” balas Ren. Kini ia mendapatkan pandangan Ai, karena mungkin Ai merasa bahwa ayah-angkatnya ini kurang kerjaan dengan bertanya hal tidak penting atau kehabisan bahan obrolan. “Soalnya,” lanjut Ren, “es krim itu dingin. Manis. Seperti kamu.”
Melongolah Ai, tak percaya atas apa yang baru didengarnya. Terlebih, tak percaya atas siapa yang barusan bicara. “Dan Bunda jatuh cinta dengan pria segombal ini,” katanya kemudian.
Namun Ren berhasil membuat Ai tertawa kecil.
Mereka sekarang sudah keluar jalan tol. Kabut di udara mobil sudah terangkat. Ai kini tidak sedingin tadi meski hanya bicara jika ada hal yang bisa diomongi, seperti spanduk aneh dan ulah pengendara sepeda motor. Malah kini Ren yang bicara singkat-singkat.
“Lah, kunci rumah cuma bawa satu?” kata Ai sambil menjunjung seikat kunci. Masih lampu merah, jadi Ren menengok ke arahnya. Ai berkata lagi, “Pasti sengaja deh, supaya aku enggak bisa pulang sendiri. Supaya kamu nemenin aku di mal, berlagak seperti ‘ayah sejati’.”
“Jangan kegeeran ya,” balas Ren yang juga membalas tatapan-penuh-curiga Ai. “Udah deh. Ambil tuh kunci depan. Ayah masuk lewat pintu samping juga bisa, kok.”
Dengan berbekal kunci pintu depan, Ai diturunkan di lobi mal. Ia melambai ketika mobil ayah-angkatnya itu beranjak pulang. Pukul empat-kurang ia sampai di sana, namun, rupanya, pukul setengah lima sore ia sudah berada di mobil ayah-angkatnya lagi. Sudah melesat pulang lagi. Entah acaranya sangat cepat atau apa, Ren tidak tahu.
“…atau acaranya enggak jadi?” sambung Ren atas pertanyaannya yang pertama. Ia bertanya tanpa menoleh; matanya terpusat pada jalan tol.
“Enggak jadi,” jawab Ai singkat. Kabut.
Barulah Ren melirik sejenak ke Ai. Tampak bahwa Ai menatap kosong ke depan. Ren melirik lagi dan berkata, “Memangnya acara apa, sih?”
“Ulang tahun.”
Mata Ren pun agak melotot. Mulutnya terbuka sedikit. “Astaga,” katanya. “Astaga, hari ini kamu ulang tahun ketujuh-belas ya?”
“Makasih atas kelupaannya.”
Jari Ren mengetuk-ngetuk setir dengan gugup. Pasti ini penyebab mengapa Ai ketus padanya dari pagi tadi. Dengan agak terbata-bata Ren berkata, “Selamat ulang tahun, Airin.”
“Makasih, Ren. Enggak berubah, ya, dari sepuluh tahun yang lalu.”
Kabut di mobil semakin menebal. Ren benar-benar tidak tahu bagaimana cara menembusnya. Maka sepanjang sisa perjalanan yang terdengar hanyalah lagu dan celoteh ringan dari radio.
Mereka pun sampai di rumah. Ai sudah turun dan membukakan pagar, lalu dengan kunci yang ia pegang ia bergegas ke pintu depan sementara Ren memarkir mobil.
“Ren!” panggil Ai tepat setelah bunyi alarm tanda mobil sudah terkunci. “Kuncinya enggak bisa buka.Stuck.”
“Masa sih?” balas Ren sambil mengeluarkan ikatan kunci lainnya. Ia membandingkan kunci yang Ai pegang dengan kunci-kunci lainnya. “Yang kamu pegang memang kunci depan, kok.”
“Iya, tapi enggak bisa buka. Tuh, aku enggak bisa muterin kuncinya. Enggak mungkin, kan, kunci yang satu lagi masih menancap di dalam?”
Ren berkacak pinggang. “Mungkin aja. Tapi enggak sih, enggak mungkin. Ya sudah, kita lewat pintu samping.”
Baru mereka mau melangkah dari teras depan, terdengar bunyi dari pintu. Bunyi rendah, namun tajam. Bunyi logam beradu logam. Ai dan Ren bertukar pandang. Mulut mereka mengatup. Ren mengisyaratkan agar Ai diam, siapa tahu saja mereka salah dengar atau apa.
Tapi bunyi itu datang sekali lagi. Logam beradu logam. Bunyi itu sangat pasti datang dari pintu depan. “Seperti kunci pintu yang baru dibuka,” bisik Ren kepada Ai. “Dari dalam.”
Ai berjalan menuju pintu tersebut, mengabaikan bisikan Ren untuk tetap menunggu sejenak. Tangannya kini sudah menggenggam gagang pintu dengan mantap. Ai tidak menoleh ke arah Ren saat ia putar gagang pintu.
Mendadak puluhan, mungkin ratusan, balon warna-warni menghambur keluar dari dalam rumah. Diiringi dengan hujan confetti dan teriakan riuh tinggi. Apa yang bisa terdengar dengan jelas adalah sebuah teriakan ramai dari dalam, berbunyi, “Dirgahayu Airin!”
Lampu rumah langsung menyala semua. Musik ceria menghentak-hentak seisi rumah. Ai melihat semua teman yang ia kenal—mungkin tidak semua, rumahnya tidak akan muat—berjingkrak-jingkrak sambil melempar-lempar ratusan balon ke arahnya. Akhirnya Ai melepaskan teriakan kekagetannya.
“Yun! Mana Yun!?”
Tenggelam dalam musik dan seruan ribut, sosok Yun datang menghampiri Ai dan memeluknya setelah melompat. “Dirgahayu, Cantik!” katanya. Yun menampilkan cengiran lebar sampai mirip seringai.
“Kamu ngeselin, Yun. Ngeselin! Aku udah enggak ngapa-ngapain dari pagi nunggu kamu datang, udah jauh-jauh ke KG, balik lagi ke sini sampe kena macet. Ah!”
“Jangan marah ke aku,” jawab Yun, masih teriak karena ramainya suasana. “Marahin tuh ayahmu! Ini semua gara-gara dia.”
Ai terdiam. Ia memandang ke ayah-angkatnya, ke ayahnya, yang terlihat sedang meledakkan kaleng soda bersama cowok-cowok. Diamnya Ai hanya sebentar, karena teman-temannya yang lain langsung merubunginya setelah Yun.
“Teman-teman,” suara Ren membuat seisi rumah hening. Musik sudah dimatikan, meski balon masih melayang-layang. Ren terlihat menggenggam ponselnya. Ia menyodorkan ponsel ke Ai sambil berkata, “Incoming call dari bundanya Ai!”
Semua tepuk tangan sambil sesekali ada yang bersiul. Ai mengambil ponsel Ren dan baru saja mau menaruhnya di telinga ketika ada suara cowok yang menyuruhnya menyalakan loudspeaker.
“Airin! Selamat ulang tahun ketujuh-belas, ya, Sayang,” sahut Bunda lewat ponsel. Lalu terdengar bunyi kecupan dari Bunda sementara Ai membalas ucapan selamatnya. Setelah mengucapkan sedikit doa Bunda melanjutkan, “Gimana, tuh, hasil rencana Ayah? Dia berhasil bikin kamu kesal seharian ini kan?”
Ai senyum tersipu setelah menjawab pertanyaan Bunda sekedarnya. Ia melihat ke arah Ren, yang sedang menguap seakan-akan tak peduli. Bunda menambahkan beberapa doa lagi sebelum akhirnya mengakhiri panggilan dari luar negeri, berkata bahwa ia akan membawa sepatu untuk Ai sepulangnya nanti pekan depan.
“Kenapa pada bengong?” Ren memecah keheningan usai panggilan dari Bunda. “Yun, kuenya!”
Atas perintah Ren, Ai dilarang memotong kue. Ia disuruh menggigit kue setelah meniup lilin. Noda krim di hidung, bibir dan dagunya, sesuai petunjuk Ren, akan dipersilakan kepada seseorang untuk dihapus. Sebagai pengganti “potongan kue pertama”, jelas Ren.
Kira-kira tiga jam lebih acara ini berlangsung. Pukul setengah satu malam semua teman-teman Ai sudah pulang. Beberapa, seperti Yun, membantu Ai dan Ren membereskan keadaan rumah yang mirip kapal karam. Barulah pada pukul satu seperempat semua selesai.
Ren bersandar kelelahan pada sofa depan televisi sementara Ai duduk di sebelahnya, masih senyum-senyum sendiri setelah pesta barusan. Ai menatap ke tumpukan kado yang baru selesai dibuka beberapa saat yang lalu. Ren, yang menyadari pandangan Ai, berkata, “Masih kurang?”
Apa yang Ai tangkap bukanlah pertanyaan biasa. Seakan-akan Ren berkata bahwa ia meminta maaf karena tidak memberi kado. “Pesta ini, kan, udah aku anggap kado dari Ayah.”
Ren mendelik sebentar. Ia berusaha tenang meski seharusnya sudah berjingkrak karena Ai, akhirnya, memanggilnya dengan sebutan Ayah. “Jadi, uh, Ayah memang lupa kalau kamu hari ini—kemarin—ulang tahun,” katanya, sebelum menambahkan, “ya kemarin. Sekarang, kan, udah lewat jam dua belas.”
Ai tertawa mendengar sindiran Ren.
“Tapi,” lanjut Ren, “bicara tentang kado, Ayah juga punya kado untukmu.”
Ren rupanya sudah menyiapkan sebuah buku di sampingnya. Ia sodorkan buku tebal tersebut kepada Ai. Ai lihat sampulnya dan judulnya, lalu berkata, “Australasia. Ini semacam buku pengetahuan alam, kan? Dan, uh, apa yang harusnya bikin aku senang karena dikasih buku ini?”
“Buka aja lah,” jawab Ren sekenanya. Ia telah bersandar dan memejamkan mata.
Sebelum membuka, Ai mengingat-ingat apakah ia pernah memegang buku ini. Dan benar saja, buku ini membawanya ke ingatan sepuluh tahun yang lalu. Sepuluh tahun yang lalu, ketika Ai diceritakan mitos bunga oleh Ren seperti tadi pagi. Ai ingat bahwa dulu ia menyelipkan bunga kemboja ke buku ini, berharap suatu saat berubah menjadi kupu-kupu. Dengan cepat ia membolak-balik halaman, mencari bunga tersebut. Tetapi tidak ditemukan. Bunga itu tidak bisa ia temukan.
Apa yang Ai temukan adalah bangkai kupu-kupu yang mati terhimpit.
“Ayah kejam ih, kupu-kupu dibunuh cuma supaya aku percaya sama cerita itu.”
“Ya ini salahmu, lah, kenapa bukunya dibiarin aja selama sepuluh tahun,” jawab Ren sebelum memejamkan mata kembali.
Meski pikirannya yakin bahwa Ren memang dengan sengaja menukar bunga yang terselip dengan kupu-kupu, Ai mengesampingkan teori itu. Ia memilih untuk percaya bahwa bunga kemboja tersebut memang berubah, dan karena telat membebaskan kupu-kupu dari himpitan buku, yang tersisa hanyalah bangkai.
“Terima kasih, Ayah,” katanya pelan.
Ren bangun, dan melirik ke arah Ai. Ia berkata, “Terima kasih? Cuma terima kasih? Enggak. Enggak cukup,” lalu mengetukkan telunjuknya ke pipi kanannya sendiri. “Enggak cukup sebelum ini,” lanjutnya.
Menyadari bahwa Ren meminta kecupan, Ai berdiri dan memasang wajah jijik. “I hate you.”
“I love you too,” balas Ren sebelum ia bersandar dan memejamkan mata lagi. Namun, tanpa disangka, ia merasakan tarikan napas dan sentuhan di pipi kanannya. Singkat.
Berusaha keluar, karena bunga tersebut sudah berubah menjadi seekor kupu-kupu.
Namun terkadang buku tersebut dilupakan. Atau, mereka lupa pernah menyelipkan bunga ke dalamnya. Maka kupu-kupu yang terjebak bisa mati, dan mereka akan menganggap hal ini hanya sebatas isapan jempol masa kecil.
“Terus, kamu pikir aku masih percaya. Gitu?”
Pria di sebelah gadis yang bicara tadi hanya tersenyum. Ia menoleh ke si gadis dan berkata, “Kamu memang percaya, kok.”
“Itu sepuluh tahun lalu, Ren. Sekarang aku enggak percaya lagi.”
Ren, si pria, berkacak pinggang setelah kalimat barusan. Ia sedikit menggeleng sambil menahan tawa ketika berkata, “Kamu tuh masih aja, ya, manggil pake nama.”
“Kita kan gak punya hubungan darah. Buat apa aku manggil kamu Ayah?”
Mendengar itu Ren, yang memegang penyembur air untuk paku-pakuan yang ia siram sebelum ini, mengarahkan penyembur ke si gadis. Satu semburan ke dahi berhasil mengagetkan si gadis, satu semburan lagi untuk senang-senang.
“Aku baru mau lari pagi!” dengus si gadis. Ia mengatakan kalimat tadi tanpa membuka rahang. Gemas, itu istilahnya.
“Lari pagi jam delapan,” balas Ren dengan nada tidak percaya. “Kesiangan. Mandi aja sana.”
Dengan kesal, dan sambil mengacak-acak rambutnya yang basah, si gadis kembali ke rumah. Sebuah pembukaan hari yang tidak enak baginya. Ini juga salahnya. Jika ia langsung saja lari tanpa mendengar cerita tersebut pasti keadaannya tidak seperti ini.
“Ai,” sahut Ren dari luar. Si gadis, karena dipanggil, menghentikan langkahnya. “Mandinya jangan…”
“…lama-lama,” sambung Ai sambil lanjut berjalan. Entah sudah berapa kali Ren mengatakan hal tersebut sebelum ia mandi, meski sehabisnya belum tentu kamar mandi dipakai Ren. Mungkin Ren hanya ingin membuatnya jenuh dan kesal. Atau mungkin itu semacam jampi-jampi agar tidak terjadi kecelakaan di kamar mandi, misalnya terpeleset lalu terbentur. Apapun itu tampaknya Ai tidak peduli.
Tak lama, dengan rambut pendeknya yang masih belum kering, Ai duduk di sebelah Ren di depan meja makan. Rupanya sang ayah angkat telah memasak nasi goreng lengkap dengan telur dadar dan ayam iris. Es jeruk terisi di kedua gelas.
“Pasti sengaja,” kata Ai jengkel. “Pasti sengaja bikin nasi goreng pakai telur dadar supaya aku kesal.”
Ren tertawa kecil. “Tadinya mau bikin telur mata sapi.Tapi ah, nanti kamu seneng. Didadar aja.”
Ai singkirkan irisan telur dadar dari nasi goreng di piringnya. Bibirnya tertarik ke samping, memancarkan rona jengkel. “Ini, nih, kenapa aku tadi mau lari pagi ke depan. Nasi uduk di sana lebih mendingan.”
“Terima kasih kembali,” jawab Ren.
Lima belas menit dari pukul setengah sembilan pagi di hari Sabtu mereka habiskan untuk sarapan. Tanpa bicara. Meski Ren selalu terlihat ingin memulai pembicaraan, atau sekedar menambah kekesalan Ai, tetap saja Ai makan dalam diam. Oleh karena itu Ren hanya bisa tersenyum sesekali melihat tingkah Ai yang tak acuh.
“Ren,” panggil Ai setelah mereka selesai sarapan. Di piring Ai masih bersisa irisan-irisan telur dadar, sementara di piring Ren—Ai menahan napas sejenak—bersih seperti baru dicuci.
Jeda yang panjang membuat Ren berkata, “Iya. Ada apa?”
Ai mengerjapkan mata, seolah-olah baru sadar dari sesuatu. “Oh. Itu. Jam sebelasan Yun mau ke sini.”
“Yun yang cantik itu?”
Dipicingkan mata Ai untuk memandang Ren. Mulutnya juga mengatup. Mungkin Ai tidak menyangka ayah angkatnya masih punya keranjang untuk mata. “Kamu udah nikah, Ren.”
“Iya. Dan kalau-kalau kamu lupa, aku menikah dengan ibumu. Makanya seharusnya aku dipanggil Ayah,” balas Ren sebelum ia teguk habis es jeruknya. Terdengar desahan napas Ai, seakan-akan berkata bahwa Ai telah bosan dengan kalimat barusan. Sesaat kemudian giliran Ren yang memicingkan mata ke Ai. “Memangnya kenapa, sih, kamu enggak mau?”
“Udah berapa kali kubilang: kamu bukan ayah kandungku.”
“Masa cuma karena itu?” balas Ren lagi, kali ini dengan sorot mata tidak percaya.
Tanpa peduli pertanyaan barusan, Ai beranjak. “Udah ah, enggak penting. Yang penting tuh nanti jam sebelasan Yun mau ke sini. Awas ya, jangan macam-macam dengan Yun. Nanti aku laporin ke Bunda,” katanya sambil menodong dengan telunjuk. Kedua tangan Ren terangkat berkat itu, dan tetap terangkat sementara Ai berjalan ke kamar.
Di pagi tanpa hujan ini keadaan rumah menjadi sepi. Atau setidaknya, sepi oleh kegiatan. Jika berbicara mengenai suara, rumah ini tidak sepi. Ren sedang menonton bincang-bincang di televisi sambil mengemil kacang Bogor. Suara retakan kacang di geliginya dan celoteh orang dalam layar pipih tidak bisa dianggap sepi. Ditambah lagi suara-suara dari kamar Ai. Pastinya Ai sedang menyetel lagu, meski tidak terlalu membahana karena kamarnya ditutup rapat.
Rumah itu sepi penghuni. Dua dari biasanya tiga.
Ren mendengar namanya dipanggil. Sambil mengunyah kacang ia menoleh ke satu-satunya sumber suara yang masuk akal. Kamar Ai.
Di ambang pintu kamar Ai menyandarkan sebelah tubuh. Sejurus kemudian pandangannya bertemu mata Ren. “Yun enggak jadi datang,” katanya pelan dengan nada kecewa. “Nanti jam tigaan antar aku ke Kelapa Gading, ya,” imbuhnya.
“Kenapa enggak bawa mobil sendiri aja?”
“Aku belum punya SIM,” jawab Ai tanpa membuka rahang. “Kan kamu yang enggak bolehin aku nembak SIM.”
Ren mengangguk sebentar. “Kenapa enggak minta antar sama pacarmu aja?” kali ini ada sedikit cengiran setelah bertanya.
“Aku belum punya pacar!” hardik Ai tanpa membuka rahang. Bahkan tampaknya ia menekan rahangnya agar tetap mengatup.
Tawa kecil Ren membuat wajah Ai semakin jutek. “Makanya, belajar marketing lah sama ayah-angkatmu ini,” kata Ren sambil menepuk dadanya sendiri.
Ai terlihat sangat tidak suka melihat ayah-angkatnya membangga-banggakan pekerjaannya. Bukan hanya itu. “Senang ya bikin aku kesal? Enggak bisa, gitu, bilang iya aja dari awal?” jelasnya. Ia mengatakan kalimat barusan sambil melangkah mendekat ke sofa tempat Ren duduk. Dua langkah dari sofa Ai berhenti. “Begini,” katanya memulai. Matanya memicing. “Satu, aku bukan barang,” katanya sambil jarinya membuat isyarat angka satu. “Jangan bilang bahwa aku belum punya pacar karena kurang marketing. Dua”—sekarang angka dua di jarinya—“kalau kamu memang mau jadi ayahku, antar aku pergi.”
“Tiga,” sambung Ren. Jarinya membentuk isyarat angka tiga. “Kamu tambah cantik kalau marah.”
Berhasillah Ren membuat Ai kesal setengah mati. Di perjalanan menuju Kelapa Gading, di mobil, Ai hanya diam menatap kaca samping. Terus diam demi diam demi diam menghias udara mobil.
“Kenapa Yun enggak jadi datang?” suara Ren berusaha menembus kabut. Ia melirik sekali ke arah Ai, namun Ai masih menatap jalanan.
“Tauk.”
“Jadinya dia suruh kumpul di KG langsung?”
“Iya.”
“Mau ngapain di sana?”
“Enggak.”
Tebalnya kabut membuat suara Ren tidak bisa mengoyak pertahanan Ai. Sungguh kuat. Mungkin karena tadi di rumah Ai sudah mengeluarkan semua panas, oleh karena itu sekarang yang tersisa hanya dinginnya. Dan berarti ini harus dicairkan dulu.
“Kamu suka es krim?” tanya Ren tanpa alasan. Sungguh di luar adegan. Mungkin inilah awal dari jurus pemecah es.
“Suka,” jawab Ai singkat. Matanya masih menatap kaca samping.
“Ayah juga suka,” balas Ren. Kini ia mendapatkan pandangan Ai, karena mungkin Ai merasa bahwa ayah-angkatnya ini kurang kerjaan dengan bertanya hal tidak penting atau kehabisan bahan obrolan. “Soalnya,” lanjut Ren, “es krim itu dingin. Manis. Seperti kamu.”
Melongolah Ai, tak percaya atas apa yang baru didengarnya. Terlebih, tak percaya atas siapa yang barusan bicara. “Dan Bunda jatuh cinta dengan pria segombal ini,” katanya kemudian.
Namun Ren berhasil membuat Ai tertawa kecil.
Mereka sekarang sudah keluar jalan tol. Kabut di udara mobil sudah terangkat. Ai kini tidak sedingin tadi meski hanya bicara jika ada hal yang bisa diomongi, seperti spanduk aneh dan ulah pengendara sepeda motor. Malah kini Ren yang bicara singkat-singkat.
“Lah, kunci rumah cuma bawa satu?” kata Ai sambil menjunjung seikat kunci. Masih lampu merah, jadi Ren menengok ke arahnya. Ai berkata lagi, “Pasti sengaja deh, supaya aku enggak bisa pulang sendiri. Supaya kamu nemenin aku di mal, berlagak seperti ‘ayah sejati’.”
“Jangan kegeeran ya,” balas Ren yang juga membalas tatapan-penuh-curiga Ai. “Udah deh. Ambil tuh kunci depan. Ayah masuk lewat pintu samping juga bisa, kok.”
Dengan berbekal kunci pintu depan, Ai diturunkan di lobi mal. Ia melambai ketika mobil ayah-angkatnya itu beranjak pulang. Pukul empat-kurang ia sampai di sana, namun, rupanya, pukul setengah lima sore ia sudah berada di mobil ayah-angkatnya lagi. Sudah melesat pulang lagi. Entah acaranya sangat cepat atau apa, Ren tidak tahu.
“…atau acaranya enggak jadi?” sambung Ren atas pertanyaannya yang pertama. Ia bertanya tanpa menoleh; matanya terpusat pada jalan tol.
“Enggak jadi,” jawab Ai singkat. Kabut.
Barulah Ren melirik sejenak ke Ai. Tampak bahwa Ai menatap kosong ke depan. Ren melirik lagi dan berkata, “Memangnya acara apa, sih?”
“Ulang tahun.”
Mata Ren pun agak melotot. Mulutnya terbuka sedikit. “Astaga,” katanya. “Astaga, hari ini kamu ulang tahun ketujuh-belas ya?”
“Makasih atas kelupaannya.”
Jari Ren mengetuk-ngetuk setir dengan gugup. Pasti ini penyebab mengapa Ai ketus padanya dari pagi tadi. Dengan agak terbata-bata Ren berkata, “Selamat ulang tahun, Airin.”
“Makasih, Ren. Enggak berubah, ya, dari sepuluh tahun yang lalu.”
Kabut di mobil semakin menebal. Ren benar-benar tidak tahu bagaimana cara menembusnya. Maka sepanjang sisa perjalanan yang terdengar hanyalah lagu dan celoteh ringan dari radio.
Mereka pun sampai di rumah. Ai sudah turun dan membukakan pagar, lalu dengan kunci yang ia pegang ia bergegas ke pintu depan sementara Ren memarkir mobil.
“Ren!” panggil Ai tepat setelah bunyi alarm tanda mobil sudah terkunci. “Kuncinya enggak bisa buka.Stuck.”
“Masa sih?” balas Ren sambil mengeluarkan ikatan kunci lainnya. Ia membandingkan kunci yang Ai pegang dengan kunci-kunci lainnya. “Yang kamu pegang memang kunci depan, kok.”
“Iya, tapi enggak bisa buka. Tuh, aku enggak bisa muterin kuncinya. Enggak mungkin, kan, kunci yang satu lagi masih menancap di dalam?”
Ren berkacak pinggang. “Mungkin aja. Tapi enggak sih, enggak mungkin. Ya sudah, kita lewat pintu samping.”
Baru mereka mau melangkah dari teras depan, terdengar bunyi dari pintu. Bunyi rendah, namun tajam. Bunyi logam beradu logam. Ai dan Ren bertukar pandang. Mulut mereka mengatup. Ren mengisyaratkan agar Ai diam, siapa tahu saja mereka salah dengar atau apa.
Tapi bunyi itu datang sekali lagi. Logam beradu logam. Bunyi itu sangat pasti datang dari pintu depan. “Seperti kunci pintu yang baru dibuka,” bisik Ren kepada Ai. “Dari dalam.”
Ai berjalan menuju pintu tersebut, mengabaikan bisikan Ren untuk tetap menunggu sejenak. Tangannya kini sudah menggenggam gagang pintu dengan mantap. Ai tidak menoleh ke arah Ren saat ia putar gagang pintu.
Mendadak puluhan, mungkin ratusan, balon warna-warni menghambur keluar dari dalam rumah. Diiringi dengan hujan confetti dan teriakan riuh tinggi. Apa yang bisa terdengar dengan jelas adalah sebuah teriakan ramai dari dalam, berbunyi, “Dirgahayu Airin!”
Lampu rumah langsung menyala semua. Musik ceria menghentak-hentak seisi rumah. Ai melihat semua teman yang ia kenal—mungkin tidak semua, rumahnya tidak akan muat—berjingkrak-jingkrak sambil melempar-lempar ratusan balon ke arahnya. Akhirnya Ai melepaskan teriakan kekagetannya.
“Yun! Mana Yun!?”
Tenggelam dalam musik dan seruan ribut, sosok Yun datang menghampiri Ai dan memeluknya setelah melompat. “Dirgahayu, Cantik!” katanya. Yun menampilkan cengiran lebar sampai mirip seringai.
“Kamu ngeselin, Yun. Ngeselin! Aku udah enggak ngapa-ngapain dari pagi nunggu kamu datang, udah jauh-jauh ke KG, balik lagi ke sini sampe kena macet. Ah!”
