by Lily Zhang
"Temui aku di Cafe Rusuh yang terdapat di kota tua jam 5 sore ini, ingat jangan telat barang sedetikpun. Jangan juga datang sebelum jam 5 sore. Harus tepat jam 5 sore.
Jangan bawa teman atau siapapun, bila tidak. Aku tidak akan menanggung akibatnya nanti.
Satu lagi, kau tidak boleh membocorkan pada satu orangpun tentang pertemuan kita.
Segalanya bergantung pada putusan akhir darimu. Baik buruknya, kau yang tentukan."
Aku melihat isi ВВМ yang baru kuterima lima menit yang lalu dengan bingung. Apa yang terjadi? Brengsek! Di mana letaknya Cafe Rusuh itu?
===
Maaf, siapa yah? Namamu tidak dapat kukenali. Balasku mengharapkan jawaban yang tidak kunjung datang.
Bulu romaku berdiri, hatiku gelisah. Siapakah gerangan yang mengundangku dengan beserta ancaman ini? Benakku berusaha mengkaji siapa yang dapat berbuat hal seiseng bahkan tidak masuk akal ini.
Apa mungkin Verdy? Lelaki bertubuh kurus ceking yang sering kali mengerjaiku di kampus dulu? Tapi kami sudah lebih dari setahun lalu tidak berhubungan.
Ataukah Santy? Perempuan terusil yang pernah kutemui, sahabatku yang manis dan banyak digemari oleh para kaum adam?
Jangan bilang Rasta, cowok pendiam yang doyan banget dengan yang namanya penyiksaan terhadap binatang. Dan Oh My God! Aku pernah sekali memergokinya memutilasi cicak di sudut kampus tepat berada di gudang yang telah lama tidak digunakan. No no no, tidak. Jangan bilang dia apalagi sekarang aku harus bertemu dengannya setiap menghabiskan waktu di kantor. Yah, dia bekerja di kantor yang sama denganku.
Aku menghela nafas berat dan terbaring lesu.
===

- Cafe Rusuh
- Grup Cafe Rusuh merupakan suatu ruang lingkup tempat di mana para anggotanya bisa berbagi tentang segala hal. Kata "Rusuh" sendiri merupakan kependekan dari "Ruang suasana hati". Sebagai sebuah grup, Cafe Rusuh menjadi sebuah jembatan di mana persahabatan, kekeluargaan dan silaturahmi antara sesama anggotanya tetap terjaga. Selain itu, Cafe Rusuh juga memberikan kebebasan kepada para anggotanya untuk berbagi tentang segala hal seperti puisi, cerita, esai, tips-tips dan info-info yang bermanfaat bagi para anggotanya.
Sabtu, 24 September 2011
BeCeKS-CR 1 : Ancaman Masa Lalu
by Rere Nanda Az Zahra
”Semuanya Rp. 35.500,- mas.” ucapku pada seorang pembeli di mini market, tempat dimana aku bekerja.
Aku membantunya memasukan barang belanjaannya ke dalam kantong plastik yang cukup besar. Pemuda itu menyerahkan selembar uang kertas Rp. 50.000,- dan aku dengan teliti mengembalikan sisa uang beserta notanya. Ia tersenyum dan mengucapkan terima kasih, lalu keluar dari mini market.
Dan tiba-tiba ponselku berdering dari saku rok hitamku. Nada deringnya menandakan ada pesan yang masuk. Dan kulihat nama Kizzy tertera di layarnya.
”Temui aku di Cafe Rusuh yang terdapat di kota tua jam 5 sore ini, ingat jangan telat barang sedetikpun. Jangan juga datang sebelum jam 5 sore. Harus tepat jam 5 sore.
”Jangan bawa teman atau siapapun. Bila tidak, aku tidak akan menanggung akibatnya nanti.
”Satu lagi, kau tidak boleh membocorkan pada satu orangpun tentang pertemuan kita.
”Segalanya bergantung pada putusan akhir darimu. Baik buruknya, kau yang tentukan.”
Aku melihat isi BBM yang baru ku terima lima menit yang lalu dengan bingung. Apa yang terjadi? Brengsek! Dimana letaknya Cafe Rusuh itu?