“Jangan marah ke aku,” jawab Yun, masih teriak karena ramainya suasana. “Marahin tuh ayahmu! Ini semua gara-gara dia.”
Ai terdiam. Ia memandang ke ayah-angkatnya, ke ayahnya, yang terlihat sedang meledakkan kaleng soda bersama cowok-cowok. Diamnya Ai hanya sebentar, karena teman-temannya yang lain langsung merubunginya setelah Yun.
“Teman-teman,” suara Ren membuat seisi rumah hening. Musik sudah dimatikan, meski balon masih melayang-layang. Ren terlihat menggenggam ponselnya. Ia menyodorkan ponsel ke Ai sambil berkata, “Incoming call dari bundanya Ai!”
Semua tepuk tangan sambil sesekali ada yang bersiul. Ai mengambil ponsel Ren dan baru saja mau menaruhnya di telinga ketika ada suara cowok yang menyuruhnya menyalakan loudspeaker.
“Airin! Selamat ulang tahun ketujuh-belas, ya, Sayang,” sahut Bunda lewat ponsel. Lalu terdengar bunyi kecupan dari Bunda sementara Ai membalas ucapan selamatnya. Setelah mengucapkan sedikit doa Bunda melanjutkan, “Gimana, tuh, hasil rencana Ayah? Dia berhasil bikin kamu kesal seharian ini kan?”
Ai senyum tersipu setelah menjawab pertanyaan Bunda sekedarnya. Ia melihat ke arah Ren, yang sedang menguap seakan-akan tak peduli. Bunda menambahkan beberapa doa lagi sebelum akhirnya mengakhiri panggilan dari luar negeri, berkata bahwa ia akan membawa sepatu untuk Ai sepulangnya nanti pekan depan.
“Kenapa pada bengong?” Ren memecah keheningan usai panggilan dari Bunda. “Yun, kuenya!”
Atas perintah Ren, Ai dilarang memotong kue. Ia disuruh menggigit kue setelah meniup lilin. Noda krim di hidung, bibir dan dagunya, sesuai petunjuk Ren, akan dipersilakan kepada seseorang untuk dihapus. Sebagai pengganti “potongan kue pertama”, jelas Ren.
Kira-kira tiga jam lebih acara ini berlangsung. Pukul setengah satu malam semua teman-teman Ai sudah pulang. Beberapa, seperti Yun, membantu Ai dan Ren membereskan keadaan rumah yang mirip kapal karam. Barulah pada pukul satu seperempat semua selesai.
Ren bersandar kelelahan pada sofa depan televisi sementara Ai duduk di sebelahnya, masih senyum-senyum sendiri setelah pesta barusan. Ai menatap ke tumpukan kado yang baru selesai dibuka beberapa saat yang lalu. Ren, yang menyadari pandangan Ai, berkata, “Masih kurang?”
Apa yang Ai tangkap bukanlah pertanyaan biasa. Seakan-akan Ren berkata bahwa ia meminta maaf karena tidak memberi kado. “Pesta ini, kan, udah aku anggap kado dari Ayah.”
Ren mendelik sebentar. Ia berusaha tenang meski seharusnya sudah berjingkrak karena Ai, akhirnya, memanggilnya dengan sebutan Ayah. “Jadi, uh, Ayah memang lupa kalau kamu hari ini—kemarin—ulang tahun,” katanya, sebelum menambahkan, “ya kemarin. Sekarang, kan, udah lewat jam dua belas.”
Ai tertawa mendengar sindiran Ren.
“Tapi,” lanjut Ren, “bicara tentang kado, Ayah juga punya kado untukmu.”
Ren rupanya sudah menyiapkan sebuah buku di sampingnya. Ia sodorkan buku tebal tersebut kepada Ai. Ai lihat sampulnya dan judulnya, lalu berkata, “Australasia. Ini semacam buku pengetahuan alam, kan? Dan, uh, apa yang harusnya bikin aku senang karena dikasih buku ini?”
“Buka aja lah,” jawab Ren sekenanya. Ia telah bersandar dan memejamkan mata.
Sebelum membuka, Ai mengingat-ingat apakah ia pernah memegang buku ini. Dan benar saja, buku ini membawanya ke ingatan sepuluh tahun yang lalu. Sepuluh tahun yang lalu, ketika Ai diceritakan mitos bunga oleh Ren seperti tadi pagi. Ai ingat bahwa dulu ia menyelipkan bunga kemboja ke buku ini, berharap suatu saat berubah menjadi kupu-kupu. Dengan cepat ia membolak-balik halaman, mencari bunga tersebut. Tetapi tidak ditemukan. Bunga itu tidak bisa ia temukan.
Apa yang Ai temukan adalah bangkai kupu-kupu yang mati terhimpit.
“Ayah kejam ih, kupu-kupu dibunuh cuma supaya aku percaya sama cerita itu.”
“Ya ini salahmu, lah, kenapa bukunya dibiarin aja selama sepuluh tahun,” jawab Ren sebelum memejamkan mata kembali.
Meski pikirannya yakin bahwa Ren memang dengan sengaja menukar bunga yang terselip dengan kupu-kupu, Ai mengesampingkan teori itu. Ia memilih untuk percaya bahwa bunga kemboja tersebut memang berubah, dan karena telat membebaskan kupu-kupu dari himpitan buku, yang tersisa hanyalah bangkai.
“Terima kasih, Ayah,” katanya pelan.
Ren bangun, dan melirik ke arah Ai. Ia berkata, “Terima kasih? Cuma terima kasih? Enggak. Enggak cukup,” lalu mengetukkan telunjuknya ke pipi kanannya sendiri. “Enggak cukup sebelum ini,” lanjutnya.
Menyadari bahwa Ren meminta kecupan, Ai berdiri dan memasang wajah jijik. “I hate you.”
“I love you too,” balas Ren sebelum ia bersandar dan memejamkan mata lagi. Namun, tanpa disangka, ia merasakan tarikan napas dan sentuhan di pipi kanannya. Singkat.
ACR: Happy Ending
by Fitri Annisa
Aku mematut bayanganku pada cermin yang tingginya melebihi tubuhku. Sungguh berbeda dengan aku biasanya. Tidak ada aku yang biasa memakai kemeja dan celana jeans. Kini bayanganku adalah sesosok gadis sangat anggun dengan balutan kebaya berwarna ungu muda. Kakiku yang biasa hanya menggunakan sepatu kets atau sandal jepit, berganti dengan sepasang high heels berwarna silver. Rambut sebahu yang biasa aku gulung-gulung tak jelas menggunakan sumpit atau pensil, kini dibuat ikal dan dibiarkan terurai. Wajah yang biasa polos tanpa make-up, kini tidak. Ada sentuhan bedak, blush-on, eye shadow, eyeliner, lipstick, mascara. Oh, nggak menyangka aku hafal juga nama-nama makeup.
Mungkin kalian heran mengapa aku berdandan seperti ini? Hmm… karena hari ini adalah hari wisudaku. Hari di mana aku telah lulus sebagai mahasiswa dan dinyatakan sebagai sarjana teknik. Dan hari ini adalah hari di mana aku harus memenuhi janji pada diriku sendiri, untuk menyatakan perasaanku yang sudah terpendam selama dua tahun. Pada kamu.
***
Pandanganku mengelilingi aula yang penuh dengan orang-orang. Mencari-cari sesosok yang sangat ingin kutemukan. Kedua bola mataku akhirnya berhenti pada sosok laki-laki tinggi kurus dengan kulit sawo matang. Tidak tampan, tapi begitu berkharisma dengan kecerdasannya yang begitu tinggi. Laki-laki yang sedang sendirian di salah satu sudut ruangan. Memakai kemeja navy blue dibalut jas berwarna hitam. Pandangan laki-laki itu menerawang, entah apa yang ada di pikirannya saat itu. Laki-laki itu terlihat ingin menghindari dari keriuhan pesta wisuda ini untuk sejenak. Laki-laki itu, kamu.
Aku pun berjalan menghampiri kamu. “Ditra…” panggilku dengan suara perlahan.
“Eh, Fahrani.” ucapmu sambil tersenyum. Kamu memang sangat mudah tersenyum. Bahkan ketika kamu berbicara seperti biasa pun, seolah-olah kamu memang sedang tersenyum.
“Ditra, aku pengen ngasih ini.” Aku mengeluarkan selembar surat berwarna putih dari tas silver kecil yang kugenggam. Surat yang sudah sengaja aku tulis untuk diberikan kepada kamu. Surat berisi perasaan aku selama ini.
“Apa ini, Ran?” Tanya kamu heran sambil mengerutkan kening, namun tanganmu tetap menerima surat yang aku ulurkan.
“Aku sengaja bikin surat buat kamu sama teman-teman yang lain juga. Buat kenang-kenangan aja.” aku berbohong. Aku hanya menuliskan surat untuk kamu.
“Oh, pasti aku baca nanti.” ucap kamu, lagi-lagi sambil tersenyum.
“Satu lagi.” ucapku kemudian. Aku menarik nafas sejenak. menghembuskannya. Hatiku langsung mencelos. Tapi mau tidak mau, janji itu tetap harus aku ucapkan. Aku sudah berjanji pada diriku sendiri, kalau perasaan ini masih ada, akan aku ungkapkan pada kamu saat wisuda. “Makasih selama ini udah ada di hati aku…” ucapku dengan cepat. Aku langsung berbalik pergi meninggalkan kamu yang mungkin bingung dengan ucapanku barusan. Namun, langkahku ternyata masih kalah cepat. Tiba-tiba saja aku merasa ada yang menahan lenganku, kamu.
“Tunggu!” seru kamu kemudian. Aku yakin kamu pasti membutuhkan penjelasan dari kalimat yang baru aku ucapkan.
“Enggak!” seruku. Aku berusaha melepaskan tanganmu yang mencengkram lenganku. Aku ingin pergi darimu secepatnya. Aku takut menatapmu. Aku takut menjelaskan.
“Fahrani tolong jangan pergi dulu. Aku butuh penjelasan dari pernyataan kamu tadi.” dengan tegas kamu berkata sesuai perkiraanku. Kamu memang butuh penjelasan.
“Nggak mau. Jangan paksa aku, Dit. Semua penjelasan bisa kamu baca di surat yang aku kasih.”
“Aku nggak mau. You must tell me, Fahrani. Jangan menghindar, please… Sekarang ikut aku.” Tiba-tiba saja kamu menarikku ke suatu tempat. Aku nggak bisa menolak. Takut pemberontakanku nanti malah mengundang reaksi orang dan merusak pesta. Ternyata kamu membawaku ke sebuah tempat di tepi danau yang terletak di belakang kampus.
“Sekarang udah nggak akan ada orang yang dengar. Jadi tolong perjelas dengan semua yang kamu katakan tadi.” kamu meminta dengan begitu tegas. Aku takut dan memilih untuk diam.
“Fahrani, tolong…”
“Aku sayang sama kamu…” dengan menyerah akhirnya aku mengungkapkan juga perasaan yang kupendam selama dua tahun itu. “Dua tahun aku pendam. Dua tahun aku simpan. Dua tahun aku tersiksa. Dua tahun aku sakit. Karena kamu.” entah sepertinya aku sudah meracau, mengungkapkan semua yang aku pendam selama ini.
Hening. Reaksimu hanya diam saja atas penjelasan yang kamu pinta dengan paksa. “Nggak ada reaksi apa-apa? Lebih baik aku pergi.” aku pun mulai melangkah pergi, dan lagi-lagi kamu menahan langkahnya.
“Kamu seneng banget ya langsung main pergi gitu!” seru kamu kemudian. Aku mendongak, menatap wajahmu dengan serius. Jantungku mulai berdegup tak karuan.
“Kamu nggak ada reaksi apa-apa.” ucapku kemudian.
“Karena aku tau…” sungguh ucapan kamu membuat aku kaget. “Iya, aku tau selama ini mungkin kamu ada perasaan sama aku. Tapi itu masih sekedar perasaan aku saja. Tapi aku kaget, kalau ternyata perasaan itu memang benar…”
“Aku takut…” ucapku pelan. Kepalaku kemudian menunduk. Sepasang telingaku kututupi dengan kedua tangan. Ingin sekali aku menangis saat itu juga, tapi tak mampu. Terlalu tinggi harga diriku untuk menangis di hadapan kamu.
“Fahrani…” kamu melepaskan kedua tanganku yang menutupi telinga. Kamu menatapku dengan sorot mata itu, sorot mata yang selalu membuat aku merona malu, sorot mata yang saat aku tatap membuatku refleks menundukan kepala.
”Aku juga sayang sama kamu…” ucap kamu dengan nada sungguh-sungguh, nada keseriusan, nada kejujuran.
Aku pun mendongak menatap wajahmu. Mencari-cari ekspresi bercanda dari wajahnya. Tapi tidak ada. Ucapan kamu adalah sungguh-sungguh dan serius. Pernyataan kamu benar adanya. Selama dua tahun aku menyukaimu, akhirnya kamu memiliki perasaan yang sama.
“Kamu sayang sama aku?” aku bertanya lagi untuk meyakinkan perasaanmu benar adanya.
“Iya, aku sayang kamu.” kamu mengangguk. “Tapi…” tiba-tiba saja kamu mengucapkan satu kata yang membuat aku penasaran. Ekspresimu berubah, seperti menyimpan rasa bersalah. Kamu terdiam sebentar, bingung antara ingin melanjutkan atau tidak.
“Tapi apa, Dit?” tanyaku penasaran. Mengapa ucapanmu harus terpotong?
“But, we can’t be together. Aku sudah dijodohkan. Dan aku udah terlanjur menerimanya.” lanjut kamu kemudian.
Kalian tahu, rasanya seperti seseorang baru saja melepaskan pisau yang tertancap di dadamu, namun beberapa detik kemudian harus ditancapkan lagi. Lebih sakit. Dan sangat sakit tentunya.
“Lebih baik aku nggak pernah tau perasaan kamu, Dit. Kalau tau faktanya seperti ini. Atau bahkan lebih baik lagi kalau kamu nggak punya perasaan yang sama.” Air mataku memang sudah tak terbendung lagi. Rasa gengsi untuk tidak menangis di hadapan kamu runtuh sudah. Aku berbalik pergi dan kamu tak menahan lenganku lagi.
Sesaat aku menoleh ke belakang. Berharap kamu akan mengejarku. Berharap kamu akan memperjuangkan aku. Tapi aku hanya berharap, dan harapan hanya harapan. Ketika aku menoleh, yang kulihat kamu sedang membaca suratku. Dan aku berbalik pergi.
Dear Ditra…
Surat ini adalah surat kenang-kenangan dari aku. Salam perpisahan setelah kita akhirnya lulus dan wisuda. Saat kamu baca surat ini, mungkin kita nggak akan bertemu dalam jangka waktu yang cukup panjang. Aku sangat berharap seperti itu. Kenapa? Aku terlalu takut. Karena saat kamu membaca surat ini pun, kamu akan tahu dengan suatu fakta yang mungkin akan membuat kamu menjadi merasa tidak nyaman.
Selama kita empat tahun kuliah, banyak hal yang sudah kita lewati. Dan kamu tahu, ternyata dua tahun awal cukup membuat aku untuk sayang sama kamu selama dua tahun akhir ini. Sampai saat ini. Mungkin kamu nggak sadar, atau malah mungkin kamu memang sudah tahu.
Dua tahun. Waktu yang menurut aku nggak lama untuk memendam perasaan yang semakin lama malah semakin tidak memudar. Perasaan yang semakin aku berusaha untuk hilangkan, malah semakin kuat mengakar.
-Fahrani-
***
Tiga tahun kemudian…
“Saya pesan Latte satu.”
“Itu saja?”
“Satu lagi, saya ingin… cinta kamu.”
Aku mendongak menatap laki-laki berkacamata dengan frame tebal berwarna hitam di hadapanku. Topi yang dipakainya agak menutup mata, sehingga tidak terlalu jelas wajahnya. Aku menyipitkan mata, berusaha mengenali sesosok itu. Pasti laki-laki ini orang yang aku kenal. Tidak mungkin seseorang dari antah berantah tiba-tiba menginginkan cintaku. Hanya psikopat yang seperti itu. Dan laki-laki di hadapanku ini terlihat seseorang yang waras.
“Hmm…” aku bergumam sambil menatap laki-laki di hadapanku. Menenbak-nebak siapa dia sebenarnya. Parasnya seperti sudah tidak asing lagi baginya.
“Masih belum bisa nebak laki-laki ganteng dengan suara merdu di hadapan kamu ini?” ucap laki-laki itu kemudian sambil tersenyum. Suara itu. Senyum itu. Wajah itu. Laki-laki itu. Kamu.
“Ditra?!” seruku kemudian. “Kamu…”
Kamu langsung melepas topi yang kamu pakai. Merapikan rambut sesaat. “Gimana kabar kamu, Ran?”
“Aku… baik.” jawabku. Sejujurnya aku kaget, Dit. “Eh, duduk di situ yuk!” Aku kemudian menunjuk salah satu meja di sudut ruangan coffee shop ini.
Ya, akhirnya aku berhasil mewujudkan impianku dulu, yaitu membuka sebuah coffee shop. Walaupun coffee shop yang aku buka ini masih kecil-kecilan, belum terlalu besar apalagi semewah Starbuck.
Kita berdua lalu berjalan menuju meja yang aku tunjuk tadi kemudian duduk. “Oh iya, gimana kabar kamu, Dit?” Aku kemudian balik bertanya. Jujur saja, semenjak kejadian di danau dekat kampus tiga tahun lalu, kami tidak pernah berkomunikasi lagi. Walau sekalipun. Aku takut, kalau kamu akan membahas hal itu. Lagipula untuk apa, toh kamu sudah bersama perempuan lain.
“Aku juga baik. Cuma masih ngerasa bersalah banget semenjak kejadian tiga tahun lalu.” jawab kamu. Bingo, ternyata kamu benar-benar akan membahas hal itu sepertinya.
“Udah, Dit. Aku nggak mau ngebahas hal itu lagi.” pintaku. Aku benar-benar ingin menetralkan perasaan aku untuk kamu.
“Tapi aku mau, Ran. Aku… aku udah mutusin perjodohan itu. Aku salah. Aku bodoh.” ucapmu kemudian. Suaramu bergetar, terdengar ada rasa bersalah yang begitu dalam dan ada rasa sakit yang begitu menghujam.
“Butuh tiga tahun untuk memikirkan betapa salahnya kamu dan betapa bodohnya kamu? Hah?” entah mengapa aku malah bersikap sedikit keras. Kulihat kamu terdiam dengan ucapanku barusan.
“Maafin aku…” ucap kamu setelah terdiam agak lama. “Aku butuh maaf kamu.”
Tiba-tiba kedua tanganmu menggenggam tangan kananku. Tidak terlalu erat, tapi aku merasakan seolah-olah kamu tak ingin melepaskan. Dan entah aku merasakan ada sesuatu di genggamanku. Aku melepas genggamanmu. Kulihat ada selingkar cincin emas putih di telapak tanganku. Cincin sederhana.
“Aku hanya mengenal happy ending, kalau kisah kita belum happy, berarti itu belum ending.” ucapmu kemudian saat melihatku yang begitu kaget dengan cincin yang kamu berikan itu. Aku mendongak menatap kedua matamu. Tapi pandanganku tak jelas, dibuat kabur oleh air mata yang menggenangi.
“Fahrani Alleyda. Aku pengen kamu jadi pendamping hidup aku sampai aku mati. Jadi ibu dari anak-anakku nanti.” tiba-tiba saja kamu mengambil cincin dari telapak tanganku, kemudian memasukkan ke jari manis kiriku.
“Seenaknya aja kamu masukkin cincin ke jari aku. Emangnya aku udah…” tiba-tiba saja mulutku terbungkam. Tak bisa melanjutkan kata-kata yang hendak aku ungkapkan. Kamu membungkam ucapanku, dengan bibirmu.
“I know you still love me…”
Aku mematut bayanganku pada cermin yang tingginya melebihi tubuhku. Sungguh berbeda dengan aku biasanya. Tidak ada aku yang biasa memakai kemeja dan celana jeans. Kini bayanganku adalah sesosok gadis sangat anggun dengan balutan kebaya berwarna ungu muda. Kakiku yang biasa hanya menggunakan sepatu kets atau sandal jepit, berganti dengan sepasang high heels berwarna silver. Rambut sebahu yang biasa aku gulung-gulung tak jelas menggunakan sumpit atau pensil, kini dibuat ikal dan dibiarkan terurai. Wajah yang biasa polos tanpa make-up, kini tidak. Ada sentuhan bedak, blush-on, eye shadow, eyeliner, lipstick, mascara. Oh, nggak menyangka aku hafal juga nama-nama makeup.
Mungkin kalian heran mengapa aku berdandan seperti ini? Hmm… karena hari ini adalah hari wisudaku. Hari di mana aku telah lulus sebagai mahasiswa dan dinyatakan sebagai sarjana teknik. Dan hari ini adalah hari di mana aku harus memenuhi janji pada diriku sendiri, untuk menyatakan perasaanku yang sudah terpendam selama dua tahun. Pada kamu.
***
Pandanganku mengelilingi aula yang penuh dengan orang-orang. Mencari-cari sesosok yang sangat ingin kutemukan. Kedua bola mataku akhirnya berhenti pada sosok laki-laki tinggi kurus dengan kulit sawo matang. Tidak tampan, tapi begitu berkharisma dengan kecerdasannya yang begitu tinggi. Laki-laki yang sedang sendirian di salah satu sudut ruangan. Memakai kemeja navy blue dibalut jas berwarna hitam. Pandangan laki-laki itu menerawang, entah apa yang ada di pikirannya saat itu. Laki-laki itu terlihat ingin menghindari dari keriuhan pesta wisuda ini untuk sejenak. Laki-laki itu, kamu.
Aku pun berjalan menghampiri kamu. “Ditra…” panggilku dengan suara perlahan.
“Eh, Fahrani.” ucapmu sambil tersenyum. Kamu memang sangat mudah tersenyum. Bahkan ketika kamu berbicara seperti biasa pun, seolah-olah kamu memang sedang tersenyum.
“Ditra, aku pengen ngasih ini.” Aku mengeluarkan selembar surat berwarna putih dari tas silver kecil yang kugenggam. Surat yang sudah sengaja aku tulis untuk diberikan kepada kamu. Surat berisi perasaan aku selama ini.
“Apa ini, Ran?” Tanya kamu heran sambil mengerutkan kening, namun tanganmu tetap menerima surat yang aku ulurkan.
“Aku sengaja bikin surat buat kamu sama teman-teman yang lain juga. Buat kenang-kenangan aja.” aku berbohong. Aku hanya menuliskan surat untuk kamu.
“Oh, pasti aku baca nanti.” ucap kamu, lagi-lagi sambil tersenyum.
“Satu lagi.” ucapku kemudian. Aku menarik nafas sejenak. menghembuskannya. Hatiku langsung mencelos. Tapi mau tidak mau, janji itu tetap harus aku ucapkan. Aku sudah berjanji pada diriku sendiri, kalau perasaan ini masih ada, akan aku ungkapkan pada kamu saat wisuda. “Makasih selama ini udah ada di hati aku…” ucapku dengan cepat. Aku langsung berbalik pergi meninggalkan kamu yang mungkin bingung dengan ucapanku barusan. Namun, langkahku ternyata masih kalah cepat. Tiba-tiba saja aku merasa ada yang menahan lenganku, kamu.
“Tunggu!” seru kamu kemudian. Aku yakin kamu pasti membutuhkan penjelasan dari kalimat yang baru aku ucapkan.
“Enggak!” seruku. Aku berusaha melepaskan tanganmu yang mencengkram lenganku. Aku ingin pergi darimu secepatnya. Aku takut menatapmu. Aku takut menjelaskan.
“Fahrani tolong jangan pergi dulu. Aku butuh penjelasan dari pernyataan kamu tadi.” dengan tegas kamu berkata sesuai perkiraanku. Kamu memang butuh penjelasan.
“Nggak mau. Jangan paksa aku, Dit. Semua penjelasan bisa kamu baca di surat yang aku kasih.”
“Aku nggak mau. You must tell me, Fahrani. Jangan menghindar, please… Sekarang ikut aku.” Tiba-tiba saja kamu menarikku ke suatu tempat. Aku nggak bisa menolak. Takut pemberontakanku nanti malah mengundang reaksi orang dan merusak pesta. Ternyata kamu membawaku ke sebuah tempat di tepi danau yang terletak di belakang kampus.
“Sekarang udah nggak akan ada orang yang dengar. Jadi tolong perjelas dengan semua yang kamu katakan tadi.” kamu meminta dengan begitu tegas. Aku takut dan memilih untuk diam.
“Fahrani, tolong…”
“Aku sayang sama kamu…” dengan menyerah akhirnya aku mengungkapkan juga perasaan yang kupendam selama dua tahun itu. “Dua tahun aku pendam. Dua tahun aku simpan. Dua tahun aku tersiksa. Dua tahun aku sakit. Karena kamu.” entah sepertinya aku sudah meracau, mengungkapkan semua yang aku pendam selama ini.
Hening. Reaksimu hanya diam saja atas penjelasan yang kamu pinta dengan paksa. “Nggak ada reaksi apa-apa? Lebih baik aku pergi.” aku pun mulai melangkah pergi, dan lagi-lagi kamu menahan langkahnya.
“Kamu seneng banget ya langsung main pergi gitu!” seru kamu kemudian. Aku mendongak, menatap wajahmu dengan serius. Jantungku mulai berdegup tak karuan.
“Kamu nggak ada reaksi apa-apa.” ucapku kemudian.
“Karena aku tau…” sungguh ucapan kamu membuat aku kaget. “Iya, aku tau selama ini mungkin kamu ada perasaan sama aku. Tapi itu masih sekedar perasaan aku saja. Tapi aku kaget, kalau ternyata perasaan itu memang benar…”
“Aku takut…” ucapku pelan. Kepalaku kemudian menunduk. Sepasang telingaku kututupi dengan kedua tangan. Ingin sekali aku menangis saat itu juga, tapi tak mampu. Terlalu tinggi harga diriku untuk menangis di hadapan kamu.
“Fahrani…” kamu melepaskan kedua tanganku yang menutupi telinga. Kamu menatapku dengan sorot mata itu, sorot mata yang selalu membuat aku merona malu, sorot mata yang saat aku tatap membuatku refleks menundukan kepala.
”Aku juga sayang sama kamu…” ucap kamu dengan nada sungguh-sungguh, nada keseriusan, nada kejujuran.
Aku pun mendongak menatap wajahmu. Mencari-cari ekspresi bercanda dari wajahnya. Tapi tidak ada. Ucapan kamu adalah sungguh-sungguh dan serius. Pernyataan kamu benar adanya. Selama dua tahun aku menyukaimu, akhirnya kamu memiliki perasaan yang sama.
“Kamu sayang sama aku?” aku bertanya lagi untuk meyakinkan perasaanmu benar adanya.
“Iya, aku sayang kamu.” kamu mengangguk. “Tapi…” tiba-tiba saja kamu mengucapkan satu kata yang membuat aku penasaran. Ekspresimu berubah, seperti menyimpan rasa bersalah. Kamu terdiam sebentar, bingung antara ingin melanjutkan atau tidak.
“Tapi apa, Dit?” tanyaku penasaran. Mengapa ucapanmu harus terpotong?
“But, we can’t be together. Aku sudah dijodohkan. Dan aku udah terlanjur menerimanya.” lanjut kamu kemudian.
Kalian tahu, rasanya seperti seseorang baru saja melepaskan pisau yang tertancap di dadamu, namun beberapa detik kemudian harus ditancapkan lagi. Lebih sakit. Dan sangat sakit tentunya.
“Lebih baik aku nggak pernah tau perasaan kamu, Dit. Kalau tau faktanya seperti ini. Atau bahkan lebih baik lagi kalau kamu nggak punya perasaan yang sama.” Air mataku memang sudah tak terbendung lagi. Rasa gengsi untuk tidak menangis di hadapan kamu runtuh sudah. Aku berbalik pergi dan kamu tak menahan lenganku lagi.
Sesaat aku menoleh ke belakang. Berharap kamu akan mengejarku. Berharap kamu akan memperjuangkan aku. Tapi aku hanya berharap, dan harapan hanya harapan. Ketika aku menoleh, yang kulihat kamu sedang membaca suratku. Dan aku berbalik pergi.
Dear Ditra…
Surat ini adalah surat kenang-kenangan dari aku. Salam perpisahan setelah kita akhirnya lulus dan wisuda. Saat kamu baca surat ini, mungkin kita nggak akan bertemu dalam jangka waktu yang cukup panjang. Aku sangat berharap seperti itu. Kenapa? Aku terlalu takut. Karena saat kamu membaca surat ini pun, kamu akan tahu dengan suatu fakta yang mungkin akan membuat kamu menjadi merasa tidak nyaman.
Selama kita empat tahun kuliah, banyak hal yang sudah kita lewati. Dan kamu tahu, ternyata dua tahun awal cukup membuat aku untuk sayang sama kamu selama dua tahun akhir ini. Sampai saat ini. Mungkin kamu nggak sadar, atau malah mungkin kamu memang sudah tahu.
Dua tahun. Waktu yang menurut aku nggak lama untuk memendam perasaan yang semakin lama malah semakin tidak memudar. Perasaan yang semakin aku berusaha untuk hilangkan, malah semakin kuat mengakar.
-Fahrani-
***
Tiga tahun kemudian…
“Saya pesan Latte satu.”
“Itu saja?”
“Satu lagi, saya ingin… cinta kamu.”
Aku mendongak menatap laki-laki berkacamata dengan frame tebal berwarna hitam di hadapanku. Topi yang dipakainya agak menutup mata, sehingga tidak terlalu jelas wajahnya. Aku menyipitkan mata, berusaha mengenali sesosok itu. Pasti laki-laki ini orang yang aku kenal. Tidak mungkin seseorang dari antah berantah tiba-tiba menginginkan cintaku. Hanya psikopat yang seperti itu. Dan laki-laki di hadapanku ini terlihat seseorang yang waras.
“Hmm…” aku bergumam sambil menatap laki-laki di hadapanku. Menenbak-nebak siapa dia sebenarnya. Parasnya seperti sudah tidak asing lagi baginya.
“Masih belum bisa nebak laki-laki ganteng dengan suara merdu di hadapan kamu ini?” ucap laki-laki itu kemudian sambil tersenyum. Suara itu. Senyum itu. Wajah itu. Laki-laki itu. Kamu.
“Ditra?!” seruku kemudian. “Kamu…”
Kamu langsung melepas topi yang kamu pakai. Merapikan rambut sesaat. “Gimana kabar kamu, Ran?”
“Aku… baik.” jawabku. Sejujurnya aku kaget, Dit. “Eh, duduk di situ yuk!” Aku kemudian menunjuk salah satu meja di sudut ruangan coffee shop ini.
Ya, akhirnya aku berhasil mewujudkan impianku dulu, yaitu membuka sebuah coffee shop. Walaupun coffee shop yang aku buka ini masih kecil-kecilan, belum terlalu besar apalagi semewah Starbuck.
Kita berdua lalu berjalan menuju meja yang aku tunjuk tadi kemudian duduk. “Oh iya, gimana kabar kamu, Dit?” Aku kemudian balik bertanya. Jujur saja, semenjak kejadian di danau dekat kampus tiga tahun lalu, kami tidak pernah berkomunikasi lagi. Walau sekalipun. Aku takut, kalau kamu akan membahas hal itu. Lagipula untuk apa, toh kamu sudah bersama perempuan lain.
“Aku juga baik. Cuma masih ngerasa bersalah banget semenjak kejadian tiga tahun lalu.” jawab kamu. Bingo, ternyata kamu benar-benar akan membahas hal itu sepertinya.
“Udah, Dit. Aku nggak mau ngebahas hal itu lagi.” pintaku. Aku benar-benar ingin menetralkan perasaan aku untuk kamu.
“Tapi aku mau, Ran. Aku… aku udah mutusin perjodohan itu. Aku salah. Aku bodoh.” ucapmu kemudian. Suaramu bergetar, terdengar ada rasa bersalah yang begitu dalam dan ada rasa sakit yang begitu menghujam.
“Butuh tiga tahun untuk memikirkan betapa salahnya kamu dan betapa bodohnya kamu? Hah?” entah mengapa aku malah bersikap sedikit keras. Kulihat kamu terdiam dengan ucapanku barusan.
“Maafin aku…” ucap kamu setelah terdiam agak lama. “Aku butuh maaf kamu.”
Tiba-tiba kedua tanganmu menggenggam tangan kananku. Tidak terlalu erat, tapi aku merasakan seolah-olah kamu tak ingin melepaskan. Dan entah aku merasakan ada sesuatu di genggamanku. Aku melepas genggamanmu. Kulihat ada selingkar cincin emas putih di telapak tanganku. Cincin sederhana.
“Aku hanya mengenal happy ending, kalau kisah kita belum happy, berarti itu belum ending.” ucapmu kemudian saat melihatku yang begitu kaget dengan cincin yang kamu berikan itu. Aku mendongak menatap kedua matamu. Tapi pandanganku tak jelas, dibuat kabur oleh air mata yang menggenangi.
“Fahrani Alleyda. Aku pengen kamu jadi pendamping hidup aku sampai aku mati. Jadi ibu dari anak-anakku nanti.” tiba-tiba saja kamu mengambil cincin dari telapak tanganku, kemudian memasukkan ke jari manis kiriku.
“Seenaknya aja kamu masukkin cincin ke jari aku. Emangnya aku udah…” tiba-tiba saja mulutku terbungkam. Tak bisa melanjutkan kata-kata yang hendak aku ungkapkan. Kamu membungkam ucapanku, dengan bibirmu.
“I know you still love me…”
ACR: Thank's Kitty Holmes
by Glen TP
“Gue… Gue suka sama lo, Lo mau gak jadi pacar Gue?” tanya Tony kepada cewek yang jelas-jelas baru saja bertemu di persimpangan jalan menuju kampus.
“Maaf, yah! Tapi aku nggak mau pacaran sama cowok yang bahkan enggak aku kenal,” jawab cewek itu sambil membuang muka dan berjalan berlenggak-lenggok menuju gedung kampus.
Hati Tony langsung mencelos menerima jawaban dari cewek itu. Dia langsung terdiam, mencoba menerima kenyataan yang ada.
“Gokil lo, Ton!” seorang cowok super cool datang menghampiri Tony. “Lo boleh stress gara-gara nggak punya cewek sampe sekarang. Tapi nggak berarti juga sampai lebay begitu dong. Masa cewek baru aja nemu langsung lo sikat? Kenalan dulu, kek!”
“Iya… iya…. Gue mungkin enggak seahli lo dalam hal flirting sama cewek. Gue lebih suka sesuatu yang to the point aja,” kata Tony santai.
“Alaaaah… To the point! Itu aja alesan lo. Coba lo inget-inget lagi berapa banyak cewek yang udah nolak lo gara-gara ‘to the point’ yang lo junjung tinggi itu!”
Tony terdiam sebentar, kemudian berkata.
“Barusan tadi yang keseratus, John.”
“Wha—apaaaahh! Gila, Ton! Salut gue. Lo bisa masuk Guiness’s Book of Records kayaknya nih,” kata John—yang nama aslinya Jono—sambil cekikikan. “Rekor sebagai cowok yang paling banyak ditolak sama cewek.”
“Sial lo, John! Udah ah, kayaknya kalo gue jalan sama lo berdua begini bisa-bisa gue makin susah aja dapet cewek.”
“Loh, kenapa, Ton? Gara-gara gue lebih ganteng?”
“Bukan! Takut dikira maho,” jawab Tony sambil berlari masuk ke dalam kampus meninggalkan John yang kesal sendirian.
***
Hari itu benar-benar kebetulan. Dosen mata kuliah Software Development ternyata tidak menunjukkan batang hidungnya. Seluruh mahasiswa di ruang kelas T-004 bersorak-sorai bergembira. Ada yang memainkan gitar sambil bernyanyi-nyanyi sendiri dengan suara sumbang, ada yang sedang asyik berpacaran di pojok kelas, dan ada juga yang sedang sibuk berlatih breakdance, berputar-putar dengan kepala sebagai porosnya. Sekelompok mahasiswa yang tergabung ke dalam UKM DKM Masjid Kampus pun tidak mau kalah. Mereka mengadakan pengajian bersama mendoakan dosen kesayangan mereka agar dapat kembali mengajar di kelas minimal semester depan.
Tony yang lebih memilih menyibukkan dirinya di depan laptop yang telah terkoneksi dengan internet, sesekali melirik ke arah kanan. Dilihatnya hanya ada seorang cowok narsis yang sedang sibuk mengatur rambutnya di depan sebuah cermin lipat kecil.
“John!”
“Apaan sih!” jawab John ketus.
“Gue mau nanya nih,”
“Nanya apaan?”
“Lo kok bisa ganteng gitu sih?”
“Wha—apaaahh!!” John kaget menerima pertanyaan seperti itu. “Ton! Lo nggak kenapa-kenapa kan? Maksud Gue, oke, yang barusan itu bener-bener maho detected.”
“Ah, sial lo, Gue nanya serius. Gimana caranya biar gue juga bisa ganteng kayak lo?”
John menatap Tony tajam dalam diam beberapa saat, kemudian meletakkan cermin lipatnya di atas meja. Ia menunjuk ke arah laptop Tony yang menyala di atas meja.
“Laptop? Apa hubungannya?”
“Buka Google, Ton!”
Tanpa berpikir panjang, Tony menuruti perintah John. Dia mengetikkan URL Google pada address bar di Mozilla Firefox-nya. Hanya dalam hitungan sepersekian detik, halaman utama dari Google langsung terpampang di layar.
“Sekarang apa?”
“Sekarang lo tinggal ketik aja tuh di Google pake keyword Ahli Bedah Plastik,” kata John santai.
“Oke! Ahli Bedah Pla—apaaaahhhh!!!” kata Tony yang baru tersadar akan kebodohannya. Tony hendak membalas ejekan John. Tapi ternyata John sudah tidak ada di tempatnya. Dia melarikan diri. “Sial, gue dikerjain!”
***
Waktu telah menunjukkan berakhirnya kuliah Software Development. Tony yang sejak tadi hanya duduk diam meratapi nasibnya yang kelam mendadak tersadar. Dia segera membereskan laptopnya dan memasukkannya kembali ke dalam tas punggungnya. Kemudian berjalan di posisi paling belakang mengikuti teman-teman sekelasnya yang hendak keluar ruangan dan menuju koridor.
Keadaan siang itu di koridor terasa sangat hening. Tidak ada siapapun di sana. Karena, merasa malas untuk kembali ke rumah kontrakan, Tony berjalan santai menuju taman kampus dan memutuskan untuk duduk santai di sana sambil memainkan game di Blackberry-nya. Taman kampus yang biasanya banyak dipakai mahasiswa menjadi tempat serba guna, seperti merokok, berpacaran, dan bersenda gurau kini juga terasa benar-benar sepi. Entahlah, mungkin suasana hati Tony saja yang membuatnya terasa demikian.
“Ng… Maaf, Kak… Pensilku terjatuh di bawah kaki, Kakak…”
Suara yang sangat lembut mendadak menyadarkan Tony dari keseriusannya bermain game. menengadahkan kepalanya dan terlihatlah cewek yang sangat cantik sedang menatapnya sambil menyunggingkan senyuman. Rambutnya panjang dan hitam. Penampilannya yang feminim dan modis jelas membuat Tony semakin salah tingkah.
“Eh? Y-ya? Ada apa yah?” tanya Tony grogi.
“Pensilku, Kak…” ulang cewek itu lagi sambil tetap tersenyum manis. Rambutnya bergoyang indah diterpa angin yang bersemilir. Tony hampir kehilangan kesadarannya lagi, tapi akhirnya berhasil mempertahankan diri.
“A-a-aaahhh! Pensil! Ya… Ya… Ya…” Tony mencari kesana kemari hingga akhirnya menyadari keberadaan sebuah pensil berwarna biru tepat di bawah kakinya. Tony mengambilnya dan menyerahkannya kembali kepada cewek itu. Dia bahkan terheran-heran di dalam hati, mengapa pensil tersebut bisa sampai ada di sana.
“Terima kasih, ya, Kak!” kata cewek itu sambil beranjak pergi.
“Tunggu! Lo… Lo mau gak jadi—“
“STOOPPP…!!”
Tony menoleh ke arah sumber suara. Dilihatnya John yang sejak tadi menghilang entah kemana berlari-lari kecil menghampirinya. Dia melemparkan senyum andalannya kepada cewek tadi yang ternyata sedang menatap mereka berdua dalam kebingungan. Cewek itu pun membalas senyuman John dan kemudian pergi meninggalkan taman.
“Aahhh!! Gara-gara lo tuh cewek jadi pergi deh!” kata Tony kesal.
“Dodol! Justru gue udah nyelamatin masa depan lo, Ton!” John berkata sambil menyisir rambutnya dengan jemarinya. Ia pun kemudian duduk di samping Tony. “Lo pasti tadi mau ngomong mantra sakti ‘to-the-point’ itu lagi kan? Untung aja gue dari tadi diem-diem ngebuntutin lo. Tadinya sih niat mau jahil lagi sama lo.”
“Iya! Terus emangnya kenapa? Lo sadar gak sih udah ngilangin kesempatan gue?”
“Gue sebagai satu-satunya sobat lo harus nolongin lo, Ton! Emang lo mau ditolak untuk ke-101 kalinya? Dalmations dong!”
“Terus gue mesti gimana?” Tony merajuk. “Tapi beneran deh yang barusan tadi, gue naksir sama dia.”
“Sama Angeline?”
“Iya… Loh? Itu namanya, John?”
“Yoi!” kata John santai.
“Kok lo bisa tau?”
“Yaelaaahhh… Ngga ada cewek di kampus ini yang gak gue kenal, Ton! Sebenernya dia juga ada sih di daftar cewek yang lagi mau gue gebet buat have fun, tapi kalo lo suka sama dia, ya mau gimana lagi, gue kasih daaahhh! Tapi inget, deketin cewek itu mesti sabar, pelan-pelan. Jangan main to-the-point aja!”
John tersenyum dan bangkit berdiri.
“Jam kuliah tambahan gue udah mau dimulai nih. Sampe ketemu ya, Ton!”
“Tunggu!” Tony menghentikan langkah John.
“Apaan?”
“Kasih tau gue cara buat deketin cewek yang baik dan benar, John!”
“Buka Google aja, Ton!”
“Loh kok? Wah, lo mau ngerjain gue lagi yah?”
“Yaelah, beneran ada kok. Kalo mau dapet yang terbaik ya mending lo coba usaha dulu sendiri,” John menepuk pundak Tony. “Sukses, Ton! Kabarnya si Angeline nggak suka cowok berambut gondrong.”
“Eh? Yang bener lo, John?”
John tidak menjawab pertanyaan Tony secara jelas. Dia hanya tersenyum sambil mengacungkan ibu jarinya tinggi-tinggi dan berjalan santai menuju kelas.
***
Jam dinding menunjukkan pukul 19:00. Tony termenung memikirkan cara yang ampuh untuk mendekati cewek— yang diketahuinya dari John— bernama Angeline, di dalam kamarnya yang terkunci rapat. Sementara itu suara-suara bising John di luar terdengar sampai ke dalam kamar.
“Ohh.. Ohh.. Jangan! Jangan, Rose! Jangan di depan Jack! Ooooooohhh!,” suara John terdengar dengan sangat jelas. Sepertinya ia sedang menikmati adegan Jack dan Rose di dalam film Titanic.
Tony bangkit berdiri dan membuka pintu kamarnya yang terkunci.
“John, bisa gak TV nya dikecilin dikit?” pinta Tony kalem.
“Mana bisa, Ton?”
“Maksud gue kecilin volume TV-nya!”
“Aaahh, gak asik lo ah! Iya… iya… nih gue kecilin,” kata John sambil mengambil remote TV dan mengecilkan volumenya. “By the way, gimana, Ton? Udah dapet wangsit belom gimana cara buat deketin si Angeline?”
“Belom,” jawab Tony tak acuh dan hendak menutup pintu kamarnya lagi.
“Tunggu!”
“Apaan lagi?”
“Lo beneran yakin mau ngegebet si Angeline?”
“Iyalah!” kata Tony jutek hendak menutup pintunya lagi.
“Tunggu!”
“Apaan lagi sih, John?”
“Lo gak usah nutup pintu kamar. Kebetulan gue mau ke warnet. Ada tugas dari kuliah tambahan gue yang mesti di print.”
“Lama gak lo?”
“Ngga tau, tergantung sikon,” kata John. “Kalo yang lagi jadi OP Mbak Yuli, kemungkinan gue bakal lama balik ke rumah.”
John mematikan TV, mengambil jaketnya dan kemudian pergi ke luar rumah. Sekejap suasana di rumah kontrakan menjadi sunyi.
“Jaga rumah ya, Ton! Inget kata-kata emak gue and emak lo waktu kita masih umur tujuh tahun. Jangan buka pintu buat orang yang gak dikenal. Ok, bye, Ton!”
Sambil memasang muka sebal, Tony berjalan menghampiri lemari kamarnya. Sebuah cermin besar tertempel di pintunya. Pantulan dirinya pada cermin membuatnya sedikit kehilangan kepercayaan diri. Tubuhnya kurus dan tidak tinggi. Kulitnya hitam karena seringkali bermain-main di bawah terik sinar matahari. Dia juga memakai kacamata tebal karena matanya yang minus. Rambutnya gondrong menjuntai mengikuti trend hairstyle dari Korea, sayangnya terlihat gagal total karena tidak sesuai dengan penampilannya. Tidak lupa jerawat mengisi setiap ruang kosong pada wajahnya.
“Sial, dengan penampilan gue yang kayak begini, apa mungkin yah Angeline bakal mau ngelirik gue lagi?” batin Tony.
Tiba-tiba Blackberry Tony berbunyi. Tony segera mengambilnya dan melihat tulisan pada layar. Ada sebuah email yang masuk. Tanpa berpikir panjang, Tony langsung menyalakan laptopnya dan menyambungkannya dengan internet. Tony lebih senang membaca email yang masuk menggunakan laptop daripada Blackberry-nya
Setelah terkoneksi, Tony membuka emailnya dan melihat sebuah pesan baru dengan judul yang sangat singkat.
Hai
Tony melihat email pengirimnya. Tidak, dia tidak mengenalnya.
“Apakah ini SPAM?” Tony ragu-ragu. Namun, rasa penasaran mendorong dirinya untuk tetap membuka pesan itu.
From : Kitty Holmes <kitty.holmes01> (Tue, 12-Jul-2011, 19:45)</kitty.holmes01>
To : Tony Hermanto <ini.t0ny></ini.t0ny>
Subject : Hai
Hai, bener gak ini Tony dari kelas T-004? Kenalin dooong, namaku Kitty Holmes. Itu nama pena aku sih. :D Kebetulan aku suka sama Hello Kitty dan Sherlock Holmes. Makanya namanya jadi aku gabung aja deh. Hehe. Dibales ya, kak!
Tony menelan ludah. Merasa bingung dengan isi pesan yang diterimanya, dia mengklik tombol reply dan menulis pesan balasan.
Bener banget ini, Tony. Memangnya ada keperluan apa yah? By the way keserempet busway, kamu tau email aku ini darimana yah??
Belum lima menit, email balasan pun kembali datang.
Hihihihi.. Kakak bisa aja deh. Nggak ada keperluan apa-apa sih. Aku tadi cuma iseng aja. Abisnya kan lagi bete kak. Hmm, kalo masalah aku tau email kakak darimana, aku tau dari temen kakak. Namanya John.
“Udah gue duga pasti ada hubungannya sama anak setan yang satu itu!” pikir Tony dalam hati.
Kok bisa bete? Oh, jadi kamu tau email aku dari si John. Oke, oke kalo begitu salam kenal yah, Kitty. :D Jadi kamu calon korban John yang berikutnya yah?
Iiihhh.. kakak joroookkk…! Loh maksudnya dari korban yang berikutnya apaan, kak?:O
Hehehe… Nggak kok, bukan apa-apa. So, bagaimana—
Demikianlah seterusnya Tony dan orang itu—yang diyakini Tony adalah cewek—terus-menerus berkirim email hingga akhirnya menjadi akrab satu sama lain.
Tony menoleh sebentar ke arah jam dinding. Waktu menunjukkan pukul sepuluh malam. Rasa pegal pada matanya pun menyerang. Keakrabannya dengan Kitty Holmes membuatnya lupa akan rasa kesalnya terhadap John yang telah menyebarkan email-nya kepada orang lain. Walaupun rasa penasaran terhadap siapa sebenarnya orang dibalik nama Kitty Holmes tersebut. Dia hanya berpikir dari gaya bahasanya, kemungkinan besar Kitty Holmes adalah seorang cewek imut yang manja.
Ketika hendak merebahkan tubuhnya yang kesemutan, email balasan dari Kitty Holmes datang lagi.
By the way, gimana, kak? Denger-denger lagi naksir si Angeline yaaaa? Hayoo ngaku! :P
Membaca isi pesan email tersebut, Tony langsung kaget. Dengan mata melotot, Tony langsung membalas email tersebut.
Loh? Tau dari mana kamu? Jangan bilang dari si John lagi. Rese juga tuh anak!
Tiba-tiba Blackberry Tony kembali berbunyi. Kali sebuah SMS yang masuk. Dia membaca nama pengirimnya, Jono Sukamto. Dengan rasa kesal, Tony langsung membaca isinya.
Ton, kbtln bgt ni di warnet Gw ktm ma c Garry. Gw d ajak ngnep d kosannya. Bysalah mw main Point Blank brg. Jga dri lo y. Klo da maling bunyiin ja kntongan d blkg. Tar satpam kompleks psti dtg ko. Ok! Thx Brow. John.
“Aaaahh… Si kutu kupret malah mau asyik-asyikan main PB sama si Garry,” kata Tony kesal sambil melempar Blackberry-nya ke atas kasur. Sementara itu email balasan dari Kitty Holmes datang.
Hehehehe.. Udahlah kak, buat apa coba marah-marah sama kak John? Daripada itu, mau aku bantuin gak kak? :P
Membaca penawaran yang dilakukan oleh Kitty Holmes, rasa sebal yang membara pada John langsung sirna. Dengan semangat baru, Tony langsung menulis email balasan.
Mau banget! :D
***
“Ton!” panggil John sambil berlari-lari mengejar Tony yang sudah lebih dulu sampai di depan gerbang kampus.
“Apaan, John?”
“Wah! Ternyata beneran lo! Kapan potong rambut lo? Hahahaha.. Gini kek dari dulu, kan jadi berkesan lebih ganteng. Kesannya aja loh yah,” kata John sambil tertawa.
“Tadi pagi,” kata Tony santai.
Gaya rambut Korea Gagal yang sebelumnya menghiasi kepala Tony kini sudah berubah total. Rambut barunya lebih pendek, dan bergaya Mohawk. Jauh lebih rapi daripada biasanya.
“Hahaha… dalam rangka apaan lo potong rambut? Gara-gara gue bilang si Angeline ngga suka cowok berambut gondrong yah?” kata John. “Wah, nggak nyangka ternyata sampe seserius ini lo mau deketin si Angeline. Salut gue, Ton!”
Tony hanya membalas perkataan John dengan senyuman ala kadarnya. Mereka berdua berjalan memasuki gedung kampus dalam diam, hingga akhirnya Tony berkata.
“John, gue cabut dulu, ya.”
“Loh, mau kemana lo?”
“Nanti gue balik lagi. Kelasnya masih setengah jam lagi, kan?”
John merasa sedikit penasaran, tapi tak terlalu menghiraukannya.
“Okelah kalo begitu. Gue duluan, Ton!”
“Sip!” Tony berjalan perlahan menuju koridor sepi di sebelah kiri. Dia menoleh ke segala arah untuk meyakinkan bahwa tak ada orang lain yang mengikutinya atapun melihatnya. Setelah merasa cukup yakin, Tony merogoh saku celana jeans-nya dan mengeluarkan selembar kertas yang terlipat rapi. Dia membuka lipatan kertas tersebut, memicingkan mata sambil membetulkan posisi kacamatanya dan membaca catatan yang tertulis di sana.
How to Get Closer with Angeline (by Kitty Holmes) Part 1 :
- Potong rambut dengan gaya yang OK! (v)
- Cari Angeline!
- Pura-pura aja gak sengaja nabrak dia sampe jatuh!
- Bantuin dia berdiri and beresin buku-bukunya yang berantakan!
- Ajak kenalan dan korek informasi sebanyaknya tentang dia!
- Usahakan dapetin nomor teleponnya!
“Hmm, berarti sekarang gue harus nyari dimana Angeline,” gumam Tony. Dia kembali melipat kertasnya dan menjejalkannya kembali ke dalam saku celana jeans-nya.
Tony melirik ke arah jam tangannya. Masih banyak waktu sebelum kuliahnya dimulai. Tony berjalan menyusuri koridor dan menuju kelas dimana Angeline akan kuliah hari itu. Informasi ini didapatkannya dari Kitty Holmes.