Aku menghempaskan tubuhku, bersandar pada kursi, menghembuskan nafas yang cukup berat. Lelah. Kulirik jam tanganku, jarum pendeknya menunjuk ke angka 3, sedangkan yang lebih panjang terhimpit diantara 8 dan 9.
Apa lagi yang ia inginkan dariku? Batinku memelas. Sungguh lelah harus berurusan dengannya lagi. Jari-jariku mulai mengetik untuk membalas pesan dari Kizzy, berusaha menyusun kalimat yang pantas untuk membalasnya. Setelah beberapa kali ku hapus kalimat yang ku ketik, akhirnya aku memutuskan untuk mengetik 'oke' saja, dan ku tekan tombol send.
Beruntung sekali hari ini aku shift pagi, jadi jam 4 aku bisa langsung pergi ke kota tua. Paling tidak masih ada waktu satu jam untuk mencari dimana Cafe Rusuh itu. Aku ingat, aku pernah ke kota tua bersama Kizzy sebulan yang lalu mengendarai motor matic-nya, dan itu hanya memerlukan waktu sekitar setengah jam. Maka aku putuskan untuk naik taxi, agar lebih cepat.
***
”Semuanya Rp. 35.500,- mas.” ucapku pada seorang pembeli di mini market, tempat dimana aku bekerja.
Aku membantunya memasukan barang belanjaannya ke dalam kantong plastik yang cukup besar. Pemuda itu menyerahkan selembar uang kertas Rp. 50.000,- dan aku dengan teliti mengembalikan sisa uang beserta notanya. Ia tersenyum dan mengucapkan terima kasih, lalu keluar dari mini market.
Dan tiba-tiba ponselku berdering dari saku rok hitamku. Nada deringnya menandakan ada pesan yang masuk. Dan kulihat nama Kizzy tertera di layarnya.
”Temui aku di Cafe Rusuh yang terdapat di kota tua jam 5 sore ini, ingat jangan telat barang sedetikpun. Jangan juga datang sebelum jam 5 sore. Harus tepat jam 5 sore.
”Jangan bawa teman atau siapapun. Bila tidak, aku tidak akan menanggung akibatnya nanti.
”Satu lagi, kau tidak boleh membocorkan pada satu orangpun tentang pertemuan kita.
”Segalanya bergantung pada putusan akhir darimu. Baik buruknya, kau yang tentukan.”
Aku melihat isi BBM yang baru ku terima lima menit yang lalu dengan bingung. Apa yang terjadi? Brengsek! Dimana letaknya Cafe Rusuh itu?
Aku menghempaskan tubuhku, bersandar pada kursi, menghembuskan nafas yang cukup berat. Lelah. Kulirik jam tanganku, jarum pendeknya menunjuk ke angka 3, sedangkan yang lebih panjang terhimpit diantara 8 dan 9.
Apa lagi yang ia inginkan dariku? Batinku memelas. Sungguh lelah harus berurusan dengannya lagi. Jari-jariku mulai mengetik untuk membalas pesan dari Kizzy, berusaha menyusun kalimat yang pantas untuk membalasnya. Setelah beberapa kali ku hapus kalimat yang ku ketik, akhirnya aku memutuskan untuk mengetik 'oke' saja, dan ku tekan tombol send.
Beruntung sekali hari ini aku shift pagi, jadi jam 4 aku bisa langsung pergi ke kota tua. Paling tidak masih ada waktu satu jam untuk mencari dimana Cafe Rusuh itu. Aku ingat, aku pernah ke kota tua bersama Kizzy sebulan yang lalu mengendarai motor matic-nya, dan itu hanya memerlukan waktu sekitar setengah jam. Maka aku putuskan untuk naik taxi, agar lebih cepat.
***
BeCeKS-CR 1 : MY BUSFRIEND WAY
by Lina Rosliana
“Kosong, Mbak?” sapa seseorang ketika aku tengah menyiapkan uang untuk tiket bus. Aku menengadah. Seorang gadis dengan rambut shagi mengangguk dan tersenyum ramah padaku. Usianya mungkin hampir sama denganku. Kelihatannya teman perjalanan yang ramah, pikirku. Aku pun menjawab dengan sebuah anggukan.