“Lab Bahasa… Lab Bahasa…” Tony berjalan cepat sambil terus bergumam. Jantungnya berdegup sangat kencang, tapi kaki-kakinya tetap melangkah dengan mantap.
“Karin, tunggu yah! Aku mau ngembaliin buku-buku ini ke perpustakaan dulu!”
Terdengar suara yang dikenalnya sebagai suara Angeline dari tikungan sebelah kanan searah dengan posisi dimana Lab Bahasa berada. Tony menghentikan langkah kakinya, dan bersembunyi di belakang tembok. Menunggu hingga Angeline berjalan melewati jalan di sampingnya.
“Yak, pas Angeline lewat di samping sini, gue bakalan langsung jalan menabrak dia! Ya, rencana ini harus berhasil!” batin Tony.
Tony mendengar langkah-langkah kaki Angeline semakin mendekati posisinya.
“Sekarang!”
BRAAAKKK!!
Buku-buku yang dibawa oleh Angeline jatuh berantakan di koridor. Angeline berdiri diam karena kaget. Matanya menatap Tony yang tengah terjengkang di lantai.
“Loh? Kenapa malah gue yang jatuh?” kata Tony di dalam hati. “Sial, gagal total! Gue yang nabrak, kenapa gue sendiri yang jatuh?”
“Maaf,ya! Kakak nggak kenapa-kenapa?” tanya Angeline.
“E-eh? Y-ya, nggak kenapa-kenapa kok, hehehehe…” Tony salah tingkah.
Tony mencoba untuk segera bangkit berdiri, namun dilihatnya Angeline berdiri agak menunduk tepat di depannya. Memberikan senyuman manis seperti pada saat kali pertama melihatnya. Angeline mengulurkan tangannya.
“Aku bantu, Kak!” kata Angeline dengan nada bicaranya yang terdengar manja. Tony gemetar. Dia merasa tidak yakin apakah akan menggapai tangan Angeline. Tangan seorang cewek cantik yang sedang dia idam-idamkan.
Perlahan tapi pasti, Tony menggapai tangan Angeline dan sekejap tubuh Tony seperti tersengat listrik. Baru kali ini dia merasakan sensasi seperti ini. Baru kali ini dia menggenggam tangan seorang cewek.
Akhirnya, Tony berhasil berdiri. Sementara itu Angeline sedikit berjongkok untuk mengumpulkan buku-bukunya yang berserakan.
“A-ah! Sini… sini… biar gue bantu!” kata Tony teringat akan hal selanjutnya yang harus dia lakukan berdasarkan catatan Kitty Holmes.
“Nggak usah, Kak! Gak apa-apa kok,” kata Angeline. Namun dia membiarkan Tony untuk tetap membantunya mengumpulkan buku-bukunya.
“Eh… Err… Boleh tau gak namanya siapa?” tanya Tony mendadak.
“Aku Angeline, Kak! Angeline Sastrowardoyo,” jawab Angeline sambil tersenyum. “Kalau Kakak?”
“Gu-Gu—Aku Tony! Ya, aku Tony! Tony Hermanto,” jawab Tony. “Mau ke perpustakaan ya Angeline?”
“Iya, Kak,” Angeline bangkit berdiri bersama dengan buku-buku yang telah selesai dikumpulkannya.
“Err… Aku juga mau ke perpustakaan nih, gimana kalo kita bareng aja? Dan buku-buku yang kamu bawa itu kayaknya berat deh. Sini biar aku bantu bawain, yah!” Tony berkata pada Angeline sambil mengambil tumpukkan buku di pelukan Angeline.
Angeline yang melihat gelagat Tony hanya tertawa.
“Terima kasih ya, Kak!”
“Hehehehe.. No problemo!” Tony tersenyum. Ada sedikit perasaan lega di dalam hatinya. Dia berhasil berkenalan dengan Angeline. Dia memejamkan matanya dan mencoba meyakinkan dirinya lagi.
“Ini bukan mimpi! Gue berhasil! Thanks to KITTY HOLMES!!” kata Tony di dalam hati.
Saat Tony membuka matanya lagi, dilihatnya Angeline sudah berjalan cukup jauh di depannya. Dia tengah memandang Tony seakan memberikan isyarat agar Tony segera menghampirinya.
“Tunggu, Angeline!” panggil Tony riang dan mengejarnya dengan penuh semangat.
***
Jam tujuh malam pun tiba. Tony tengah duduk santai di depan laptopnya yang menyala menampilkan halaman akun email-nya. Dia berniat untuk menulis sesuatu, seperti ucapan terima kasih banyak kepada Kitty Holmes. Namun, mendadak John membuka pintu kamar Tony.
“Ton!”
“Apaan sih lo? Ketok pintu dulu kek, gue kaget tau!” bentak Tony.
“Hehehe… Sorry, Cuy! By the way, tadi kemana? Kok nggak masuk kelasnya Pak Jihan?”
“Iya, gue telat! Gue di perpustakaan sama Angeline,” jawab Tony.
“Heh? Serius lo? Sama Angeline? Hahahahahaha…” kata John sambil tertawa lebar. “Wah, berarti sukses juga yah lo mau deketin dia. Lo belom keluarin mantra to-the-point lo itu kan?”
“Nggak! Gue udah berusaha buat nahan biar kata-kata itu nggak keluar cepet-cepet,” kata Tony. “Tapi Gue udah berhasil dapet nomor handphone-nya nih.”
“Serius lo? Aseeemmmm, gue aja butuh waktu tiga hari sebelum berhasil minta nomor handphone cewek yang lagi gue incer.”
“Cupu lo berarti, John!”
“Wha—apaah!! Hahahahaha… Gitu nih sekarang, udah dapet langsung sombong. Oke deh, gue nggak mau ganggu orang lagi seneng dulu, ah. Hahahaha…” John menutup pintu kamar Tony dan pergi keluar rumah.
Setelah yakin John telah benar-benar keluar dari rumah, Tony kembali menatap layar monitornya. Sudah ada sebuah email baru yang menunggu. Pengirimnya adalah Kitty Holmes. Dengan penuh semangat, Tony membuka isi dari email tersebut.
Halo, Kak! Gimana tadi berhasil gak? :D
Tony langsung menekan tombol reply dan mengetik email balasan dengan semangat membara.
You kno’ what? BERHASIL!! I really made it!! XD Aku dapet nomor handphone-nya juga sekalian. Ah ya, ada ide gak sekarang apa lagi yang mesti aku lakuin nih?
Tony menunggu email balasan dari Kitty Holmes sambil memakan indomie rebus yang sejak tadi bertengger di samping meja komputernya. Tak lama, email balasan pun tiba.
Wah, congratz ya, Kak! Sekarang SMS dia aja, Kak! Ajak nge-date Sabtu besok!
Tanpa pikir panjang dan rasa curiga, Tony mengambil Blackberry-nya dan langsung menulis sebuah SMS sambil menahan jemarinya yang gemetar tidak karuan.
M-Met mlm, Angel, lg pa ni? Ku gnggu km g? Ku mw tny ni, Sabtu bsk km da acara g? -Tony-
Belum sempat Tony meletakkan kembali Blackberry-nya, SMS balasan tiba.
Hai, Kak! :D Gaq da c, mank knp Kak? :)
Tony menelan ludahnya. Mangkuk indomie yang dipegangnya nyaris terjatuh. Dia berusaha mengendalikan dirinya agar tetap terfokus dan kemudian menulis SMS balasan.
Klo km mw, ku mw jak km mkn mlm di café deket kampus. Ada yg bru bka n kyaknya seru deh.
Jantung Tony berdegup kencang. Dia ragu Angeline mau pergi makan malam dengannya. Tak lama, SMS balasan pun datang. Dengan tangan gemetar dan berkeringat, Tony membaca isi SMS tersebut perlahan-lahan.
Boleh! ^_^
Tony membelalak. Jantungnya terasa meledak. Tony berusaha menarik napas panjang dan menghembuskannya perlahan-lahan. Dia mencoba untuk tetap fokus. Bukan main bahagianya Tony, karena untuk pertama kalinya sepanjang hidupnya, dia berhasil mengajak seorang cewek cantik makan malam bareng.
Ok, ku tunggu di cafe jam 19:00 y… :)
Setelah akhirnya Angeline kembali mengirimkan SMS tanda ia menyetujui ajakan Tony, mendadak dirinya teringat pada Kitty Holmes. Maka dia menuliskan email balasan padanya untuk memberitahukan tentang keberhasilannya mengajak Angeline makan malam.
Cukup lama mereka saling berkirim email hingga tidak terasa waktu telah menunjukkan pukul 23:00. Sebelum pamit untuk tidur, Tony meminta bantuan lagi kepada Kitty Holmes tentang apa yang seharusnya ia lakukan pada acara makan malam nanti. Kemudia email dari Kitty Holmes datang. Tony membukanya dan membaca isinya dengan semangat.
How to Get Closer with Angeline (by Kitty Holmes) Part 2 :
- Pakai baju santai tapi rapi. Jadilah diri sendiri. Oh ya, jangan lupa juga pakai deodorant and parfum.
- Siapkan bunga untuknya, cewek itu seneng loh dikasih bunga.
- Sesekali puji dia deh, misalnya “Hei, cantik banget kamu male ini.”
- Ajak ngobrol yang nggak basi, kalo bisa obrolin aja tentang hobby-nya
- Tetep rileks, jangan linglung, jangan canggung, keep your focus. Jangan mikir yang nggak-nggak!
Tony mencatat semuanya ke dalam secarik kertas. Memberikan ucapan terima kasih pada Kitty, dan mematikan laptopnya. Sabtu nanti akan menjadi hari paling bahagia untuknya. Dia mematikan lampu kamarnya dan merebahkan tubuhnya di atas kasur busa yang empuk.
Tony memejamkan matanya, sementara itu didengarnya pintu depan rumah terbuka disusul oleh suara John yang terbatuk. John sudah pulang. Kini, Tony bisa tidur dengan tenang.
***
Hari Sabtu yang ditunggu pun akhirnya tiba. Tony tengah bersiap-siap untuk menghadapi malam yang selalu dibayangkannya akan menjadi malam paling tak terlupakan sepanjang hidupnya. T-shirt abu-abu polos dengan bentuk v-neck dan celana jeans hitam melekat di tubuhnya. Dia juga mengenakan blazer hitam untuk membuatnya terlihat lebih gagah. Sayangnya memang tak ada satupun hal yang dapat dia lakukan untuk menutupi jerawatnya yang lebat.
“Rambut udah oke! Baju oke! Celana oke! Blazer oke!” gumam Tony dalam hati. Kemudian dia mencium bau badannya. “Ok, I need parfume!”
“Kemana lo, Ton?” tanya John yang mendadak masuk ke dalam kamar Tony.
“Mau nge-date sama Angeline dong,” jawab Tony singkat sambil tetap sibuk pada kegiatan berdandannya.
“Hahahaha… Asyik nih yang udah deket sama Angeline… Titip salam yak!”
“Ogah! Hahaha…”
“Ah, dasar pelit lo! Emang janjian di mana, Ton?”
“Mau tau aja lo…” jawab Tony belagu.
“Hahahaha… Iya deh iyaaa..! Moga sukses yak kencan lo,” kata John sambil mengambil jaketnya. “Gue kebetulan juga ada kencan sama Farah, gue duluan ya, Ton! Jangan lupa kunci pintu pas lo keluar!”
“Farah?” pikir Tony dalam hati. Entah kenapa pikirannya langsung tertuju pada Kitty Holmes.
“Dia tau email gue lewat John, dia juga tau kalo gue naksir Angeline dari John, dan sekarang cewek yang bernama Farah ini janjian sama John. Masa iya dia Kitty Holmes?”
Tony mengambil catatan yang terlipat rapi dari atas mejanya dan memasukkan ke dalam saku celana jeans-nya. Dia memastikan lagi bahwa dompet bergambar Doraemon kesayangannya sudah tersemat kuat di saku belakang celananya. Dia kembali berpikir akan identitas Kitty Holmes yang sebenarnya. Namun, melihat jam dinding sudah menunjukkan pukul 18:40, Tony langsung menarik napas panjang, menenangkan dirinya, dan segera beranjak dari kamarnya.
Seperti biasa di malam Minggu, seluruh tempat dipenuhi oleh para remaja yang sedang sibuk berpacaran. Sama halnya dengan kafe tempat di mana Tony dan Angeline akan menghabiskan waktunya untuk makan malam bersama. Untungnya, Tony berhasil memesan tempat sebelum akhirnya habis dipesan oleh orang lain.
Tony sedang duduk sendiri di bagian paling belakang dan terluar dari kafe ini. Tempat tersebut adalah tempat paling romantis bila dibandingkan dengan posisi meja-meja yang lainnya. Sebuah kolam ikan yang berukuran lumayan besar berada di sampingnya, dan suasana malam yang nyaman dapat dinikmati tanpa terhalangi oleh apapun. Suasana outdoor yang menyenangkan. Bulan purnama terlihat sangat indah.
Tony melihat ke arah jam tangannya. Sudah pukul 19:08. Memang agak terlambat, tapi Tony yakin, Angeline pasti datang.
Keyakinan Tony berbuah baik. Tak lama kemudian Angeline datang dengan mengenakan sebuah dress hitam yang dibalut dengan cardigan hitam yang indah. Dia mencari-cari Tony. Tony mengangkat tangannya tinggi-tinggi memberikan isyarat keberadaannya. Jantungnya mulai berdetak hebat. Angeline cantik sekali malam ini. Jauh lebih cantik daripada yang biasa terlihat di kampus.
“Hai, Kak!” sapa Angeline sambil tersenyum.
“Ha-Hai, Angeline…” Tony gugup. Namun ia tetap berusaha tampil sesempurna mungkin. Ia bangkit berdiri, dan membantu menarik kursi Angeline dari belakang. Angeline duduk dengan nyaman.
“Maaf yah aku terlambat,” kata Angeline.
“Ah, ya, nggak apa-apa kok,” Tony menimpali. “I-ini…”
Tony mengeluarkan setangkai mawar yang disiapkannya untuk Angeline. Angeline tersenyum dan kemudian tertawa. Dia tak menyangka akan diberikan kejutan semacam ini. Di ambilnya bunga mawar merah tersebut dan menghirupnya dalam-dalam.
“Terima kasih ya, Kak! Bunganya bagus banget”
“Iya, sama-sama,” Tony tersenyum grogi.
Hening. Tony hanya memandangi Angeline dalam-dalam. Di dalam hatinya dia benar-benar tidak pernah menyangka bisa sedekat ini dengan seorang wanita cantik dan baik seperti Angeline.
Merasa dipandangi terus-menerus, Angeline tersenyum malu.
“Kenapa memandang aku terus kayak gitu, Kak? Aku kan malu.”
“O-oh! Maaf! Maaf! Abisnya… Abisnya malam ini kamu cantik banget Angeline.” Jantung Tony berdegup kencang. Dia menahan diri untuk tidak langsung mengucapkan mantra to-the-point miliknya. Dia tidak boleh merusak suasana malam ini.
“Oh ya?” Angeline menutup wajahnya yang memerah. “Kakak, bisa aja deh. Terima kasih ya, Kak buat pujiannya.”
“Err—gi-gi-gimana kalo kamu panggil aku Tony aja? Nggak usah pake ‘Kak’?” Tony yang dilanda rasa nervous dan kurangnya pengalaman dalam hal berkencan membuatnya sulit untuk memikirkan kata-kata lain sebagai obyek pembicaraan.
“Hihihihi… Tadinya aku ngerasa nggak enak, kan kakak senior aku. Tapi kalo kakak mau begitu oke deh. Err… Tony..” Angeline menunduk untuk menyembunyikan wajahnya yang merah.
“Apa? Coba sebutin lagi?”
“To-Tony! Hahahaa.. Iiiihhh udah ah, kamu norak deeehh…” kata Angeline bercanda.
“Hahahahaha..”
Setengah jam mereka bercanda dan tertawa bersama. Benar-benar pengalaman yang sangat menyenangkan bagi Tony. Dia dapat mengenal lebih jauh lagi tentang cewek yang disukainya tersebut. Mereka saling bertukar kisah lucu dan memalukan. Bahkan Tony menceritakan tentang dirinya yang sebenarnya tidak pernah berpacaran. Bagaimana Tony mengalami seratus kali penolakan cinta. Tentu saja dia tidak menceritakan tentang cewek yang dia tembak secara instan tempo hari.
Tak terasa waktu telah menunjukkan pukul 21:00. Sudah saatnya bagi Tony mengantar Angeline pulang. Mereka memilih untuk berjalan kaki dengan alasan jarak rumah kost Angeline terletak tidak jauh dari cafe. Lagipula berjalan kaki berdua dapat memperlambat waktu perpisahan antara Tony dengan Angeline di malam itu. Sementara perjalanan mereka diiringi oleh bulan purnama yang terang benderang. Terlihat sangat indah.
“Err.. Angel..”
“Emm?”
“Ka-kamu, belum punya pacar kan?”
Angel menyunggingkan senyum manisnya.
“Menurut kamu?”
Tony terdiam. Jantungnya berdebar lebih cepat.
“Aku harap kamu belum punya pacar,” kata Tony cepat dengan wajah yang memerah.
“Hahahaha… Kamu lucu deh, Ton!” Angeline memandang Tony dengan pandangan yang menyentuh hati. “Aku belum punya pacar kok.”
Mendengar kata-kata Angeline, Tony menjadi bersemangat. Tapi, tiba-tiba saja Blackberry di dalam saku blazer Tony bergetar. Spontan Tony mengeluarkan Blackberry-nya dan membaca pesan di layar. Sebuah email dari Kitty Holmes.
“Se-sebentar ya, Angel! Aku harus membalas SMS dulu…”
Angeline mengangguk pelan sambil terus tersenyum. Sementara Tony membaca isi email tersebut.
Hai, Kak! Gimana makan malamnya? Berhasil nggak? Hihihihihi..
Tony mengetik email balasan secepat kilat.
Berhasil! Selanjutnya apa nih, Kitty?
Email terkirim. Tony menghampiri Angeline yang kini sedang duduk di pinggir trotoar sambil memandangi bulan di angkasa.
“Bulannya indah banget, yah?” tanya Angeline.
“I-iya.. Indah banget,” Tony menimpali dan kemudian duduk di samping Angeline.
“Kamu.. Kamu tau gak? Aku nggak mau deh mala mini cepet-cepet berganti.”
Angeline menoleh ke arah Tony dan menatapnya tajam-tajam sambil tersenyum. Tony makin grogi. Sementara itu Blackberry Tony bergetar lagi. Dia mengeluarkannya dari saku blazer-nya dan membaca email balasan dari Kitty Holmes dengan cepat.
Tunggu apa lagi, Kak? Kalo mau to-the-point juga gak apa-apa kan? Hihi.. :D
Tony menelan ludah dan memasukkan kembali Blackberry-nya ke dalam saku blazer-nya. Dia kembali menatap Angeline yang kini sedang memejamkan matanya sambil tersenyum. Wajahnya menengadah ke atas dan menyenandungkan sebuah lagu.
Tony mendekatkan dirinya pada Angeline. Dia kumpulkan seluruh keberaniannya untuk mengeluarkan kata-kata.
“Angeline…”
“Ya?” Angeline menyahut dengan riang.
“A-aku..” Tony gemetar. Ini adalah kali pertama dirinya merasakan nervous yang sehebat ini.
“Hmm..?” Angeline memandang Tony dengan senyum yang manja. Tony memejamkan matanya. Menarik napas dalam-dalam dan menghembuskannya perlahan-lahan. Dengan keyakinan yang bulat akan perasaannya, Tony tak ragu lagi untuk berkata.
“Angeline.. Kamu… Kamu mau gak jadi—“
***
“Selesai juga akhirnya,” kata John sambil menaruh kembali handphone-nya di atas meja.
“Apanya yang selesai, Sayang?” tanya seorang cewek yang duduk di samping John.
“Hehehehe.. Nggak kok, Farah… Bukan apa-apa,” John bangkit berdiri dan meregangkan otot-otot tubuhnya. “Hanya membantu seorang teman.”
John berjalan menuju dapur, dan mengambil dua botol minuman soda dari dalam kulkas. Sementara itu handphone John berbunyi nyaring. John kembali dari dapur dan meletakkan kedua minuman soda tersebut di atas meja.
“Siapa nih, Sayang?” tanya Farah sambil menyerahkan handphone milik John.
“Emm? Oh, email dari si Tony,” John meneguk minuman sodanya sekali, dan kemudian membuka email yang dikirim oleh Tony. Hanya ada tulisan singkat di sana. Namun, John tertawa setelah membacanya.
Thanks, Kitty Holmes.. :)
THE END
“Gue… Gue suka sama lo, Lo mau gak jadi pacar Gue?” tanya Tony kepada cewek yang jelas-jelas baru saja bertemu di persimpangan jalan menuju kampus.
“Maaf, yah! Tapi aku nggak mau pacaran sama cowok yang bahkan enggak aku kenal,” jawab cewek itu sambil membuang muka dan berjalan berlenggak-lenggok menuju gedung kampus.
Hati Tony langsung mencelos menerima jawaban dari cewek itu. Dia langsung terdiam, mencoba menerima kenyataan yang ada.
“Gokil lo, Ton!” seorang cowok super cool datang menghampiri Tony. “Lo boleh stress gara-gara nggak punya cewek sampe sekarang. Tapi nggak berarti juga sampai lebay begitu dong. Masa cewek baru aja nemu langsung lo sikat? Kenalan dulu, kek!”
“Iya… iya…. Gue mungkin enggak seahli lo dalam hal flirting sama cewek. Gue lebih suka sesuatu yang to the point aja,” kata Tony santai.
“Alaaaah… To the point! Itu aja alesan lo. Coba lo inget-inget lagi berapa banyak cewek yang udah nolak lo gara-gara ‘to the point’ yang lo junjung tinggi itu!”
Tony terdiam sebentar, kemudian berkata.
“Barusan tadi yang keseratus, John.”
“Wha—apaaaahh! Gila, Ton! Salut gue. Lo bisa masuk Guiness’s Book of Records kayaknya nih,” kata John—yang nama aslinya Jono—sambil cekikikan. “Rekor sebagai cowok yang paling banyak ditolak sama cewek.”
“Sial lo, John! Udah ah, kayaknya kalo gue jalan sama lo berdua begini bisa-bisa gue makin susah aja dapet cewek.”
“Loh, kenapa, Ton? Gara-gara gue lebih ganteng?”
“Bukan! Takut dikira maho,” jawab Tony sambil berlari masuk ke dalam kampus meninggalkan John yang kesal sendirian.
***
Hari itu benar-benar kebetulan. Dosen mata kuliah Software Development ternyata tidak menunjukkan batang hidungnya. Seluruh mahasiswa di ruang kelas T-004 bersorak-sorai bergembira. Ada yang memainkan gitar sambil bernyanyi-nyanyi sendiri dengan suara sumbang, ada yang sedang asyik berpacaran di pojok kelas, dan ada juga yang sedang sibuk berlatih breakdance, berputar-putar dengan kepala sebagai porosnya. Sekelompok mahasiswa yang tergabung ke dalam UKM DKM Masjid Kampus pun tidak mau kalah. Mereka mengadakan pengajian bersama mendoakan dosen kesayangan mereka agar dapat kembali mengajar di kelas minimal semester depan.
Tony yang lebih memilih menyibukkan dirinya di depan laptop yang telah terkoneksi dengan internet, sesekali melirik ke arah kanan. Dilihatnya hanya ada seorang cowok narsis yang sedang sibuk mengatur rambutnya di depan sebuah cermin lipat kecil.
“John!”
“Apaan sih!” jawab John ketus.
“Gue mau nanya nih,”
“Nanya apaan?”
“Lo kok bisa ganteng gitu sih?”
“Wha—apaaahh!!” John kaget menerima pertanyaan seperti itu. “Ton! Lo nggak kenapa-kenapa kan? Maksud Gue, oke, yang barusan itu bener-bener maho detected.”
“Ah, sial lo, Gue nanya serius. Gimana caranya biar gue juga bisa ganteng kayak lo?”
John menatap Tony tajam dalam diam beberapa saat, kemudian meletakkan cermin lipatnya di atas meja. Ia menunjuk ke arah laptop Tony yang menyala di atas meja.
“Laptop? Apa hubungannya?”
“Buka Google, Ton!”
Tanpa berpikir panjang, Tony menuruti perintah John. Dia mengetikkan URL Google pada address bar di Mozilla Firefox-nya. Hanya dalam hitungan sepersekian detik, halaman utama dari Google langsung terpampang di layar.
“Sekarang apa?”
“Sekarang lo tinggal ketik aja tuh di Google pake keyword Ahli Bedah Plastik,” kata John santai.
“Oke! Ahli Bedah Pla—apaaaahhhh!!!” kata Tony yang baru tersadar akan kebodohannya. Tony hendak membalas ejekan John. Tapi ternyata John sudah tidak ada di tempatnya. Dia melarikan diri. “Sial, gue dikerjain!”
***
Waktu telah menunjukkan berakhirnya kuliah Software Development. Tony yang sejak tadi hanya duduk diam meratapi nasibnya yang kelam mendadak tersadar. Dia segera membereskan laptopnya dan memasukkannya kembali ke dalam tas punggungnya. Kemudian berjalan di posisi paling belakang mengikuti teman-teman sekelasnya yang hendak keluar ruangan dan menuju koridor.
Keadaan siang itu di koridor terasa sangat hening. Tidak ada siapapun di sana. Karena, merasa malas untuk kembali ke rumah kontrakan, Tony berjalan santai menuju taman kampus dan memutuskan untuk duduk santai di sana sambil memainkan game di Blackberry-nya. Taman kampus yang biasanya banyak dipakai mahasiswa menjadi tempat serba guna, seperti merokok, berpacaran, dan bersenda gurau kini juga terasa benar-benar sepi. Entahlah, mungkin suasana hati Tony saja yang membuatnya terasa demikian.
“Ng… Maaf, Kak… Pensilku terjatuh di bawah kaki, Kakak…”
Suara yang sangat lembut mendadak menyadarkan Tony dari keseriusannya bermain game. menengadahkan kepalanya dan terlihatlah cewek yang sangat cantik sedang menatapnya sambil menyunggingkan senyuman. Rambutnya panjang dan hitam. Penampilannya yang feminim dan modis jelas membuat Tony semakin salah tingkah.
“Eh? Y-ya? Ada apa yah?” tanya Tony grogi.
“Pensilku, Kak…” ulang cewek itu lagi sambil tetap tersenyum manis. Rambutnya bergoyang indah diterpa angin yang bersemilir. Tony hampir kehilangan kesadarannya lagi, tapi akhirnya berhasil mempertahankan diri.
“A-a-aaahhh! Pensil! Ya… Ya… Ya…” Tony mencari kesana kemari hingga akhirnya menyadari keberadaan sebuah pensil berwarna biru tepat di bawah kakinya. Tony mengambilnya dan menyerahkannya kembali kepada cewek itu. Dia bahkan terheran-heran di dalam hati, mengapa pensil tersebut bisa sampai ada di sana.
“Terima kasih, ya, Kak!” kata cewek itu sambil beranjak pergi.
“Tunggu! Lo… Lo mau gak jadi—“
“STOOPPP…!!”
Tony menoleh ke arah sumber suara. Dilihatnya John yang sejak tadi menghilang entah kemana berlari-lari kecil menghampirinya. Dia melemparkan senyum andalannya kepada cewek tadi yang ternyata sedang menatap mereka berdua dalam kebingungan. Cewek itu pun membalas senyuman John dan kemudian pergi meninggalkan taman.
“Aahhh!! Gara-gara lo tuh cewek jadi pergi deh!” kata Tony kesal.
“Dodol! Justru gue udah nyelamatin masa depan lo, Ton!” John berkata sambil menyisir rambutnya dengan jemarinya. Ia pun kemudian duduk di samping Tony. “Lo pasti tadi mau ngomong mantra sakti ‘to-the-point’ itu lagi kan? Untung aja gue dari tadi diem-diem ngebuntutin lo. Tadinya sih niat mau jahil lagi sama lo.”
“Iya! Terus emangnya kenapa? Lo sadar gak sih udah ngilangin kesempatan gue?”
“Gue sebagai satu-satunya sobat lo harus nolongin lo, Ton! Emang lo mau ditolak untuk ke-101 kalinya? Dalmations dong!”
“Terus gue mesti gimana?” Tony merajuk. “Tapi beneran deh yang barusan tadi, gue naksir sama dia.”
“Sama Angeline?”
“Iya… Loh? Itu namanya, John?”
“Yoi!” kata John santai.
“Kok lo bisa tau?”
“Yaelaaahhh… Ngga ada cewek di kampus ini yang gak gue kenal, Ton! Sebenernya dia juga ada sih di daftar cewek yang lagi mau gue gebet buat have fun, tapi kalo lo suka sama dia, ya mau gimana lagi, gue kasih daaahhh! Tapi inget, deketin cewek itu mesti sabar, pelan-pelan. Jangan main to-the-point aja!”
John tersenyum dan bangkit berdiri.
“Jam kuliah tambahan gue udah mau dimulai nih. Sampe ketemu ya, Ton!”
“Tunggu!” Tony menghentikan langkah John.
“Apaan?”
“Kasih tau gue cara buat deketin cewek yang baik dan benar, John!”
“Buka Google aja, Ton!”
“Loh kok? Wah, lo mau ngerjain gue lagi yah?”
“Yaelah, beneran ada kok. Kalo mau dapet yang terbaik ya mending lo coba usaha dulu sendiri,” John menepuk pundak Tony. “Sukses, Ton! Kabarnya si Angeline nggak suka cowok berambut gondrong.”
“Eh? Yang bener lo, John?”
John tidak menjawab pertanyaan Tony secara jelas. Dia hanya tersenyum sambil mengacungkan ibu jarinya tinggi-tinggi dan berjalan santai menuju kelas.
***
Jam dinding menunjukkan pukul 19:00. Tony termenung memikirkan cara yang ampuh untuk mendekati cewek— yang diketahuinya dari John— bernama Angeline, di dalam kamarnya yang terkunci rapat. Sementara itu suara-suara bising John di luar terdengar sampai ke dalam kamar.
“Ohh.. Ohh.. Jangan! Jangan, Rose! Jangan di depan Jack! Ooooooohhh!,” suara John terdengar dengan sangat jelas. Sepertinya ia sedang menikmati adegan Jack dan Rose di dalam film Titanic.
Tony bangkit berdiri dan membuka pintu kamarnya yang terkunci.
“John, bisa gak TV nya dikecilin dikit?” pinta Tony kalem.
“Mana bisa, Ton?”
“Maksud gue kecilin volume TV-nya!”
“Aaahh, gak asik lo ah! Iya… iya… nih gue kecilin,” kata John sambil mengambil remote TV dan mengecilkan volumenya. “By the way, gimana, Ton? Udah dapet wangsit belom gimana cara buat deketin si Angeline?”
“Belom,” jawab Tony tak acuh dan hendak menutup pintu kamarnya lagi.
“Tunggu!”
“Apaan lagi?”
“Lo beneran yakin mau ngegebet si Angeline?”
“Iyalah!” kata Tony jutek hendak menutup pintunya lagi.
“Tunggu!”
“Apaan lagi sih, John?”
“Lo gak usah nutup pintu kamar. Kebetulan gue mau ke warnet. Ada tugas dari kuliah tambahan gue yang mesti di print.”
“Lama gak lo?”
“Ngga tau, tergantung sikon,” kata John. “Kalo yang lagi jadi OP Mbak Yuli, kemungkinan gue bakal lama balik ke rumah.”
John mematikan TV, mengambil jaketnya dan kemudian pergi ke luar rumah. Sekejap suasana di rumah kontrakan menjadi sunyi.
“Jaga rumah ya, Ton! Inget kata-kata emak gue and emak lo waktu kita masih umur tujuh tahun. Jangan buka pintu buat orang yang gak dikenal. Ok, bye, Ton!”
Sambil memasang muka sebal, Tony berjalan menghampiri lemari kamarnya. Sebuah cermin besar tertempel di pintunya. Pantulan dirinya pada cermin membuatnya sedikit kehilangan kepercayaan diri. Tubuhnya kurus dan tidak tinggi. Kulitnya hitam karena seringkali bermain-main di bawah terik sinar matahari. Dia juga memakai kacamata tebal karena matanya yang minus. Rambutnya gondrong menjuntai mengikuti trend hairstyle dari Korea, sayangnya terlihat gagal total karena tidak sesuai dengan penampilannya. Tidak lupa jerawat mengisi setiap ruang kosong pada wajahnya.
“Sial, dengan penampilan gue yang kayak begini, apa mungkin yah Angeline bakal mau ngelirik gue lagi?” batin Tony.
Tiba-tiba Blackberry Tony berbunyi. Tony segera mengambilnya dan melihat tulisan pada layar. Ada sebuah email yang masuk. Tanpa berpikir panjang, Tony langsung menyalakan laptopnya dan menyambungkannya dengan internet. Tony lebih senang membaca email yang masuk menggunakan laptop daripada Blackberry-nya
Setelah terkoneksi, Tony membuka emailnya dan melihat sebuah pesan baru dengan judul yang sangat singkat.
Hai
Tony melihat email pengirimnya. Tidak, dia tidak mengenalnya.
“Apakah ini SPAM?” Tony ragu-ragu. Namun, rasa penasaran mendorong dirinya untuk tetap membuka pesan itu.
From : Kitty Holmes <kitty.holmes01> (Tue, 12-Jul-2011, 19:45)</kitty.holmes01>
To : Tony Hermanto <ini.t0ny></ini.t0ny>
Subject : Hai
Hai, bener gak ini Tony dari kelas T-004? Kenalin dooong, namaku Kitty Holmes. Itu nama pena aku sih. :D Kebetulan aku suka sama Hello Kitty dan Sherlock Holmes. Makanya namanya jadi aku gabung aja deh. Hehe. Dibales ya, kak!
Tony menelan ludah. Merasa bingung dengan isi pesan yang diterimanya, dia mengklik tombol reply dan menulis pesan balasan.
Bener banget ini, Tony. Memangnya ada keperluan apa yah? By the way keserempet busway, kamu tau email aku ini darimana yah??
Belum lima menit, email balasan pun kembali datang.
Hihihihi.. Kakak bisa aja deh. Nggak ada keperluan apa-apa sih. Aku tadi cuma iseng aja. Abisnya kan lagi bete kak. Hmm, kalo masalah aku tau email kakak darimana, aku tau dari temen kakak. Namanya John.
“Udah gue duga pasti ada hubungannya sama anak setan yang satu itu!” pikir Tony dalam hati.
Kok bisa bete? Oh, jadi kamu tau email aku dari si John. Oke, oke kalo begitu salam kenal yah, Kitty. :D Jadi kamu calon korban John yang berikutnya yah?
Iiihhh.. kakak joroookkk…! Loh maksudnya dari korban yang berikutnya apaan, kak?:O
Hehehe… Nggak kok, bukan apa-apa. So, bagaimana—
Demikianlah seterusnya Tony dan orang itu—yang diyakini Tony adalah cewek—terus-menerus berkirim email hingga akhirnya menjadi akrab satu sama lain.
Tony menoleh sebentar ke arah jam dinding. Waktu menunjukkan pukul sepuluh malam. Rasa pegal pada matanya pun menyerang. Keakrabannya dengan Kitty Holmes membuatnya lupa akan rasa kesalnya terhadap John yang telah menyebarkan email-nya kepada orang lain. Walaupun rasa penasaran terhadap siapa sebenarnya orang dibalik nama Kitty Holmes tersebut. Dia hanya berpikir dari gaya bahasanya, kemungkinan besar Kitty Holmes adalah seorang cewek imut yang manja.
Ketika hendak merebahkan tubuhnya yang kesemutan, email balasan dari Kitty Holmes datang lagi.
By the way, gimana, kak? Denger-denger lagi naksir si Angeline yaaaa? Hayoo ngaku! :P
Membaca isi pesan email tersebut, Tony langsung kaget. Dengan mata melotot, Tony langsung membalas email tersebut.
Loh? Tau dari mana kamu? Jangan bilang dari si John lagi. Rese juga tuh anak!
Tiba-tiba Blackberry Tony kembali berbunyi. Kali sebuah SMS yang masuk. Dia membaca nama pengirimnya, Jono Sukamto. Dengan rasa kesal, Tony langsung membaca isinya.
Ton, kbtln bgt ni di warnet Gw ktm ma c Garry. Gw d ajak ngnep d kosannya. Bysalah mw main Point Blank brg. Jga dri lo y. Klo da maling bunyiin ja kntongan d blkg. Tar satpam kompleks psti dtg ko. Ok! Thx Brow. John.
“Aaaahh… Si kutu kupret malah mau asyik-asyikan main PB sama si Garry,” kata Tony kesal sambil melempar Blackberry-nya ke atas kasur. Sementara itu email balasan dari Kitty Holmes datang.
Hehehehe.. Udahlah kak, buat apa coba marah-marah sama kak John? Daripada itu, mau aku bantuin gak kak? :P
Membaca penawaran yang dilakukan oleh Kitty Holmes, rasa sebal yang membara pada John langsung sirna. Dengan semangat baru, Tony langsung menulis email balasan.
Mau banget! :D
***
“Ton!” panggil John sambil berlari-lari mengejar Tony yang sudah lebih dulu sampai di depan gerbang kampus.
“Apaan, John?”
“Wah! Ternyata beneran lo! Kapan potong rambut lo? Hahahaha.. Gini kek dari dulu, kan jadi berkesan lebih ganteng. Kesannya aja loh yah,” kata John sambil tertawa.
“Tadi pagi,” kata Tony santai.
Gaya rambut Korea Gagal yang sebelumnya menghiasi kepala Tony kini sudah berubah total. Rambut barunya lebih pendek, dan bergaya Mohawk. Jauh lebih rapi daripada biasanya.
“Hahaha… dalam rangka apaan lo potong rambut? Gara-gara gue bilang si Angeline ngga suka cowok berambut gondrong yah?” kata John. “Wah, nggak nyangka ternyata sampe seserius ini lo mau deketin si Angeline. Salut gue, Ton!”
Tony hanya membalas perkataan John dengan senyuman ala kadarnya. Mereka berdua berjalan memasuki gedung kampus dalam diam, hingga akhirnya Tony berkata.
“John, gue cabut dulu, ya.”
“Loh, mau kemana lo?”
“Nanti gue balik lagi. Kelasnya masih setengah jam lagi, kan?”
John merasa sedikit penasaran, tapi tak terlalu menghiraukannya.
“Okelah kalo begitu. Gue duluan, Ton!”
“Sip!” Tony berjalan perlahan menuju koridor sepi di sebelah kiri. Dia menoleh ke segala arah untuk meyakinkan bahwa tak ada orang lain yang mengikutinya atapun melihatnya. Setelah merasa cukup yakin, Tony merogoh saku celana jeans-nya dan mengeluarkan selembar kertas yang terlipat rapi. Dia membuka lipatan kertas tersebut, memicingkan mata sambil membetulkan posisi kacamatanya dan membaca catatan yang tertulis di sana.
How to Get Closer with Angeline (by Kitty Holmes) Part 1 :
- Potong rambut dengan gaya yang OK! (v)
- Cari Angeline!
- Pura-pura aja gak sengaja nabrak dia sampe jatuh!
- Bantuin dia berdiri and beresin buku-bukunya yang berantakan!
- Ajak kenalan dan korek informasi sebanyaknya tentang dia!
- Usahakan dapetin nomor teleponnya!
“Hmm, berarti sekarang gue harus nyari dimana Angeline,” gumam Tony. Dia kembali melipat kertasnya dan menjejalkannya kembali ke dalam saku celana jeans-nya.
Tony melirik ke arah jam tangannya. Masih banyak waktu sebelum kuliahnya dimulai. Tony berjalan menyusuri koridor dan menuju kelas dimana Angeline akan kuliah hari itu. Informasi ini didapatkannya dari Kitty Holmes.
“Lab Bahasa… Lab Bahasa…” Tony berjalan cepat sambil terus bergumam. Jantungnya berdegup sangat kencang, tapi kaki-kakinya tetap melangkah dengan mantap.
“Karin, tunggu yah! Aku mau ngembaliin buku-buku ini ke perpustakaan dulu!”
Terdengar suara yang dikenalnya sebagai suara Angeline dari tikungan sebelah kanan searah dengan posisi dimana Lab Bahasa berada. Tony menghentikan langkah kakinya, dan bersembunyi di belakang tembok. Menunggu hingga Angeline berjalan melewati jalan di sampingnya.
“Yak, pas Angeline lewat di samping sini, gue bakalan langsung jalan menabrak dia! Ya, rencana ini harus berhasil!” batin Tony.
Tony mendengar langkah-langkah kaki Angeline semakin mendekati posisinya.
“Sekarang!”
BRAAAKKK!!
Buku-buku yang dibawa oleh Angeline jatuh berantakan di koridor. Angeline berdiri diam karena kaget. Matanya menatap Tony yang tengah terjengkang di lantai.
“Loh? Kenapa malah gue yang jatuh?” kata Tony di dalam hati. “Sial, gagal total! Gue yang nabrak, kenapa gue sendiri yang jatuh?”
“Maaf,ya! Kakak nggak kenapa-kenapa?” tanya Angeline.
“E-eh? Y-ya, nggak kenapa-kenapa kok, hehehehe…” Tony salah tingkah.
Tony mencoba untuk segera bangkit berdiri, namun dilihatnya Angeline berdiri agak menunduk tepat di depannya. Memberikan senyuman manis seperti pada saat kali pertama melihatnya. Angeline mengulurkan tangannya.
“Aku bantu, Kak!” kata Angeline dengan nada bicaranya yang terdengar manja. Tony gemetar. Dia merasa tidak yakin apakah akan menggapai tangan Angeline. Tangan seorang cewek cantik yang sedang dia idam-idamkan.
Perlahan tapi pasti, Tony menggapai tangan Angeline dan sekejap tubuh Tony seperti tersengat listrik. Baru kali ini dia merasakan sensasi seperti ini. Baru kali ini dia menggenggam tangan seorang cewek.
Akhirnya, Tony berhasil berdiri. Sementara itu Angeline sedikit berjongkok untuk mengumpulkan buku-bukunya yang berserakan.
“A-ah! Sini… sini… biar gue bantu!” kata Tony teringat akan hal selanjutnya yang harus dia lakukan berdasarkan catatan Kitty Holmes.
“Nggak usah, Kak! Gak apa-apa kok,” kata Angeline. Namun dia membiarkan Tony untuk tetap membantunya mengumpulkan buku-bukunya.
“Eh… Err… Boleh tau gak namanya siapa?” tanya Tony mendadak.
“Aku Angeline, Kak! Angeline Sastrowardoyo,” jawab Angeline sambil tersenyum. “Kalau Kakak?”
“Gu-Gu—Aku Tony! Ya, aku Tony! Tony Hermanto,” jawab Tony. “Mau ke perpustakaan ya Angeline?”
“Iya, Kak,” Angeline bangkit berdiri bersama dengan buku-buku yang telah selesai dikumpulkannya.
“Err… Aku juga mau ke perpustakaan nih, gimana kalo kita bareng aja? Dan buku-buku yang kamu bawa itu kayaknya berat deh. Sini biar aku bantu bawain, yah!” Tony berkata pada Angeline sambil mengambil tumpukkan buku di pelukan Angeline.
Angeline yang melihat gelagat Tony hanya tertawa.
“Terima kasih ya, Kak!”
“Hehehehe.. No problemo!” Tony tersenyum. Ada sedikit perasaan lega di dalam hatinya. Dia berhasil berkenalan dengan Angeline. Dia memejamkan matanya dan mencoba meyakinkan dirinya lagi.
“Ini bukan mimpi! Gue berhasil! Thanks to KITTY HOLMES!!” kata Tony di dalam hati.
Saat Tony membuka matanya lagi, dilihatnya Angeline sudah berjalan cukup jauh di depannya. Dia tengah memandang Tony seakan memberikan isyarat agar Tony segera menghampirinya.
“Tunggu, Angeline!” panggil Tony riang dan mengejarnya dengan penuh semangat.
***
Jam tujuh malam pun tiba. Tony tengah duduk santai di depan laptopnya yang menyala menampilkan halaman akun email-nya. Dia berniat untuk menulis sesuatu, seperti ucapan terima kasih banyak kepada Kitty Holmes. Namun, mendadak John membuka pintu kamar Tony.
“Ton!”
“Apaan sih lo? Ketok pintu dulu kek, gue kaget tau!” bentak Tony.
“Hehehe… Sorry, Cuy! By the way, tadi kemana? Kok nggak masuk kelasnya Pak Jihan?”
“Iya, gue telat! Gue di perpustakaan sama Angeline,” jawab Tony.
“Heh? Serius lo? Sama Angeline? Hahahahahaha…” kata John sambil tertawa lebar. “Wah, berarti sukses juga yah lo mau deketin dia. Lo belom keluarin mantra to-the-point lo itu kan?”
“Nggak! Gue udah berusaha buat nahan biar kata-kata itu nggak keluar cepet-cepet,” kata Tony. “Tapi Gue udah berhasil dapet nomor handphone-nya nih.”
“Serius lo? Aseeemmmm, gue aja butuh waktu tiga hari sebelum berhasil minta nomor handphone cewek yang lagi gue incer.”
“Cupu lo berarti, John!”
“Wha—apaah!! Hahahahaha… Gitu nih sekarang, udah dapet langsung sombong. Oke deh, gue nggak mau ganggu orang lagi seneng dulu, ah. Hahahaha…” John menutup pintu kamar Tony dan pergi keluar rumah.
Setelah yakin John telah benar-benar keluar dari rumah, Tony kembali menatap layar monitornya. Sudah ada sebuah email baru yang menunggu. Pengirimnya adalah Kitty Holmes. Dengan penuh semangat, Tony membuka isi dari email tersebut.
Halo, Kak! Gimana tadi berhasil gak? :D
Tony langsung menekan tombol reply dan mengetik email balasan dengan semangat membara.
You kno’ what? BERHASIL!! I really made it!! XD Aku dapet nomor handphone-nya juga sekalian. Ah ya, ada ide gak sekarang apa lagi yang mesti aku lakuin nih?
Tony menunggu email balasan dari Kitty Holmes sambil memakan indomie rebus yang sejak tadi bertengger di samping meja komputernya. Tak lama, email balasan pun tiba.
Wah, congratz ya, Kak! Sekarang SMS dia aja, Kak! Ajak nge-date Sabtu besok!
Tanpa pikir panjang dan rasa curiga, Tony mengambil Blackberry-nya dan langsung menulis sebuah SMS sambil menahan jemarinya yang gemetar tidak karuan.
M-Met mlm, Angel, lg pa ni? Ku gnggu km g? Ku mw tny ni, Sabtu bsk km da acara g? -Tony-
Belum sempat Tony meletakkan kembali Blackberry-nya, SMS balasan tiba.
Hai, Kak! :D Gaq da c, mank knp Kak? :)
Tony menelan ludahnya. Mangkuk indomie yang dipegangnya nyaris terjatuh. Dia berusaha mengendalikan dirinya agar tetap terfokus dan kemudian menulis SMS balasan.
Klo km mw, ku mw jak km mkn mlm di café deket kampus. Ada yg bru bka n kyaknya seru deh.
Jantung Tony berdegup kencang. Dia ragu Angeline mau pergi makan malam dengannya. Tak lama, SMS balasan pun datang. Dengan tangan gemetar dan berkeringat, Tony membaca isi SMS tersebut perlahan-lahan.
Boleh! ^_^
Tony membelalak. Jantungnya terasa meledak. Tony berusaha menarik napas panjang dan menghembuskannya perlahan-lahan. Dia mencoba untuk tetap fokus. Bukan main bahagianya Tony, karena untuk pertama kalinya sepanjang hidupnya, dia berhasil mengajak seorang cewek cantik makan malam bareng.
Ok, ku tunggu di cafe jam 19:00 y… :)
Setelah akhirnya Angeline kembali mengirimkan SMS tanda ia menyetujui ajakan Tony, mendadak dirinya teringat pada Kitty Holmes. Maka dia menuliskan email balasan padanya untuk memberitahukan tentang keberhasilannya mengajak Angeline makan malam.
Cukup lama mereka saling berkirim email hingga tidak terasa waktu telah menunjukkan pukul 23:00. Sebelum pamit untuk tidur, Tony meminta bantuan lagi kepada Kitty Holmes tentang apa yang seharusnya ia lakukan pada acara makan malam nanti. Kemudia email dari Kitty Holmes datang. Tony membukanya dan membaca isinya dengan semangat.
How to Get Closer with Angeline (by Kitty Holmes) Part 2 :
- Pakai baju santai tapi rapi. Jadilah diri sendiri. Oh ya, jangan lupa juga pakai deodorant and parfum.
- Siapkan bunga untuknya, cewek itu seneng loh dikasih bunga.
- Sesekali puji dia deh, misalnya “Hei, cantik banget kamu male ini.”
- Ajak ngobrol yang nggak basi, kalo bisa obrolin aja tentang hobby-nya
- Tetep rileks, jangan linglung, jangan canggung, keep your focus. Jangan mikir yang nggak-nggak!
Tony mencatat semuanya ke dalam secarik kertas. Memberikan ucapan terima kasih pada Kitty, dan mematikan laptopnya. Sabtu nanti akan menjadi hari paling bahagia untuknya. Dia mematikan lampu kamarnya dan merebahkan tubuhnya di atas kasur busa yang empuk.
Tony memejamkan matanya, sementara itu didengarnya pintu depan rumah terbuka disusul oleh suara John yang terbatuk. John sudah pulang. Kini, Tony bisa tidur dengan tenang.
***
Hari Sabtu yang ditunggu pun akhirnya tiba. Tony tengah bersiap-siap untuk menghadapi malam yang selalu dibayangkannya akan menjadi malam paling tak terlupakan sepanjang hidupnya. T-shirt abu-abu polos dengan bentuk v-neck dan celana jeans hitam melekat di tubuhnya. Dia juga mengenakan blazer hitam untuk membuatnya terlihat lebih gagah. Sayangnya memang tak ada satupun hal yang dapat dia lakukan untuk menutupi jerawatnya yang lebat.
“Rambut udah oke! Baju oke! Celana oke! Blazer oke!” gumam Tony dalam hati. Kemudian dia mencium bau badannya. “Ok, I need parfume!”
“Kemana lo, Ton?” tanya John yang mendadak masuk ke dalam kamar Tony.
“Mau nge-date sama Angeline dong,” jawab Tony singkat sambil tetap sibuk pada kegiatan berdandannya.
“Hahahaha… Asyik nih yang udah deket sama Angeline… Titip salam yak!”
“Ogah! Hahaha…”
“Ah, dasar pelit lo! Emang janjian di mana, Ton?”
“Mau tau aja lo…” jawab Tony belagu.
“Hahahaha… Iya deh iyaaa..! Moga sukses yak kencan lo,” kata John sambil mengambil jaketnya. “Gue kebetulan juga ada kencan sama Farah, gue duluan ya, Ton! Jangan lupa kunci pintu pas lo keluar!”
“Farah?” pikir Tony dalam hati. Entah kenapa pikirannya langsung tertuju pada Kitty Holmes.
“Dia tau email gue lewat John, dia juga tau kalo gue naksir Angeline dari John, dan sekarang cewek yang bernama Farah ini janjian sama John. Masa iya dia Kitty Holmes?”
Tony mengambil catatan yang terlipat rapi dari atas mejanya dan memasukkan ke dalam saku celana jeans-nya. Dia memastikan lagi bahwa dompet bergambar Doraemon kesayangannya sudah tersemat kuat di saku belakang celananya. Dia kembali berpikir akan identitas Kitty Holmes yang sebenarnya. Namun, melihat jam dinding sudah menunjukkan pukul 18:40, Tony langsung menarik napas panjang, menenangkan dirinya, dan segera beranjak dari kamarnya.
Seperti biasa di malam Minggu, seluruh tempat dipenuhi oleh para remaja yang sedang sibuk berpacaran. Sama halnya dengan kafe tempat di mana Tony dan Angeline akan menghabiskan waktunya untuk makan malam bersama. Untungnya, Tony berhasil memesan tempat sebelum akhirnya habis dipesan oleh orang lain.
Tony sedang duduk sendiri di bagian paling belakang dan terluar dari kafe ini. Tempat tersebut adalah tempat paling romantis bila dibandingkan dengan posisi meja-meja yang lainnya. Sebuah kolam ikan yang berukuran lumayan besar berada di sampingnya, dan suasana malam yang nyaman dapat dinikmati tanpa terhalangi oleh apapun. Suasana outdoor yang menyenangkan. Bulan purnama terlihat sangat indah.
Tony melihat ke arah jam tangannya. Sudah pukul 19:08. Memang agak terlambat, tapi Tony yakin, Angeline pasti datang.