“Iya kosong. Silakan...”
“Bandungnya dimana Mbak?” tanya gadis itu setelah duduk di sampingku. Aku tidak segera menjawab.
“Apa aku terlihat seperti jelmaan werewolf?” tanyanya lagi sambil membelalakan mata dan memamerkan cakar tangannya. Aku tergelak, begitu juga dia.
“Nah, begitu kan lebih baik...” katanya, membuatku malu pada diri sendiri karena pikiran burukku. Kota Metropolitan mengajarkan padaku untuk selalu waspada terhadap orang baru.
Apa salahnya mengatakannya terus terang. Toh ia tidak terlihat seperti serigala seperti apa katanya. “Aku mau ke Ciparay,” jawabku akhirnya.
Alis gadis itu bertaut. Baru kusadari, alangkah rimbunnya timbunan bulu di atas matanya itu. Pasangan yang serasi dengan mata yang bulat penuh.
“Wah jauh juga ya!” serunya kaget.
Tiba-tiba ia menyodorkan tangannya. “Kita belum kenalan. Aku Megan.”
Ups! Aku pun baru menyadarinya lalu menyambut uluran tangannya.
“Shasa,” jawabku. “Kamu sendiri, mau kemana?”
Megan mengedikan bahu. “Aku belum tahu, mau ke Ciumbuleuit dulu atau langsung ke Lembang.”
Aku mengerutkan dahi. “Lho, koq?”
“Aku disuruh Mama nengok rumah di Ciumbuleuit. Udah lama gak ditengok. Kalo ke sana dulu males gak ada temen. Tapi kalo udah di Lembang, males turun lagi.” Wajah Megan berubah murung membuatku iba dan ingin menghiburnya.
Rabu, 21 September 2011
BeCeKS-CR1 : A Secret To Reveal
by Liz Levin
Temui aku di Cafe Rusuh yang terdapat di kota tua jam 5 sore ini,
ingat jangan telat barang sedetikpun. Jangan juga datang sebelum jam 5 sore.
Harus tepat jam 5 sore.
Jangan bawa teman atau siapapun, bila tidak, aku tidak akan menanggung akibatnya
nanti.
Satu lagi, kau tidak boleh membocorkan pada satu orangpun tentang pertemuan kita.
Segalanya bergantung pada putusan akhir darimu. Baik buruknya, kau yang tentukan.
Aku melihat isi ВВМ yang baru kuterima lima menit yang lalu dengan bingung. Apa yang terjadi? Brengsek! Di mana letaknya Cafe Rusuh itu? Bahasa mana ‘RUSUH’ itu? Itu bukan bahasa Jerman. Apakah dia memberikanku semacam kode? Tampaknya dia ingin cari aman, dia pikir aku akan lapor polisi, dan polisi akan melacak keberadaannya.
Penny Markt, Salzburg, Salzburg, Austria
Daripada aku bingung, sesampainya di mini market, aku membalas BBM yang kuterima ketika aku di perjalanan tadi.
Di mana tepatnya Cafe Rusuh itu?
Dia langsung menjawab.
Radisson Blu. Cari saja di sekitarnya.
Kuletakkan Blackberry 8700v-ku ke dalam tas. Aku berpikir keras. Apa yang harus kulakukan?! Seharusnya aku menghubungi polisi. Tapi tidak, akibatnya pasti fatal jika aku membawa polisi. BBM itu membuatku tidak bisa berkonsentrasi melayani pelanggan yang berbelanja di mini market ini.
Sejak pagi tadi, BBM-BBM itu membuatku kacau. Beberapa kali aku salah menghitung harga barang dan menyebabkan pembeli komplain. Sejam lagi aku selesai bekerja, dan harus bergegas menuju Altstadt.