Keyakinan Tony berbuah baik. Tak lama kemudian Angeline datang dengan mengenakan sebuah dress hitam yang dibalut dengan cardigan hitam yang indah. Dia mencari-cari Tony. Tony mengangkat tangannya tinggi-tinggi memberikan isyarat keberadaannya. Jantungnya mulai berdetak hebat. Angeline cantik sekali malam ini. Jauh lebih cantik daripada yang biasa terlihat di kampus.
“Hai, Kak!” sapa Angeline sambil tersenyum.
“Ha-Hai, Angeline…” Tony gugup. Namun ia tetap berusaha tampil sesempurna mungkin. Ia bangkit berdiri, dan membantu menarik kursi Angeline dari belakang. Angeline duduk dengan nyaman.
“Maaf yah aku terlambat,” kata Angeline.
“Ah, ya, nggak apa-apa kok,” Tony menimpali. “I-ini…”
Tony mengeluarkan setangkai mawar yang disiapkannya untuk Angeline. Angeline tersenyum dan kemudian tertawa. Dia tak menyangka akan diberikan kejutan semacam ini. Di ambilnya bunga mawar merah tersebut dan menghirupnya dalam-dalam.
“Terima kasih ya, Kak! Bunganya bagus banget”
“Iya, sama-sama,” Tony tersenyum grogi.
Hening. Tony hanya memandangi Angeline dalam-dalam. Di dalam hatinya dia benar-benar tidak pernah menyangka bisa sedekat ini dengan seorang wanita cantik dan baik seperti Angeline.
Merasa dipandangi terus-menerus, Angeline tersenyum malu.
“Kenapa memandang aku terus kayak gitu, Kak? Aku kan malu.”
“O-oh! Maaf! Maaf! Abisnya… Abisnya malam ini kamu cantik banget Angeline.” Jantung Tony berdegup kencang. Dia menahan diri untuk tidak langsung mengucapkan mantra to-the-point miliknya. Dia tidak boleh merusak suasana malam ini.
“Oh ya?” Angeline menutup wajahnya yang memerah. “Kakak, bisa aja deh. Terima kasih ya, Kak buat pujiannya.”
“Err—gi-gi-gimana kalo kamu panggil aku Tony aja? Nggak usah pake ‘Kak’?” Tony yang dilanda rasa nervous dan kurangnya pengalaman dalam hal berkencan membuatnya sulit untuk memikirkan kata-kata lain sebagai obyek pembicaraan.
“Hihihihi… Tadinya aku ngerasa nggak enak, kan kakak senior aku. Tapi kalo kakak mau begitu oke deh. Err… Tony..” Angeline menunduk untuk menyembunyikan wajahnya yang merah.
“Apa? Coba sebutin lagi?”
“To-Tony! Hahahaa.. Iiiihhh udah ah, kamu norak deeehh…” kata Angeline bercanda.
“Hahahahaha..”
Setengah jam mereka bercanda dan tertawa bersama. Benar-benar pengalaman yang sangat menyenangkan bagi Tony. Dia dapat mengenal lebih jauh lagi tentang cewek yang disukainya tersebut. Mereka saling bertukar kisah lucu dan memalukan. Bahkan Tony menceritakan tentang dirinya yang sebenarnya tidak pernah berpacaran. Bagaimana Tony mengalami seratus kali penolakan cinta. Tentu saja dia tidak menceritakan tentang cewek yang dia tembak secara instan tempo hari.
Tak terasa waktu telah menunjukkan pukul 21:00. Sudah saatnya bagi Tony mengantar Angeline pulang. Mereka memilih untuk berjalan kaki dengan alasan jarak rumah kost Angeline terletak tidak jauh dari cafe. Lagipula berjalan kaki berdua dapat memperlambat waktu perpisahan antara Tony dengan Angeline di malam itu. Sementara perjalanan mereka diiringi oleh bulan purnama yang terang benderang. Terlihat sangat indah.
“Err.. Angel..”
“Emm?”
“Ka-kamu, belum punya pacar kan?”
Angel menyunggingkan senyum manisnya.
“Menurut kamu?”
Tony terdiam. Jantungnya berdebar lebih cepat.
“Aku harap kamu belum punya pacar,” kata Tony cepat dengan wajah yang memerah.
“Hahahaha… Kamu lucu deh, Ton!” Angeline memandang Tony dengan pandangan yang menyentuh hati. “Aku belum punya pacar kok.”
Mendengar kata-kata Angeline, Tony menjadi bersemangat. Tapi, tiba-tiba saja Blackberry di dalam saku blazer Tony bergetar. Spontan Tony mengeluarkan Blackberry-nya dan membaca pesan di layar. Sebuah email dari Kitty Holmes.
“Se-sebentar ya, Angel! Aku harus membalas SMS dulu…”
Angeline mengangguk pelan sambil terus tersenyum. Sementara Tony membaca isi email tersebut.
Hai, Kak! Gimana makan malamnya? Berhasil nggak? Hihihihihi..
Tony mengetik email balasan secepat kilat.
Berhasil! Selanjutnya apa nih, Kitty?
Email terkirim. Tony menghampiri Angeline yang kini sedang duduk di pinggir trotoar sambil memandangi bulan di angkasa.
“Bulannya indah banget, yah?” tanya Angeline.
“I-iya.. Indah banget,” Tony menimpali dan kemudian duduk di samping Angeline.
“Kamu.. Kamu tau gak? Aku nggak mau deh mala mini cepet-cepet berganti.”
Angeline menoleh ke arah Tony dan menatapnya tajam-tajam sambil tersenyum. Tony makin grogi. Sementara itu Blackberry Tony bergetar lagi. Dia mengeluarkannya dari saku blazer-nya dan membaca email balasan dari Kitty Holmes dengan cepat.
Tunggu apa lagi, Kak? Kalo mau to-the-point juga gak apa-apa kan? Hihi.. :D
Tony menelan ludah dan memasukkan kembali Blackberry-nya ke dalam saku blazer-nya. Dia kembali menatap Angeline yang kini sedang memejamkan matanya sambil tersenyum. Wajahnya menengadah ke atas dan menyenandungkan sebuah lagu.
Tony mendekatkan dirinya pada Angeline. Dia kumpulkan seluruh keberaniannya untuk mengeluarkan kata-kata.
“Angeline…”
“Ya?” Angeline menyahut dengan riang.
“A-aku..” Tony gemetar. Ini adalah kali pertama dirinya merasakan nervous yang sehebat ini.
“Hmm..?” Angeline memandang Tony dengan senyum yang manja. Tony memejamkan matanya. Menarik napas dalam-dalam dan menghembuskannya perlahan-lahan. Dengan keyakinan yang bulat akan perasaannya, Tony tak ragu lagi untuk berkata.
“Angeline.. Kamu… Kamu mau gak jadi—“
***
“Selesai juga akhirnya,” kata John sambil menaruh kembali handphone-nya di atas meja.
“Apanya yang selesai, Sayang?” tanya seorang cewek yang duduk di samping John.
“Hehehehe.. Nggak kok, Farah… Bukan apa-apa,” John bangkit berdiri dan meregangkan otot-otot tubuhnya. “Hanya membantu seorang teman.”
John berjalan menuju dapur, dan mengambil dua botol minuman soda dari dalam kulkas. Sementara itu handphone John berbunyi nyaring. John kembali dari dapur dan meletakkan kedua minuman soda tersebut di atas meja.
“Siapa nih, Sayang?” tanya Farah sambil menyerahkan handphone milik John.
“Emm? Oh, email dari si Tony,” John meneguk minuman sodanya sekali, dan kemudian membuka email yang dikirim oleh Tony. Hanya ada tulisan singkat di sana. Namun, John tertawa setelah membacanya.
Thanks, Kitty Holmes.. :)
THE END
ACR: Seandainya Saja
by Herjuno Tisnoaji
Seandainya saja aku tidak menerima tawaran Shinji untuk minum-minum terlebih dahulu, mungkin aku tidak akan ketinggalan kereta.
Benar, sepulang rapat yang membuatku harus berada di kantor tiga setengah jam lebih lama, temanku yang berambut keriting itu mengajakku untuk mampir ke kedai sake baru dekat kantor. Aku sendiri sebenarnya bukan tipe orang yang suka menghabiskan uangku untuk minuman beralkohol macam sake dan bir, jadi awalnya, aku sudah bersiap-siap menolak. Namun, karena Kachou—Kepala Seksi--ternyata juga tertarik untuk ikut pergi ke sana, maka mau tak mau aku pun berakhir di kedai tersebut. Untunglah, dengan alasan aku tidak kuat minum dan masih ada pekerjaan lain yang harus kuselesaikan di rumah, aku berhasil “melarikan diri” dari mereka. Namun, tetap saja malam sudah terlalu larut saat aku keluar dari kedai itu—sudah menjelang tengah malam—dan kereta terakhir dari Kamigyo-ku menuju Higashimuko adalah pukul setengah dua belas. Beruntung ada taksi yang kebetulan parkir di dekat kedai malam itu, jadi setidaknya aku tidak harus berjalan kaki menuju apartemen. Ini sudah awal bulan Desember, dan hanya orang yang tidak punya otak yang mau berjalan selama nyaris tiga jam di tengah udara beku seperti ini.
Aku tiba di dekat apartemenku menjelang pukul satu, dan udara beku jahanam itu langsung menyergapku saat aku keluar dari taksi. Setengah menggigil, aku buru-buru membayarkan sejumlah yen kepada sang supir taksi. Kurapatkan jaket kulitku saat sebuah angin malam yang dingin berhembus. Jaket itu memang membuatku badanku cukup hangat, tapi ia tidak berhasil menjadikanku lebih baik. Terlebih salju juga sudah mulai turun, jadi aku tahu kalau aku harus segera masuk ke kamar apartemenku dan menghangatkan diriku di bawah kotatsu.
Gang depan apartemenku tampak gelap saat aku berjalan melewatinya. Kentaro-kun, putra pemilik apartemen, pastilah belum mengganti lampu beranda, padahal ayahnya sudah memintanya sejak pagi. Aku mendesah. Aku tidak pernah menyukai jalanan yang gelap dan sepi karena membuatku merasa tidak aman (lagi pula, siapa yang suka?). Namun, untunglah hanya ada seorang gadis berjaket hitam yang tengah berjalan ke arahku. Aku tidak tahu apa yang dilakukannya malam-malam begini di tempat seperti ini—dan aku juga tidak peduli—tapi yang pasti, ia tampak tidak berbahaya. Kuputuskan untuk mengabaikan gadis itu dan membiarkan dirinya memapasiku. Untunglah apartemenku sudah dekat, jadi aku bisa segera....
Bruk.
Eh? Suara apa itu dari belakang? Kutolehkan kepalaku melewati punggung, dan saat menyadari apa yang kulihat, aku langsung terkesiap. Sesosok tubuh perempuan yang mengenakan jaket hitam—gadis yang tadi—kudapati tengah tertelungkup di tengah salju, terdiam tanpa suara.
***
Seandainya saja aku tidak menerima tawaran Shinji untuk minum-minum terlebih dahulu, mungkin aku tidak akan bertemu dengan gadis itu. Lebih tepatnya lagi, aku mungkin tidak akan mendapati gadis itu pingsan di luar apartemenku. Aku mungkin juga tidak akan bersusah payah membopong gadis itu melewati tangga, dan lalu membaringkannya di futon setelah sebelumnya menukar jaket ungunya (benar, ternyata warnanya ungu) yang basah dan lembap dengan selimut kering.
Tiga jam berlalu sejak aku membawa gadis itu ke kamar apartemenku, dan selama itu pulalah aku tidak memejamkan mata barang sedetik pun. Aku memutuskan untuk tetap terjaga seraya bersimpuh di dekat futon, berharap gadis ini akan segera tersadar. Setelah itu, aku akan dapat menanyai siapa dirinya, dari mana asalnya, dan apa yang ia lakukan. Akan lebih baik kalau aku dapat segera mengantarnya pulang. Tentu saja, aku harus menjelaskan apa pada Kentaro apabila ia meliat ada seorang gadis di kamar apartemenku?
“...Uh.”
Sebuah gumaman yang dilontarkan gadis itu membuatku berpaling kepadanya. Aku dapat melihat matanya terkerjap, dan tidak lama kemudian, mata itu lantas membuka. Gadis itu kemudian bangkit dari posisi berbaringnya, setelah itu, mengedarkan pandangannya ke sekeliling kamar apartemenku. Ia tampaknya tidak melihatku, karena aku memang berada di balik punggungnya
.
“Sudah sadar?” Itu adalah kalimat pertamaku kepadanya; sebuah kalimat yang sekaligus membuat gadis itu terlonjak kaget. Ia lalu menoleh kepadaku, dan sebagai tanggapan, mengedikkan kepalanya sekali—sebuah pertanda bahwa ia bingung dengan keadaannya sekarang.
“Ini di mana? Kenapa aku di sini? Dan kamu...siapa?”
Aku tersenyum sejenak kepada gadis itu, berusaha memberinya pandangan menenangkan. Kemudian, dengan sebuah suara yang kubuat selembut mungkin, aku berucap, “Aku menemukanmu pingsan di depan apartemenku tadi malam, jadi aku membawamu ke sini.”
“Begitu, ya,” gumamnya lirih. Ia lalu melirik ke arahku sejenak, dan seteah itu, dengan suara yang masih bergetar, berkata, “Arigatou—terima kasih."
“Dou itashimashitte—sama-sama,” jawabku. “Perkenalkan, aku Mizuno Hiroshi, tapi kamu bisa memanggilku Mizuno,” ucapku seraya membungkukkan kepalaku sedikit. “Dan kamu adalah...?”
Gadis itu tidak segera menjawab. Alih-alih, ia justru memandangiku cukup lama dengan mata sipitnya yang hitam. “Aku...namaku Haruka,” jawabnya. “Haruka...Haruka.... Aku tidak ingat nama keluargaku!”
Hilang ingatan? Sial, hal seperti ini tidak hanya terjadi di film-film saja, ternyata. Akan menjadi repot kalau seperti ini kejadiannya.... “Kamu ingat di mana rumahmu?” tanyaku, berharap ia akan mengiyakan. Siapa tahu dia hanya lupa nama keluarganya, tapi ia ingat tempat tinggalnya?
“Rumah...ku?” tanyanya. Ia lalu menempelkan jari tengah dan telunjuk kanannya di bibir, setelah itu, menerawang ke arah langit-langit. “Aku...tidak ingat. Yang kutahu adalah aku dari Osaka, tapi aku tidak tahu lebih jauh! Tapi aku merasa ada sesuatu yang harus kulakukan sehingga aku pergi ke sini,” ucapnya. Yah, setidaknya dia tahu kota asalnya, meski tentu saja hal ini tidak membantu banyak mengingat Osaka adalah kota yang luas.
“Kamu punya tanda pengenal?” Aku mencoba menggali lebih jauh setitik informasi yang mungkin mengenai dirinya. Ia lantas mulai menelusuri seluruh kantungnya, dan setelah menemukan sebuah dompet dari saku belakangnya, ia menggeleng. Ah, sial. Perdana Menteri Jepang sepertinya harus mengganti peraturan bodoh yang tidak mewajibkan penduduk Jepang untuk memiliki kartu identitas....
KRIIIING....!
Suara weker yang bersumber dari meja kecil dekat futon itu memberitahukan diriku bahwa kini sudah pukul lima pagi (dan sekaligus berhasil membuat gadis itu—Haruka—terlonjak). Itu artinya, aku harus bersiap-siap kembali ke kantor. Aku menghela nafas dalam-dalam. Kuharap aku tidak tertidur di kereta, karena kelopak mataku terasa cukup berat kini. “Baiklah, eh, Haruka,” ucapku seraya mematikan weker yang terus membunyikan suara nyaring sialan itu. “Aku harus pergi bekerja. Kamu tetaplah di sini...”
“Ja...jangan pergi,” tukasnya. “Bagaimana denganku? Aku tidak mau sendirian!”
“Tenang saja, aku tidak akan lama,” balasku sambil mengira-ngira alasan apa yang dapat kugunakan kepada Kachou. Janjian dengan dokter mungkin ide yang bagus—aku akan memikirkan penyakitnya nanti. “Jangan membukakan pintu bagi siapa pun, oke? Untuk makan siang, ada beberapa ramen instan di kulkas, jadi kamu bisa memakannya,” lanjutku. Tiba-tiba, aku jadi merasa menjadi seorang ayah yang menasihati putrinya. Atau mungkin lebih tepatnya lagi, seorang kakak yang menasihati adiknya, karena umurku belum sampai empat puluh dan gadis ini juga sepertinya tidak bisa dibilang anak-anak.
“Baiklah,” ia berucap lirih. Aku lalu memberikan sebuah senyuman kecil kepadanya, dan setelah itu, beranjak pergi meninggalkan kamar. Kalau aku tidak salah ingat, selain ramen instan, masih ada sebungkus roti di kulkas—aku memasukkannya agar tidak dimakan tikus—jadi setidaknya, aku tidak membiarkannya perutnya kosong pagi ini.
***
Kachou, untunglah, memberiku izin untuk pulang lebih awal, meski aku yakin ia tidak percaya sepenuhnya saat aku berkata aku harus memeriksa jantungku. Namun, sebagai kompensasinya, ia memintaku untuk bekerja lembur besok (yang tentu saja terpaksa harus kusetujui). Aku pun memutuskan untuk mampir ke pos polisi sepulangnya dari kantor, setelah sebelumnya mencoba mencari informasi mengenai gadis itu lewat Internet ponselku. Ternyata, itu merupakan langkah paling konyol yang pernah kulakukan. Ada ribuan nama Haruka di Osaka, dan hal itu semakin sulit karena gadis itu lupa dengan nama belakangnya.
“Permisi, Pak,” ucapku kepada seorang polisi yang tengah berjaga di sebuah pos. “Saya hendak melaporkan sebuah penemuan...”
Polisi itu langsung menurunkan tangannya yang sedari tadi berada di balik punggung, dan kemudian, memintaku masuk ke dalam pos. Seorang polisi lain yang lebih muda lantas menanyakan sejumlah identitasku—seperti nama lengkap dan pekerjaanku. “Jadi,” ucap polisi muda itu tanpa berpaling dari layar komputer di hadapannya, “apa yang Anda temukan? Dompet? ”
“Sebenarnya, Pak, saya menemukan seorang gadis.”
Perkataanku berhasil membuat dirinya menatapku kali ini—sebuah kebingungan jelas terpancar dari tatapan tersebut. Tapi aku bisa paham. Tidak setiap hari ada orang yang melaporkan bahwa ia menemukan seorang gadis, bukan? “Maksud Anda, Pak?” tanyanya dengan keraguan yang kentara.
“Jadi begini,” balasku, “ada seorang gadis yang pingsan di depan apartemen saya tadi malam, dan ia sepertinya hilang ingatan. Ia tidak memiliki apa pun yang dapat menunjukkan siapa dirinya, kecuali bahwa ia mengaku bernama Haruka dan berasal dari Osaka.”
Polisi muda itu mengangguk sekali mendengar penjelasanku. Untunglah ia sepertinya mengerti, dan bukannya menuduhku sebagai penculik atau semacamnya. Tentu saja, mana ada seorang penculik yang melapor ke kantor polisi? “Bisa Anda jelaskan ciri-cirinya?” ucapnya setelah menambahkan keteranganku di komputernya.
“Rambutnya hitam sebahu, wajahnya oval, dan hidungnya cukup mancung,” jawabku, meski aku tidak yakin dengan penjabaran terakhirku. Aku lantas membiarkan polisi itu mengetik segala ucapanku sebelum akhirnya aku melanjutkan, “Ia juga agak kurus. Selan itu, ia mengenakan jaket ungu, rok selutut warna cokelat, legging ungu, dan sepatu bot hitam.”
“Ada fitur spesifik? Mungkin tahi lalat atau tato, atau semacamnya?”
Tahi lalat? Aku tidak memperhatikan gadis itu secara mendetail (lagi pula, saat itu gelap), jadi aku tidak tahu. Mungkin kali lain aku harus memfoto wajahnya dengan ponselku.... “Tidak, saya tidak ingat,” aku menjawab jujur.
Polisi itu kembali membubuhkan informasiku ke dalam komputer. Setelah mengulang deskripsiku mengenai orang tersebut (dan setelah aku mengonfirmasinya), ia lalu berkata, “Baiklah Mizuno Hiroshi-san. Kami akan mengisukan hal ini dan mengontak Kepolisian Osaka, jadi harap tunggu kabar selanjutnya dari kami. Tolong tinggalkan nomor Anda yang bisa kami hubungi.”
Aku mengangguk mendengar kata-kata polisi itu. Baguslah. Setidaknya, aku memperoleh bantuan untuk mengidentifikasi gadis itu. Aku kemudian mengucapkan terima kasih kepada polisi tersebut, dan setelah memberikan nomor ponselku, aku bergegas kembali ke apartemenku. Haruka pastilah tengah mengharapkan kepulanganku kini, jadi tentu saja aku tak akan membiarkan ia menunggu lebih lama!
***
Ketika aku membuka pintu kamar apartemenku, aku serta-merta mendapati Haruka tengah berjalan melintasi ruangan. Sesekali, ia terlihat membalik-balik bantal dudukku, atau merogoh-rogoh jaket yang tadi pagi kusampirkan dengan asal di lantai. Sepertinya, ia tengah mencari sesuatu. “Ada apa, Haruka?” tanyaku seraya beranjak ke arahnya.
Haruka menoleh kepadaku, dan kemudian, berkata dengan nada cemas, “Ponselku! Ponselku tidak ada! Seharusnya ada di jaketku, tapi....”
Ponsel? Ternyata dia punya ponsel? Ah, ini berita bagus, karena dari ponsel itu, aku dapat menghubungi orang yang mungkin ia kenal. Ia pastilah menyimpan nama orang tuanya di ponsel itu, bukan? Namun, hal pertama yang harus kulakukan adalah membantunya menemukan ponsel itu, jadi itulah sebabnya aku langsung menawarkan diri untuk membantunya. “Baiklah ponselmu seperti apa?”
“Warnanya merah, lalu ada gantungan bonekanya....”
Belum sempat Haruka menyelesaikan kalimatnya, aku mendengar suara ketukan di pintu. Tak lama, suara seorang lelaki mengikutinya. “Mizuno-san? Kau di dalam? Otousan melihatmu sudah pulang tadi.”
Sial, itu Kentaro-kun! Ia hampir tidak pernah mampir ke ruanganku sebelumnya, jadi kenapa dia mampir hari ini? “Ha, Haruka,” panggilku kepada gadis yang masih terlihat kebingungan itu. “Ayo sembunyi. Jangan sampai ada yang melihatmu,” aku menambahkan dengan suara yang kubuat rendah. Kemudian, aku buru-buru menggamit lengan gadis itu, menjejalkannya ke dalam kotatsu, dan lalu menutup kainnya.
“Mizuno-san?” Suara Kentaro kembali terdengar.
“Ya sebentar!” aku membalas. Setelah memastikan kain futon itu cukup rapat untuk menyembunyikan tubuh Haruka, aku kemudian buru-buru beranjak untuk membukakan pintu bagi Kentaro. Seorang remaja jangkung dengan pakaian dekil pun langsung menoleh kepadaku saat aku menyibakkan pintu. “Ada apa?” tanyaku.
“Mizuno-san, Otousan menemukan ini tadi pagi di tangga,” balas Kentaro seraya mengaduk-aduk kantung celananya yang lusuh. Ia lantas mengambil sesuatu dari sana. Sesuatu yang membuatku terbelalak, karena benda itu adalah benda yang dicari-cari oleh kami berdua. Benar,benda itu adalah sebuah ponsel berwarna merah dengan gantungan boneka di salah satu sudutnya—ponsel milik Haruka. “Apa ini punya Mizuno-san? Aku sudah menanyakannya ke penghuni apartemen yang lain, tapi tidak ada yang mengaku.”
“Be...benar, itu punyaku,” aku buru-buru menjawab. Tanganku langsung merebut ponsel itu dari tangan Kentaro, dan dengan sigap, mengamankannya di saku kemejaku. “Terima kasih, Kentaro-kun.”
“Akhirnya,” balas Kentaro. “Ponsel itu membuatku kelabakan, tahu? Otousan ribut seharian ini; ia terus-menerus menyuruhku mengembalikan ponsel itu.”
“Ah, ma, maaf,” ucapku seraya mengelus-elus tengkuk. “Baiklah kalau begitu, Kentaro-kun. Terima kasih sekali lagi.”
Kentaro-kun hanya mengedikkan kepalanya sekali sebagai jawaban, dan kemudian, berjalan menuruni tangga tanpa berkata apa pun lagi. Anak yang aneh, rutukku. Ia harus bersikap lebih sopan lagi, atau tak akan ada yang mau menempati apartemen ini. Ah, sudahlah. Yang penting, aku sudah memperoleh ponsel ini. “Oi, Haruka, kau boleh keluar sekarang.” Perlahan, kepala Haruka pun menyembul dari balik kotatsu, yang dilanjutkan dengan seluruh badannya.
“Siapa orang tadi?”
“Ah, hanya anak pemilik apartemenku,” jawabku singkat. “Dan coba tebak? Dia membawakan ini kepada kita,” aku melanjutkan seraya mengambil ponsel berwarna merah itu dari sakuku.
Haruka langsung kudapati tersenyum lega saat aku menunjukkan ponsel itu . “Yokatta—syukurlah,” ucapnya.
“Baik, dari sini, kita bisa melacak siapa dirimu,” balasku. Ponsel itu berada dalam keadaan mati saat aku memberikannya pada Haruka, dan ia pun dengan segera menyalakannya. Akhirnya, ucapku dalam hati. Akhirnya, aku dapat mengetahui siapa jati diri gadis ini sebenarnya.
Sebuah suara nyaring langsung dikeluarkan oleh ponsel itu begitu benda kecil itu sudah menyala sepenuhnya. Tak lama kemudian, aku melihat sebuah notifikasi e-mail masuk. E-mail itu terkirim kemarin malam, pukul 22.34, dengan nama pengirimnya adalah seseorang yang Haruka sebut dengan “@ori”. Taruhan, itu pasti berarti Aori. Haruka pun dengan segera membuka e-mail tersebut, membuatku dapat membaca isinya. Bagus, ada alamat e-mail Aori di sana, jadi aku bisa.... Hei, tu...tunggu! Tunggu, jangan mati dulu!
Ah, sial! Kenapa baterai telepon itu harus habis di saat-saat seperti ini? Aku pun buru-buru mengambil ponselku—ponselku yang asli—dari saku celanaku, dan kemudian, cepat-cepat menulis alamat e-mail Aori yang sempat kubaca. Itu adalah satu-satunya informasi berharga yang sempat kutangkap dari ponsel itu, jadi mana bisa aku membiarkannya begitu saja!
“Mizuno-san,” kata Haruka sambil memandangku. “Bagaimana ini? Ponselnya mati....”
“Tenanglah,” sahutku. “Aku sudah mencatat alamat e-mail Aori temanmu—atau entah siapa pun itu. Jadi, setidaknya kita punya titik terang,” aku melanjutkan. Sebenarnya, aku hendak menambahkan kata “berharap” dalam kalimatku, tapi aku memutuskan untuk tidak melakukannya karena aku tidak ingin membuat Haruka—atau diriku lebih tepatnya—pesimis. Baik, mari kita hubungi Aori ini.
***
(?・・)σ you?
Simbol aneh apa ini? Dan kenapa pula ia mengirimkannya saat aku bertanya apa dia mengenal Haruka dari Osaka?
“Oh, itu artinya ‘kamu siapa?’,” jelas Haruka. “Mizuno-san tidak pernah pakai kaomoji?”
Kaomoji? Oh ya, sepertinya aku pernah melihatnya. Saat itu, seorang bawahanku yang bernama Yuna mengirimkan e-mail dengan akhiran simbol aneh ini kepadaku, tapi karena waktu itu aku sedang mengetik dokumen yang harus kuberikan pada Kachou besok pagi, aku jadi tidak begitu memedulikannya. Baik, karena dia bertanya siapa diriku, maka aku harus memperkenalkan diriku dengan baik. Kutulis bahwa aku adalah Mizuno Hiroshi, usia 33 tahun, dan bahwa Haruka yang kubicarakan kini berada di apartemenku di Kyoto, sedang kebingungan karena sebagian ingatannya hilang. Baik, terkirim.
Uso—bohong!
(゚Д゚)
Sore o shoumei—buktikan!
( ̄Д ̄)
Bukti...dia minta bukti, ya...? Bukti apa, ya?
“Bagaimana kalau foto diriku?”
Aku menoleh ke arah Haruka sesaat setelah ia berkata demikian. Ah, benar juga! Dengan cepat aku lantas memotret wajah Haruka, dan setelah itu mengirimkannya kembali ke Aori. Butuh wktu agak lama hingga ia membalas; mungkin ia agak terkejut juga.
Ii no... Nani o shitai?—baik...apa yang kauinginkan?
Saigo—akhirnya! Dengan bersemangat , aku lantas bertanya apakah ia mengenal Haruka, atau apakah ia memiliki informasi apa pun mengenai gadis itu. Aori lantas menjawab bahwa ia dan Haruka pertama kali bertemu di 2channel dalam sebuah forum mengenai fashion, dan dari situ, mereka jadi cukup sering chatting bersama. Saat aku bertanya apakah Aori pernah bertemu Haruka, ia menyangkal, meski ia mengaku bahwa mereka pernah saling berkirim foto. Haruka sendiri, menurut Aori, tidak banyak bercerita mengenai dirinya atau keluarganya. Ia hanya tahu bahwa Haruka memiliki seorang kakak dan tengah berkuliah di sebuah akademi keperawatan khusus wanita di Osaka.
Beberapa hari lalu, Haruka berkata bahwa ia hendak ke Kyoto untuk mencari seseorang. Setelah itu, kami putus kontak, sampai kau menghubungiku kembali. Selebihnya, aku tidak tahu.
Begitu isi e-mail terakhir yang Aori kirimkan kepadaku.
Baik, sepertinya ini sudah cukup. Meskipun aku tidak banyak memperoleh latar belakang Haruka, setidaknya aku tahu apa tujuannya berada di sini. Aku kemudian mengucapkan terima kasih kepada Aori, dan setelah ia berpesan kepada Haruka untuk segera pulang, aku lantas memutuskan komunikasi dengannya. “Haruka-san,” panggilku, “kalau begitu bagaimana kalau besok Minggu kita berkeliling Kyoto? Siapa tahu kamu dapat menemukan sesuatu.” Aku tahu bahwa itu hampir mustahil, tapi apa salahnya mencoba?
“Baiklah,” balas Haruka. “Ne, Mizuno-san, arigatou,” ia melanjutkan seraya memandang ke arahku. “Kita belum pernah saling mengenal sebelumnya, tapi kau rela melakukan berbagai hal untukku.”
“I...iya, tidak apa-apa,” jawabku. Aku kemudian ganti memandang mata gadis itu, dan tiba-tiba saja, mukaku terasa panas. Aku lantas buru-buru mengalihkan wajahku dari Haruka, sambil berharap ia tidak melihat rona merah itu. Bukan cuma itu, aku juga berharap ia tidak mendengar bunyi dentuman yang menggema dalam dadaku, atau mendapati keringat dingin yang membasahi telapak tanganku.
Sial, kenapa aku jadi merasa seperti ini?
***
Seandainya saja aku tidak menerima tawaran Shinji untuk minum-minum hari Rabu lalu, aku pastilah tengah berada di apartemenku kini, menghabiskan waktu untuk membaca majalah pria yang belum sempat kubaca. Aku mungkin juga tidak akan mengendarai taksi berkeliling Kyoto bersama seorang gadis amnesia yang—awalnya—tak kukenal. Namun, kenyataannya aku melakukannya. Dan, sekali lagi, aku kembali melakukan sebuah tindakan bodoh, karena bahkan setelah berjam-berjam mengitari Kyoto, Haruka tidak berhasil mengingat apa pun. Tidak setelah kami berkunjung ke Muko, Fukuakusa, dan sejumlah tempat lain yang tak kuingat. Pada akhirnya, kami memutuskan untuk mengunjungi Pasar Nishiki setelah aku harus berhenti menggunakan jasa taksi karena aku merasa uangku tak akan cukup. Aku masih harus membeli telur dan gula di sana. Oh, ya, roti juga hampir habis.
Hari sudah menjelang malam saat kami mengunjungi pasar tersebut. Lampu-lampu berwarna jingga tampak sudah dinyalakan, menerangi kios-kios yang menjual berbagai jenis makanan; mulai dari jamur matsutake, ikan fugu, hingga okonomiyaki yang baunya membuatku lapar. Udara yang dingin dan salju yang mulai turun tidak mengurangi keramaian di Pasar Nishiki. Pasar ini memang dikenal di seantaro Tokyo dengan sebutan Kyoto no Daidakoro—Dapur Kyoto—jadi tidak heran kalau banyak turis datang ke sini.
Haruka berkata bahwa ingin melihat-lihat berbagai kios di sini, jadi aku lantas menemaninya berkeliling. Gadis itu tertarik dengan sebuah dashimaki—dadar gulung Jepang, dan saat aku berkata bahwa aku akan membelikannya, ia menolak. Alasannya, ia masih memiliki sejumlah uang di dompetnya sehingga aku tidak perlu repot-repot membayarinya makanan itu.
“Ne, Mizuno-san,” ucap Haruka saat kami makan malam di Fumiya, sebuah kedai udon yang terletak dekat Jalan Sakaimachi. “Sekali lagi, terima kasih banyak. Mizu—Hiro-niisan sudah banyak membantuku seharian ini.”
Aku hampir tersedak saat Haruka mengubah panggilannya. Hiro-niisan? Terdengar agak aneh datang dari lidah seorang gadis yang baru kukenal selama empat hari, meski, harus kuakui, aku senang mendengarnya. “Tidak apa-apa,” jawabku.
“Tapi omong-omong, kenapa Hiro-niisan mau membantuku sampai sebegini jauh?” Haruka kembali bertanya kepadaku setelah menelan takoyaki-nya (ia tidak memesan udon karena berkata sudah cukup kenyang setelah memakan dashimaki). Aku sendiri langsung mengelus-elus daguku saat mendengar pertanyaan Haruka itu. Benar juga...kenapa aku melakukannya? Kenapa aku mau-maunya berkeliling Kyoto bersama gadis ini, padahal aku bisa saja menghabiskan hari Mingguku dengan membaca majalah pria itu?
Karena aku menyukainya...?
Tidak, sangkalku. Aku tidak boleh menyukainya. Aku tidak boleh jatuh hati pada seorang gadis yang bahkan lupa siapa nama keluarganya. Akhirnya, aku memutuskan untuk berkilah dengan berucap, “Mau bagaimana lagi? Aku sudah sejak awal menolongmu, jadi aku merasa harus terlibat.”
“Sou ka—begitu,” balas Haruka. Kami lantas tenggelam dalam sebuah momen yang sunyu selama beberapa saat, sebelum akhirnya, Haruka bertanya, “Hiro-niisan, boleh aku pinjam ponselmu? Aku bosan.”
Ponsel, ya...kurasa tidak apa-apa. Toh aku yakin dia juga tidak akan berbuat apa-apa.Itulah sebabnya aku lantas menyodorkan ponselku kepadanya, yang ia balas dengan sebuah senyman. Sementara Haruka melihat-lihat ponselku, aku kembali melanjutkan menyantap udon-ku. Aku baru sekali menyeruput udon itu ketika tba-tiba Haruka menunjukkan ponsel itu kepadaku seraya bertanya, “Ne, Hiro-niisan, ini siapa?”
“Itu...” balasku sambil mendekatkan wajahku ke arah ponsel tersebut. “Ah, itu ayahku, tapi dia meninggal dua tahun lalu. Dia memintaku untuk memfotonya saat aku baru pertama kali membeli ponsel itu. Konyol, ya?” ucapku, berusaha untuk melucu. Namun, Haruka tidak tertawa. Alih-alih, ia justru memandangi foto itu lekat-lekat. “Doushita no—ada apa, Haruka-san?”
“Ah, tidak, bukan apa-apa,” sahut Haruka. Ia kemudian buru-buru menggeletakkan ponsel itu di atas meja, dan setelah itu menyunggingkan sebuah senyum. Dadaku kembali berdegup saat melihat senyumannya, sehingga aku pun langsung beralih ke udon-ku.
Tak salah lagi. Mau sekuat apa pun aku menyangkalnya, aku tetap tak bisa menolak bahwa aku menyukainya. Dan sepanjang sore itu akhirnya kuhabiskan dengan sebuah kecanggungan yang, menurutku, amat ganjil, sambil berhadap Haruka tidak akan menyadari perilaku anehku ini.
***
Aku tengah menunggu kereta yang akan membawaku ke Higashimuko ketika ponselku berdering. Tanganku buru-buru meraih ponsel itu dari saku jaketku—aku tidak ingin bunyi deringnya mengganggu penumpang lain terlalu lama—dan tanpa melihat siapa yang menelepon, aku langsung menyapa, “Moshi-moshi, dengan siapa saya berbicara?”
“Mizuno Hiroshi-senpai?” tanya suara yang di seberang, yang kusahut dengan pernyataan afirmatif. “Kami dari Kepolisian Kyoto. Jika tidak salah, Anda pernah melaporkan—etto—menemukan seorang gadis?”
“Ya, ya, benar,” sahutku. Kepolisian Kyoto? “Ada apa, ya?” tanyaku. Jangan-jangan mereka....
“Kami memperoleh laporan kehilangan anak dari seorang perempuan, semenjak Senin satu minggu lalu,” sahut polisi yang kini tengah berbicara denganku, “dengan ciri-ciri fisik mirip yang Anda gambarkan.”
Aku sedikit terkesiap mendengar berita itu. Di satu sisi, aku merasa gembira karena akhirnya Haruka dapat menemukan kembali siapa dirinya, dan mungkin dapat menemukan orang yang ia cari. Namun, di sisi lain, ada bagian dari diriku yang tidak merelakan kepergiannya....
“Mizuno-san? Anda di sana?”
“Eh, ya, ya,” balasku cepat. “Jadi, kapan ia akan menjemputnya?” tanyaku, meski bibirku sedikit berat mengucapkan kata terakhir.
“Besok siang, sekitar pukul tiga sore,” sahut polisi tersebut. “Akan kami berikan nama dan nomor telepon pelapor, sehingga Anda bisa menghubunginya,” tambahnya. Aku pun buru-buru mengambil sebuah catatan kecil dan bolpen dari saku dalam jaket kulitku—beruntung aku punya kebiasaan menyimpannya di sana. Kemudian, aku lantas meminta polisi itu melanjutkan kata-katanya, dan detik berikutnya, ia sudah menyebutkan sebuah nama....
Ah, tidak. Marga itu ada banyak di Jepang, jadi kemungkinannya kecil sekali. Saat aku menyadari bahwa aku kehilangan sebagian nomor telepon dari ibu Haruka, aku lalu meminta polisi itu mengulanginya. Dengan lebih lambat, ia kembali mengucapkan deretan nomor telepon tersebut. Aku kemudian mengulangi nomot yang ia ucapkan, dan setelah polisi itu memastikan bahwa nomor yang kusebutkan tepat, ia mengucapkan terima kasih atas laporanku dan lalu memutus sambungan.
Aku membisu. Seharusnya, aku senang Haruka dapat kembali kepada keluarganya. Seharusnya, aku senang karena aku tidak perlu lagi menyisihkan uangku untuk membayari makan seorang gadis yang bahkan tak kuketahui asal-usulnya. Namun, aku justru merasa hampa, seolah aku akan kehilangan dirinya.
Dan memang aku akan kehilangan Haruka besok, pukul tiga sore saat ibunya menjemputnya.
***
“Haruka-san, aku punya kabar gembira untukmu,” ucapku saat aku sudah tiba di kamar apartemenku.
Haruka yang kudapati tengah memakan ramen instan itu pun menoleh kepadaku. “Kabar apa itu, Hiro-niisan?” tanyanya seraya menyunggingkan senyum.
Aku kemudian menelan ludah sejenak, sebelum akhirnya melanjutkan dengan suara yang kubuat seringan mungkin, “Ibumu akan menjemputmu besok, pukul tiga sore. Jadi bersiaplah!”
Senyum di wajah Haruka entah kenapa tiba-tiba saja kudapati mengendur. Hei, ini bukan reaksi yang kuharapkan. Kukira ia akan bersorak gembira dan menunjukkan wajah riangnya, sebagaiamana yang ia tunjukkan kepadaku saat berada di Pasar Nishiki kemarin. “Hiro-niisan...kalau boleh tahu, siapa nama ibuku?” tanyanya dengan nada yang, secara mengejutkan, sangat rendah.
“Tentu saja. Nama ibumu adalah Mizuno Shiori,” jawabku dengan hati yang mengganjal. Selain masih memikirkan sikap Haruka barusan, aku juga masih gamang dengan nama marga ibu Haruka itu. Jika benar begitu, maka seharusnya Haruka memiliki marga Mizuno—sebagaimana halnya diriku. Namun, marga Mizuno itu cukup umum di Jepang, kan?
“Ternyata benar, ya," gumam Haruka. Ia lantas menaruh gelas ramen-nya di atas meja kotatsu, kemudian menatap kepadaku. “Hiro-niisan,” panggilnya kepada diriku, “saat aku lulus SMA, Otousan meninggal.”
Aku sedikit terkesiap saat mendengar kata-kata Haruka itu. Apa ini...kenapa ia bercerita seperti ini?
"Sebelum meninggal, aku sempat mendengar Otousan berkata pada Okaasan,” Haruka melanjutkan.Ia menahan kalimatnya sejenak dan lalu melanjutkan,, “Ia berkata bahwa aku sudah seharusnya diperkenalkan pada keluarganya yang lai—istrinya yang lain dan juga anaknya yang lain. Saat itu Okaasan setuju, tapi entah kenapa ia tidak pernah melakukannya.”
Keringat dingin tiba-tiba saja kurasakan mengalir di pelipisku. Dengan tegang, kutatapi mata Haruka yang kini mengarah ke arah mataku. Ja...jangan bilang kalau....
“Karena itu, aku berinisiatif mencari tahu siapa keluarga lain yang Otousan katakan.” Kudengar Haruka berkata lagi. “Aku akhirnya tahu bahwa istrinya yang lain sama-sama tinggal di Osaka, dan dari istrinya, itu, aku tahu bahwa anaknya—saudaraku—merantau ke Kyoto.”
Mataku semakin membelalak. Kebetulan, yah ini pasti kebetulan semata!
“Aku juga tidak sadar pada awalnya, tapi saat aku melihat foto ayah Hiro-niisan, aku langusng dapat mengingat semuanya. Rasanya seperti ada yang menjejerkan slide-slide film kepadaku” ucap Haruka lagi. "Aku akhirnya tahu kenapa aku ada di sini, di Kyoto ini." IDihembuskannya nafasnya perlahan, dan kemudian, ia berkata kepadaku setelah menunjukkan sebuah senyum. Senyum temanis yang pernah kulihat darinya.
“Mitsuketara, Oniisan—aku akhirnya menemukanmu, Oniisan.”
Aku langsung merasa lemas begitu Haruka mengucapkan dua kata terakhir. Bibirku tak mampu berkata apa pun lagi, dan lidahku juga terasa kaku. Seandainya saja aku tidak menerima tawaran Shinji untuk minum-minum satu minggu lalu, mungkin aku tidak akan mencintai adikku sendiri.
***
Cerita ini diikutsertakan dalam Lomba Arisan Cerpen Romantis.
Seandainya saja aku tidak menerima tawaran Shinji untuk minum-minum terlebih dahulu, mungkin aku tidak akan ketinggalan kereta.
Benar, sepulang rapat yang membuatku harus berada di kantor tiga setengah jam lebih lama, temanku yang berambut keriting itu mengajakku untuk mampir ke kedai sake baru dekat kantor. Aku sendiri sebenarnya bukan tipe orang yang suka menghabiskan uangku untuk minuman beralkohol macam sake dan bir, jadi awalnya, aku sudah bersiap-siap menolak. Namun, karena Kachou—Kepala Seksi--ternyata juga tertarik untuk ikut pergi ke sana, maka mau tak mau aku pun berakhir di kedai tersebut. Untunglah, dengan alasan aku tidak kuat minum dan masih ada pekerjaan lain yang harus kuselesaikan di rumah, aku berhasil “melarikan diri” dari mereka. Namun, tetap saja malam sudah terlalu larut saat aku keluar dari kedai itu—sudah menjelang tengah malam—dan kereta terakhir dari Kamigyo-ku menuju Higashimuko adalah pukul setengah dua belas. Beruntung ada taksi yang kebetulan parkir di dekat kedai malam itu, jadi setidaknya aku tidak harus berjalan kaki menuju apartemen. Ini sudah awal bulan Desember, dan hanya orang yang tidak punya otak yang mau berjalan selama nyaris tiga jam di tengah udara beku seperti ini.
Aku tiba di dekat apartemenku menjelang pukul satu, dan udara beku jahanam itu langsung menyergapku saat aku keluar dari taksi. Setengah menggigil, aku buru-buru membayarkan sejumlah yen kepada sang supir taksi. Kurapatkan jaket kulitku saat sebuah angin malam yang dingin berhembus. Jaket itu memang membuatku badanku cukup hangat, tapi ia tidak berhasil menjadikanku lebih baik. Terlebih salju juga sudah mulai turun, jadi aku tahu kalau aku harus segera masuk ke kamar apartemenku dan menghangatkan diriku di bawah kotatsu.
Gang depan apartemenku tampak gelap saat aku berjalan melewatinya. Kentaro-kun, putra pemilik apartemen, pastilah belum mengganti lampu beranda, padahal ayahnya sudah memintanya sejak pagi. Aku mendesah. Aku tidak pernah menyukai jalanan yang gelap dan sepi karena membuatku merasa tidak aman (lagi pula, siapa yang suka?). Namun, untunglah hanya ada seorang gadis berjaket hitam yang tengah berjalan ke arahku. Aku tidak tahu apa yang dilakukannya malam-malam begini di tempat seperti ini—dan aku juga tidak peduli—tapi yang pasti, ia tampak tidak berbahaya. Kuputuskan untuk mengabaikan gadis itu dan membiarkan dirinya memapasiku. Untunglah apartemenku sudah dekat, jadi aku bisa segera....
Bruk.
Eh? Suara apa itu dari belakang? Kutolehkan kepalaku melewati punggung, dan saat menyadari apa yang kulihat, aku langsung terkesiap. Sesosok tubuh perempuan yang mengenakan jaket hitam—gadis yang tadi—kudapati tengah tertelungkup di tengah salju, terdiam tanpa suara.
***
Seandainya saja aku tidak menerima tawaran Shinji untuk minum-minum terlebih dahulu, mungkin aku tidak akan bertemu dengan gadis itu. Lebih tepatnya lagi, aku mungkin tidak akan mendapati gadis itu pingsan di luar apartemenku. Aku mungkin juga tidak akan bersusah payah membopong gadis itu melewati tangga, dan lalu membaringkannya di futon setelah sebelumnya menukar jaket ungunya (benar, ternyata warnanya ungu) yang basah dan lembap dengan selimut kering.
Tiga jam berlalu sejak aku membawa gadis itu ke kamar apartemenku, dan selama itu pulalah aku tidak memejamkan mata barang sedetik pun. Aku memutuskan untuk tetap terjaga seraya bersimpuh di dekat futon, berharap gadis ini akan segera tersadar. Setelah itu, aku akan dapat menanyai siapa dirinya, dari mana asalnya, dan apa yang ia lakukan. Akan lebih baik kalau aku dapat segera mengantarnya pulang. Tentu saja, aku harus menjelaskan apa pada Kentaro apabila ia meliat ada seorang gadis di kamar apartemenku?
“...Uh.”
Sebuah gumaman yang dilontarkan gadis itu membuatku berpaling kepadanya. Aku dapat melihat matanya terkerjap, dan tidak lama kemudian, mata itu lantas membuka. Gadis itu kemudian bangkit dari posisi berbaringnya, setelah itu, mengedarkan pandangannya ke sekeliling kamar apartemenku. Ia tampaknya tidak melihatku, karena aku memang berada di balik punggungnya
.
“Sudah sadar?” Itu adalah kalimat pertamaku kepadanya; sebuah kalimat yang sekaligus membuat gadis itu terlonjak kaget. Ia lalu menoleh kepadaku, dan sebagai tanggapan, mengedikkan kepalanya sekali—sebuah pertanda bahwa ia bingung dengan keadaannya sekarang.
“Ini di mana? Kenapa aku di sini? Dan kamu...siapa?”
Aku tersenyum sejenak kepada gadis itu, berusaha memberinya pandangan menenangkan. Kemudian, dengan sebuah suara yang kubuat selembut mungkin, aku berucap, “Aku menemukanmu pingsan di depan apartemenku tadi malam, jadi aku membawamu ke sini.”
“Begitu, ya,” gumamnya lirih. Ia lalu melirik ke arahku sejenak, dan seteah itu, dengan suara yang masih bergetar, berkata, “Arigatou—terima kasih."
“Dou itashimashitte—sama-sama,” jawabku. “Perkenalkan, aku Mizuno Hiroshi, tapi kamu bisa memanggilku Mizuno,” ucapku seraya membungkukkan kepalaku sedikit. “Dan kamu adalah...?”
Gadis itu tidak segera menjawab. Alih-alih, ia justru memandangiku cukup lama dengan mata sipitnya yang hitam. “Aku...namaku Haruka,” jawabnya. “Haruka...Haruka.... Aku tidak ingat nama keluargaku!”
Hilang ingatan? Sial, hal seperti ini tidak hanya terjadi di film-film saja, ternyata. Akan menjadi repot kalau seperti ini kejadiannya.... “Kamu ingat di mana rumahmu?” tanyaku, berharap ia akan mengiyakan. Siapa tahu dia hanya lupa nama keluarganya, tapi ia ingat tempat tinggalnya?
“Rumah...ku?” tanyanya. Ia lalu menempelkan jari tengah dan telunjuk kanannya di bibir, setelah itu, menerawang ke arah langit-langit. “Aku...tidak ingat. Yang kutahu adalah aku dari Osaka, tapi aku tidak tahu lebih jauh! Tapi aku merasa ada sesuatu yang harus kulakukan sehingga aku pergi ke sini,” ucapnya. Yah, setidaknya dia tahu kota asalnya, meski tentu saja hal ini tidak membantu banyak mengingat Osaka adalah kota yang luas.
“Kamu punya tanda pengenal?” Aku mencoba menggali lebih jauh setitik informasi yang mungkin mengenai dirinya. Ia lantas mulai menelusuri seluruh kantungnya, dan setelah menemukan sebuah dompet dari saku belakangnya, ia menggeleng. Ah, sial. Perdana Menteri Jepang sepertinya harus mengganti peraturan bodoh yang tidak mewajibkan penduduk Jepang untuk memiliki kartu identitas....
KRIIIING....!
Suara weker yang bersumber dari meja kecil dekat futon itu memberitahukan diriku bahwa kini sudah pukul lima pagi (dan sekaligus berhasil membuat gadis itu—Haruka—terlonjak). Itu artinya, aku harus bersiap-siap kembali ke kantor. Aku menghela nafas dalam-dalam. Kuharap aku tidak tertidur di kereta, karena kelopak mataku terasa cukup berat kini. “Baiklah, eh, Haruka,” ucapku seraya mematikan weker yang terus membunyikan suara nyaring sialan itu. “Aku harus pergi bekerja. Kamu tetaplah di sini...”
“Ja...jangan pergi,” tukasnya. “Bagaimana denganku? Aku tidak mau sendirian!”
“Tenang saja, aku tidak akan lama,” balasku sambil mengira-ngira alasan apa yang dapat kugunakan kepada Kachou. Janjian dengan dokter mungkin ide yang bagus—aku akan memikirkan penyakitnya nanti. “Jangan membukakan pintu bagi siapa pun, oke? Untuk makan siang, ada beberapa ramen instan di kulkas, jadi kamu bisa memakannya,” lanjutku. Tiba-tiba, aku jadi merasa menjadi seorang ayah yang menasihati putrinya. Atau mungkin lebih tepatnya lagi, seorang kakak yang menasihati adiknya, karena umurku belum sampai empat puluh dan gadis ini juga sepertinya tidak bisa dibilang anak-anak.
“Baiklah,” ia berucap lirih. Aku lalu memberikan sebuah senyuman kecil kepadanya, dan setelah itu, beranjak pergi meninggalkan kamar. Kalau aku tidak salah ingat, selain ramen instan, masih ada sebungkus roti di kulkas—aku memasukkannya agar tidak dimakan tikus—jadi setidaknya, aku tidak membiarkannya perutnya kosong pagi ini.
***
Kachou, untunglah, memberiku izin untuk pulang lebih awal, meski aku yakin ia tidak percaya sepenuhnya saat aku berkata aku harus memeriksa jantungku. Namun, sebagai kompensasinya, ia memintaku untuk bekerja lembur besok (yang tentu saja terpaksa harus kusetujui). Aku pun memutuskan untuk mampir ke pos polisi sepulangnya dari kantor, setelah sebelumnya mencoba mencari informasi mengenai gadis itu lewat Internet ponselku. Ternyata, itu merupakan langkah paling konyol yang pernah kulakukan. Ada ribuan nama Haruka di Osaka, dan hal itu semakin sulit karena gadis itu lupa dengan nama belakangnya.
“Permisi, Pak,” ucapku kepada seorang polisi yang tengah berjaga di sebuah pos. “Saya hendak melaporkan sebuah penemuan...”
Polisi itu langsung menurunkan tangannya yang sedari tadi berada di balik punggung, dan kemudian, memintaku masuk ke dalam pos. Seorang polisi lain yang lebih muda lantas menanyakan sejumlah identitasku—seperti nama lengkap dan pekerjaanku. “Jadi,” ucap polisi muda itu tanpa berpaling dari layar komputer di hadapannya, “apa yang Anda temukan? Dompet? ”
“Sebenarnya, Pak, saya menemukan seorang gadis.”
Perkataanku berhasil membuat dirinya menatapku kali ini—sebuah kebingungan jelas terpancar dari tatapan tersebut. Tapi aku bisa paham. Tidak setiap hari ada orang yang melaporkan bahwa ia menemukan seorang gadis, bukan? “Maksud Anda, Pak?” tanyanya dengan keraguan yang kentara.
“Jadi begini,” balasku, “ada seorang gadis yang pingsan di depan apartemen saya tadi malam, dan ia sepertinya hilang ingatan. Ia tidak memiliki apa pun yang dapat menunjukkan siapa dirinya, kecuali bahwa ia mengaku bernama Haruka dan berasal dari Osaka.”
Polisi muda itu mengangguk sekali mendengar penjelasanku. Untunglah ia sepertinya mengerti, dan bukannya menuduhku sebagai penculik atau semacamnya. Tentu saja, mana ada seorang penculik yang melapor ke kantor polisi? “Bisa Anda jelaskan ciri-cirinya?” ucapnya setelah menambahkan keteranganku di komputernya.
“Rambutnya hitam sebahu, wajahnya oval, dan hidungnya cukup mancung,” jawabku, meski aku tidak yakin dengan penjabaran terakhirku. Aku lantas membiarkan polisi itu mengetik segala ucapanku sebelum akhirnya aku melanjutkan, “Ia juga agak kurus. Selan itu, ia mengenakan jaket ungu, rok selutut warna cokelat, legging ungu, dan sepatu bot hitam.”
“Ada fitur spesifik? Mungkin tahi lalat atau tato, atau semacamnya?”
Tahi lalat? Aku tidak memperhatikan gadis itu secara mendetail (lagi pula, saat itu gelap), jadi aku tidak tahu. Mungkin kali lain aku harus memfoto wajahnya dengan ponselku.... “Tidak, saya tidak ingat,” aku menjawab jujur.
Polisi itu kembali membubuhkan informasiku ke dalam komputer. Setelah mengulang deskripsiku mengenai orang tersebut (dan setelah aku mengonfirmasinya), ia lalu berkata, “Baiklah Mizuno Hiroshi-san. Kami akan mengisukan hal ini dan mengontak Kepolisian Osaka, jadi harap tunggu kabar selanjutnya dari kami. Tolong tinggalkan nomor Anda yang bisa kami hubungi.”
Aku mengangguk mendengar kata-kata polisi itu. Baguslah. Setidaknya, aku memperoleh bantuan untuk mengidentifikasi gadis itu. Aku kemudian mengucapkan terima kasih kepada polisi tersebut, dan setelah memberikan nomor ponselku, aku bergegas kembali ke apartemenku. Haruka pastilah tengah mengharapkan kepulanganku kini, jadi tentu saja aku tak akan membiarkan ia menunggu lebih lama!
***
Ketika aku membuka pintu kamar apartemenku, aku serta-merta mendapati Haruka tengah berjalan melintasi ruangan. Sesekali, ia terlihat membalik-balik bantal dudukku, atau merogoh-rogoh jaket yang tadi pagi kusampirkan dengan asal di lantai. Sepertinya, ia tengah mencari sesuatu. “Ada apa, Haruka?” tanyaku seraya beranjak ke arahnya.
Haruka menoleh kepadaku, dan kemudian, berkata dengan nada cemas, “Ponselku! Ponselku tidak ada! Seharusnya ada di jaketku, tapi....”
Ponsel? Ternyata dia punya ponsel? Ah, ini berita bagus, karena dari ponsel itu, aku dapat menghubungi orang yang mungkin ia kenal. Ia pastilah menyimpan nama orang tuanya di ponsel itu, bukan? Namun, hal pertama yang harus kulakukan adalah membantunya menemukan ponsel itu, jadi itulah sebabnya aku langsung menawarkan diri untuk membantunya. “Baiklah ponselmu seperti apa?”
“Warnanya merah, lalu ada gantungan bonekanya....”
Belum sempat Haruka menyelesaikan kalimatnya, aku mendengar suara ketukan di pintu. Tak lama, suara seorang lelaki mengikutinya. “Mizuno-san? Kau di dalam? Otousan melihatmu sudah pulang tadi.”
Sial, itu Kentaro-kun! Ia hampir tidak pernah mampir ke ruanganku sebelumnya, jadi kenapa dia mampir hari ini? “Ha, Haruka,” panggilku kepada gadis yang masih terlihat kebingungan itu. “Ayo sembunyi. Jangan sampai ada yang melihatmu,” aku menambahkan dengan suara yang kubuat rendah. Kemudian, aku buru-buru menggamit lengan gadis itu, menjejalkannya ke dalam kotatsu, dan lalu menutup kainnya.
“Mizuno-san?” Suara Kentaro kembali terdengar.
“Ya sebentar!” aku membalas. Setelah memastikan kain futon itu cukup rapat untuk menyembunyikan tubuh Haruka, aku kemudian buru-buru beranjak untuk membukakan pintu bagi Kentaro. Seorang remaja jangkung dengan pakaian dekil pun langsung menoleh kepadaku saat aku menyibakkan pintu. “Ada apa?” tanyaku.
“Mizuno-san, Otousan menemukan ini tadi pagi di tangga,” balas Kentaro seraya mengaduk-aduk kantung celananya yang lusuh. Ia lantas mengambil sesuatu dari sana. Sesuatu yang membuatku terbelalak, karena benda itu adalah benda yang dicari-cari oleh kami berdua. Benar,benda itu adalah sebuah ponsel berwarna merah dengan gantungan boneka di salah satu sudutnya—ponsel milik Haruka. “Apa ini punya Mizuno-san? Aku sudah menanyakannya ke penghuni apartemen yang lain, tapi tidak ada yang mengaku.”
“Be...benar, itu punyaku,” aku buru-buru menjawab. Tanganku langsung merebut ponsel itu dari tangan Kentaro, dan dengan sigap, mengamankannya di saku kemejaku. “Terima kasih, Kentaro-kun.”
“Akhirnya,” balas Kentaro. “Ponsel itu membuatku kelabakan, tahu? Otousan ribut seharian ini; ia terus-menerus menyuruhku mengembalikan ponsel itu.”
“Ah, ma, maaf,” ucapku seraya mengelus-elus tengkuk. “Baiklah kalau begitu, Kentaro-kun. Terima kasih sekali lagi.”
Kentaro-kun hanya mengedikkan kepalanya sekali sebagai jawaban, dan kemudian, berjalan menuruni tangga tanpa berkata apa pun lagi. Anak yang aneh, rutukku. Ia harus bersikap lebih sopan lagi, atau tak akan ada yang mau menempati apartemen ini. Ah, sudahlah. Yang penting, aku sudah memperoleh ponsel ini. “Oi, Haruka, kau boleh keluar sekarang.” Perlahan, kepala Haruka pun menyembul dari balik kotatsu, yang dilanjutkan dengan seluruh badannya.
“Siapa orang tadi?”
“Ah, hanya anak pemilik apartemenku,” jawabku singkat. “Dan coba tebak? Dia membawakan ini kepada kita,” aku melanjutkan seraya mengambil ponsel berwarna merah itu dari sakuku.
Haruka langsung kudapati tersenyum lega saat aku menunjukkan ponsel itu . “Yokatta—syukurlah,” ucapnya.
“Baik, dari sini, kita bisa melacak siapa dirimu,” balasku. Ponsel itu berada dalam keadaan mati saat aku memberikannya pada Haruka, dan ia pun dengan segera menyalakannya. Akhirnya, ucapku dalam hati. Akhirnya, aku dapat mengetahui siapa jati diri gadis ini sebenarnya.
Sebuah suara nyaring langsung dikeluarkan oleh ponsel itu begitu benda kecil itu sudah menyala sepenuhnya. Tak lama kemudian, aku melihat sebuah notifikasi e-mail masuk. E-mail itu terkirim kemarin malam, pukul 22.34, dengan nama pengirimnya adalah seseorang yang Haruka sebut dengan “@ori”. Taruhan, itu pasti berarti Aori. Haruka pun dengan segera membuka e-mail tersebut, membuatku dapat membaca isinya. Bagus, ada alamat e-mail Aori di sana, jadi aku bisa.... Hei, tu...tunggu! Tunggu, jangan mati dulu!
Ah, sial! Kenapa baterai telepon itu harus habis di saat-saat seperti ini? Aku pun buru-buru mengambil ponselku—ponselku yang asli—dari saku celanaku, dan kemudian, cepat-cepat menulis alamat e-mail Aori yang sempat kubaca. Itu adalah satu-satunya informasi berharga yang sempat kutangkap dari ponsel itu, jadi mana bisa aku membiarkannya begitu saja!
“Mizuno-san,” kata Haruka sambil memandangku. “Bagaimana ini? Ponselnya mati....”
“Tenanglah,” sahutku. “Aku sudah mencatat alamat e-mail Aori temanmu—atau entah siapa pun itu. Jadi, setidaknya kita punya titik terang,” aku melanjutkan. Sebenarnya, aku hendak menambahkan kata “berharap” dalam kalimatku, tapi aku memutuskan untuk tidak melakukannya karena aku tidak ingin membuat Haruka—atau diriku lebih tepatnya—pesimis. Baik, mari kita hubungi Aori ini.
***
(?・・)σ you?
Simbol aneh apa ini? Dan kenapa pula ia mengirimkannya saat aku bertanya apa dia mengenal Haruka dari Osaka?
“Oh, itu artinya ‘kamu siapa?’,” jelas Haruka. “Mizuno-san tidak pernah pakai kaomoji?”
Kaomoji? Oh ya, sepertinya aku pernah melihatnya. Saat itu, seorang bawahanku yang bernama Yuna mengirimkan e-mail dengan akhiran simbol aneh ini kepadaku, tapi karena waktu itu aku sedang mengetik dokumen yang harus kuberikan pada Kachou besok pagi, aku jadi tidak begitu memedulikannya. Baik, karena dia bertanya siapa diriku, maka aku harus memperkenalkan diriku dengan baik. Kutulis bahwa aku adalah Mizuno Hiroshi, usia 33 tahun, dan bahwa Haruka yang kubicarakan kini berada di apartemenku di Kyoto, sedang kebingungan karena sebagian ingatannya hilang. Baik, terkirim.
Uso—bohong!
(゚Д゚)
Sore o shoumei—buktikan!
( ̄Д ̄)
Bukti...dia minta bukti, ya...? Bukti apa, ya?
“Bagaimana kalau foto diriku?”
Aku menoleh ke arah Haruka sesaat setelah ia berkata demikian. Ah, benar juga! Dengan cepat aku lantas memotret wajah Haruka, dan setelah itu mengirimkannya kembali ke Aori. Butuh wktu agak lama hingga ia membalas; mungkin ia agak terkejut juga.
Ii no... Nani o shitai?—baik...apa yang kauinginkan?
Saigo—akhirnya! Dengan bersemangat , aku lantas bertanya apakah ia mengenal Haruka, atau apakah ia memiliki informasi apa pun mengenai gadis itu. Aori lantas menjawab bahwa ia dan Haruka pertama kali bertemu di 2channel dalam sebuah forum mengenai fashion, dan dari situ, mereka jadi cukup sering chatting bersama. Saat aku bertanya apakah Aori pernah bertemu Haruka, ia menyangkal, meski ia mengaku bahwa mereka pernah saling berkirim foto. Haruka sendiri, menurut Aori, tidak banyak bercerita mengenai dirinya atau keluarganya. Ia hanya tahu bahwa Haruka memiliki seorang kakak dan tengah berkuliah di sebuah akademi keperawatan khusus wanita di Osaka.
Beberapa hari lalu, Haruka berkata bahwa ia hendak ke Kyoto untuk mencari seseorang. Setelah itu, kami putus kontak, sampai kau menghubungiku kembali. Selebihnya, aku tidak tahu.
Begitu isi e-mail terakhir yang Aori kirimkan kepadaku.
Baik, sepertinya ini sudah cukup. Meskipun aku tidak banyak memperoleh latar belakang Haruka, setidaknya aku tahu apa tujuannya berada di sini. Aku kemudian mengucapkan terima kasih kepada Aori, dan setelah ia berpesan kepada Haruka untuk segera pulang, aku lantas memutuskan komunikasi dengannya. “Haruka-san,” panggilku, “kalau begitu bagaimana kalau besok Minggu kita berkeliling Kyoto? Siapa tahu kamu dapat menemukan sesuatu.” Aku tahu bahwa itu hampir mustahil, tapi apa salahnya mencoba?
“Baiklah,” balas Haruka. “Ne, Mizuno-san, arigatou,” ia melanjutkan seraya memandang ke arahku. “Kita belum pernah saling mengenal sebelumnya, tapi kau rela melakukan berbagai hal untukku.”
“I...iya, tidak apa-apa,” jawabku. Aku kemudian ganti memandang mata gadis itu, dan tiba-tiba saja, mukaku terasa panas. Aku lantas buru-buru mengalihkan wajahku dari Haruka, sambil berharap ia tidak melihat rona merah itu. Bukan cuma itu, aku juga berharap ia tidak mendengar bunyi dentuman yang menggema dalam dadaku, atau mendapati keringat dingin yang membasahi telapak tanganku.
Sial, kenapa aku jadi merasa seperti ini?
***
Seandainya saja aku tidak menerima tawaran Shinji untuk minum-minum hari Rabu lalu, aku pastilah tengah berada di apartemenku kini, menghabiskan waktu untuk membaca majalah pria yang belum sempat kubaca. Aku mungkin juga tidak akan mengendarai taksi berkeliling Kyoto bersama seorang gadis amnesia yang—awalnya—tak kukenal. Namun, kenyataannya aku melakukannya. Dan, sekali lagi, aku kembali melakukan sebuah tindakan bodoh, karena bahkan setelah berjam-berjam mengitari Kyoto, Haruka tidak berhasil mengingat apa pun. Tidak setelah kami berkunjung ke Muko, Fukuakusa, dan sejumlah tempat lain yang tak kuingat. Pada akhirnya, kami memutuskan untuk mengunjungi Pasar Nishiki setelah aku harus berhenti menggunakan jasa taksi karena aku merasa uangku tak akan cukup. Aku masih harus membeli telur dan gula di sana. Oh, ya, roti juga hampir habis.
Hari sudah menjelang malam saat kami mengunjungi pasar tersebut. Lampu-lampu berwarna jingga tampak sudah dinyalakan, menerangi kios-kios yang menjual berbagai jenis makanan; mulai dari jamur matsutake, ikan fugu, hingga okonomiyaki yang baunya membuatku lapar. Udara yang dingin dan salju yang mulai turun tidak mengurangi keramaian di Pasar Nishiki. Pasar ini memang dikenal di seantaro Tokyo dengan sebutan Kyoto no Daidakoro—Dapur Kyoto—jadi tidak heran kalau banyak turis datang ke sini.
Haruka berkata bahwa ingin melihat-lihat berbagai kios di sini, jadi aku lantas menemaninya berkeliling. Gadis itu tertarik dengan sebuah dashimaki—dadar gulung Jepang, dan saat aku berkata bahwa aku akan membelikannya, ia menolak. Alasannya, ia masih memiliki sejumlah uang di dompetnya sehingga aku tidak perlu repot-repot membayarinya makanan itu.
“Ne, Mizuno-san,” ucap Haruka saat kami makan malam di Fumiya, sebuah kedai udon yang terletak dekat Jalan Sakaimachi. “Sekali lagi, terima kasih banyak. Mizu—Hiro-niisan sudah banyak membantuku seharian ini.”
Aku hampir tersedak saat Haruka mengubah panggilannya. Hiro-niisan? Terdengar agak aneh datang dari lidah seorang gadis yang baru kukenal selama empat hari, meski, harus kuakui, aku senang mendengarnya. “Tidak apa-apa,” jawabku.
“Tapi omong-omong, kenapa Hiro-niisan mau membantuku sampai sebegini jauh?” Haruka kembali bertanya kepadaku setelah menelan takoyaki-nya (ia tidak memesan udon karena berkata sudah cukup kenyang setelah memakan dashimaki). Aku sendiri langsung mengelus-elus daguku saat mendengar pertanyaan Haruka itu. Benar juga...kenapa aku melakukannya? Kenapa aku mau-maunya berkeliling Kyoto bersama gadis ini, padahal aku bisa saja menghabiskan hari Mingguku dengan membaca majalah pria itu?
Karena aku menyukainya...?
Tidak, sangkalku. Aku tidak boleh menyukainya. Aku tidak boleh jatuh hati pada seorang gadis yang bahkan lupa siapa nama keluarganya. Akhirnya, aku memutuskan untuk berkilah dengan berucap, “Mau bagaimana lagi? Aku sudah sejak awal menolongmu, jadi aku merasa harus terlibat.”
“Sou ka—begitu,” balas Haruka. Kami lantas tenggelam dalam sebuah momen yang sunyu selama beberapa saat, sebelum akhirnya, Haruka bertanya, “Hiro-niisan, boleh aku pinjam ponselmu? Aku bosan.”
Ponsel, ya...kurasa tidak apa-apa. Toh aku yakin dia juga tidak akan berbuat apa-apa.Itulah sebabnya aku lantas menyodorkan ponselku kepadanya, yang ia balas dengan sebuah senyman. Sementara Haruka melihat-lihat ponselku, aku kembali melanjutkan menyantap udon-ku. Aku baru sekali menyeruput udon itu ketika tba-tiba Haruka menunjukkan ponsel itu kepadaku seraya bertanya, “Ne, Hiro-niisan, ini siapa?”
“Itu...” balasku sambil mendekatkan wajahku ke arah ponsel tersebut. “Ah, itu ayahku, tapi dia meninggal dua tahun lalu. Dia memintaku untuk memfotonya saat aku baru pertama kali membeli ponsel itu. Konyol, ya?” ucapku, berusaha untuk melucu. Namun, Haruka tidak tertawa. Alih-alih, ia justru memandangi foto itu lekat-lekat. “Doushita no—ada apa, Haruka-san?”
“Ah, tidak, bukan apa-apa,” sahut Haruka. Ia kemudian buru-buru menggeletakkan ponsel itu di atas meja, dan setelah itu menyunggingkan sebuah senyum. Dadaku kembali berdegup saat melihat senyumannya, sehingga aku pun langsung beralih ke udon-ku.
Tak salah lagi. Mau sekuat apa pun aku menyangkalnya, aku tetap tak bisa menolak bahwa aku menyukainya. Dan sepanjang sore itu akhirnya kuhabiskan dengan sebuah kecanggungan yang, menurutku, amat ganjil, sambil berhadap Haruka tidak akan menyadari perilaku anehku ini.
***
Aku tengah menunggu kereta yang akan membawaku ke Higashimuko ketika ponselku berdering. Tanganku buru-buru meraih ponsel itu dari saku jaketku—aku tidak ingin bunyi deringnya mengganggu penumpang lain terlalu lama—dan tanpa melihat siapa yang menelepon, aku langsung menyapa, “Moshi-moshi, dengan siapa saya berbicara?”
“Mizuno Hiroshi-senpai?” tanya suara yang di seberang, yang kusahut dengan pernyataan afirmatif. “Kami dari Kepolisian Kyoto. Jika tidak salah, Anda pernah melaporkan—etto—menemukan seorang gadis?”
“Ya, ya, benar,” sahutku. Kepolisian Kyoto? “Ada apa, ya?” tanyaku. Jangan-jangan mereka....
“Kami memperoleh laporan kehilangan anak dari seorang perempuan, semenjak Senin satu minggu lalu,” sahut polisi yang kini tengah berbicara denganku, “dengan ciri-ciri fisik mirip yang Anda gambarkan.”
Aku sedikit terkesiap mendengar berita itu. Di satu sisi, aku merasa gembira karena akhirnya Haruka dapat menemukan kembali siapa dirinya, dan mungkin dapat menemukan orang yang ia cari. Namun, di sisi lain, ada bagian dari diriku yang tidak merelakan kepergiannya....
“Mizuno-san? Anda di sana?”
“Eh, ya, ya,” balasku cepat. “Jadi, kapan ia akan menjemputnya?” tanyaku, meski bibirku sedikit berat mengucapkan kata terakhir.
“Besok siang, sekitar pukul tiga sore,” sahut polisi tersebut. “Akan kami berikan nama dan nomor telepon pelapor, sehingga Anda bisa menghubunginya,” tambahnya. Aku pun buru-buru mengambil sebuah catatan kecil dan bolpen dari saku dalam jaket kulitku—beruntung aku punya kebiasaan menyimpannya di sana. Kemudian, aku lantas meminta polisi itu melanjutkan kata-katanya, dan detik berikutnya, ia sudah menyebutkan sebuah nama....
Ah, tidak. Marga itu ada banyak di Jepang, jadi kemungkinannya kecil sekali. Saat aku menyadari bahwa aku kehilangan sebagian nomor telepon dari ibu Haruka, aku lalu meminta polisi itu mengulanginya. Dengan lebih lambat, ia kembali mengucapkan deretan nomor telepon tersebut. Aku kemudian mengulangi nomot yang ia ucapkan, dan setelah polisi itu memastikan bahwa nomor yang kusebutkan tepat, ia mengucapkan terima kasih atas laporanku dan lalu memutus sambungan.
Aku membisu. Seharusnya, aku senang Haruka dapat kembali kepada keluarganya. Seharusnya, aku senang karena aku tidak perlu lagi menyisihkan uangku untuk membayari makan seorang gadis yang bahkan tak kuketahui asal-usulnya. Namun, aku justru merasa hampa, seolah aku akan kehilangan dirinya.
Dan memang aku akan kehilangan Haruka besok, pukul tiga sore saat ibunya menjemputnya.
***
“Haruka-san, aku punya kabar gembira untukmu,” ucapku saat aku sudah tiba di kamar apartemenku.
Haruka yang kudapati tengah memakan ramen instan itu pun menoleh kepadaku. “Kabar apa itu, Hiro-niisan?” tanyanya seraya menyunggingkan senyum.
Aku kemudian menelan ludah sejenak, sebelum akhirnya melanjutkan dengan suara yang kubuat seringan mungkin, “Ibumu akan menjemputmu besok, pukul tiga sore. Jadi bersiaplah!”
Senyum di wajah Haruka entah kenapa tiba-tiba saja kudapati mengendur. Hei, ini bukan reaksi yang kuharapkan. Kukira ia akan bersorak gembira dan menunjukkan wajah riangnya, sebagaiamana yang ia tunjukkan kepadaku saat berada di Pasar Nishiki kemarin. “Hiro-niisan...kalau boleh tahu, siapa nama ibuku?” tanyanya dengan nada yang, secara mengejutkan, sangat rendah.
“Tentu saja. Nama ibumu adalah Mizuno Shiori,” jawabku dengan hati yang mengganjal. Selain masih memikirkan sikap Haruka barusan, aku juga masih gamang dengan nama marga ibu Haruka itu. Jika benar begitu, maka seharusnya Haruka memiliki marga Mizuno—sebagaimana halnya diriku. Namun, marga Mizuno itu cukup umum di Jepang, kan?
“Ternyata benar, ya," gumam Haruka. Ia lantas menaruh gelas ramen-nya di atas meja kotatsu, kemudian menatap kepadaku. “Hiro-niisan,” panggilnya kepada diriku, “saat aku lulus SMA, Otousan meninggal.”
Aku sedikit terkesiap saat mendengar kata-kata Haruka itu. Apa ini...kenapa ia bercerita seperti ini?
"Sebelum meninggal, aku sempat mendengar Otousan berkata pada Okaasan,” Haruka melanjutkan.Ia menahan kalimatnya sejenak dan lalu melanjutkan,, “Ia berkata bahwa aku sudah seharusnya diperkenalkan pada keluarganya yang lai—istrinya yang lain dan juga anaknya yang lain. Saat itu Okaasan setuju, tapi entah kenapa ia tidak pernah melakukannya.”
Keringat dingin tiba-tiba saja kurasakan mengalir di pelipisku. Dengan tegang, kutatapi mata Haruka yang kini mengarah ke arah mataku. Ja...jangan bilang kalau....
“Karena itu, aku berinisiatif mencari tahu siapa keluarga lain yang Otousan katakan.” Kudengar Haruka berkata lagi. “Aku akhirnya tahu bahwa istrinya yang lain sama-sama tinggal di Osaka, dan dari istrinya, itu, aku tahu bahwa anaknya—saudaraku—merantau ke Kyoto.”
Mataku semakin membelalak. Kebetulan, yah ini pasti kebetulan semata!
“Aku juga tidak sadar pada awalnya, tapi saat aku melihat foto ayah Hiro-niisan, aku langusng dapat mengingat semuanya. Rasanya seperti ada yang menjejerkan slide-slide film kepadaku” ucap Haruka lagi. "Aku akhirnya tahu kenapa aku ada di sini, di Kyoto ini." IDihembuskannya nafasnya perlahan, dan kemudian, ia berkata kepadaku setelah menunjukkan sebuah senyum. Senyum temanis yang pernah kulihat darinya.
“Mitsuketara, Oniisan—aku akhirnya menemukanmu, Oniisan.”
Aku langsung merasa lemas begitu Haruka mengucapkan dua kata terakhir. Bibirku tak mampu berkata apa pun lagi, dan lidahku juga terasa kaku. Seandainya saja aku tidak menerima tawaran Shinji untuk minum-minum satu minggu lalu, mungkin aku tidak akan mencintai adikku sendiri.
***
Cerita ini diikutsertakan dalam Lomba Arisan Cerpen Romantis.
Langganan:
Postingan (Atom)