*-*-*-*
BeCeKS-CR1 : Cinta Pria
by Vindy Putri
BB-ku berbunyi dan seketika ada messenge masuk. Enam digit PIN yang tak lama menjadi list di BBMku memberi sebuah pesan:
“Temui aku di Cafe Rusuh yang terdapat di kota tua jam 5 sore ini, ingat jangan telat barang sedetik pun. Jangan juga datang sebelum jam 5 sore. Harus tepat jam 5 sore. Jangan bawa teman atau siapa pun, bila tidak. Aku tidak akan menanggung akibatnya nanti. Satu lagi, kau tidak boleh membocorkan pada satu orangpun tentang pertemuan kita. Segalanya bergantung pada putusan akhir darimu. Baik buruknya, kau yang tentukan.”
Aku melihat isi BBM yang baru kuterima lima menit yang lalu dengan bingung. Apa yang terjadi? Brengsek! Di mana letaknya Cafe Rusuh itu?
***
BeCeKS-CR1 : Lamaran
by Amy Tan
"Temui aku di Cafe Rusuh yang terdapat di kota tua jam 5 sore ini, ingat jangan telat barang sedetikpun. Jangan juga datang sebelum jam 5 sore. Harus tepat jam 5 sore.
Jangan bawa teman atau siapapun, bila tidak. Aku tidak akan menanggung akibatnya nanti.
Satu lagi, kau tidak boleh membocorkan pada satu orangpun tentang pertemuan kita.
Segalanya bergantung pada putusan akhir darimu. Baik buruknya, kau yang tentukan."
Aku melihat isi ВВМ yang baru kuterima lima menit yang lalu dengan bingung. Apa yang terjadi? Brengsek! Di mana letaknya Cafe Rusuh itu?whuah udah jam 4.30 sore,tinggal setengah jam lagi,guman Shasa.
Shasa yang bekerja sebagai kasir di sebuah mini market itu terlihat resah lantaran ia tahu bahwa ia bakalan tak diijinkan pulang awal mengingat lebaran tinggal 2 hari lagi.Banyak pembeli yg akan datang dan itu bertanda bahwa ia harus lembur sampai jam 7.30 malam.Dibacanya lagi isi BBM yang dikirim Kizzy,temannya.Lalu ia pun membalas balik dan mengetik sebuah pesan:
"gak bisa jam 5 an,soalnya hari ini aku lembur ampe jam 7.30 malam,kalo boleh jam 8 malam,boleh gak?kalo gak bisa ya udah satu kata dari gue,sorry!"
Sedang di lain tempat Kizzy hanya mendesah panjang.Diambilnya sebatang rokok dari saku bajunya,lalu dihisapnya rokok yang sudah dinyalakan olehnya.Kizzy berpikir sejenak sebelum ia mulai mengetik sebuah pesan balik buat Shasa,gadis yang ceria dan tidak bisa diam yang telah mencuri hatinya.
"Ok deh aku tunggu jam 8 malam,tempatnya tetap sama Cafe Rusuh".
Setelah pesan terkirim selang semenit hp kizzy pun koit."Brengsek! nih hp batere abis pula,mana lupa bawa chargernya lagi",gumannya."Ngopi dulu aja di warungnya mpok Jamu,lagian waktu masih panjang",katanya seraya menaiki motor maticnya yang masih kreditan itu.
Di mini market,Shasa mengetik sebuah pesan buat Kizzy untuk menanyakan letak Cafe Rusuh,namun sudah lewat satu jam tak juga mendapat balasan.Mau tak mau Shasa menelepon Kizzy,namun tetap juga hasilnya nihil,tak ada jawaban.
Shasa kesal banget,namun rasa ingin tahunya yang sangat besar mengalahkan kekesalannya.Terpikir olehnya buat bertanya kepada temannya Ghozyta teman akrabnya yang selalu tahu apa saja bila ditanya kek mbah google.Shasa lalu menelpon Ghozyta.
"Temui aku di Cafe Rusuh yang terdapat di kota tua jam 5 sore ini, ingat jangan telat barang sedetikpun. Jangan juga datang sebelum jam 5 sore. Harus tepat jam 5 sore.
Jangan bawa teman atau siapapun, bila tidak. Aku tidak akan menanggung akibatnya nanti.
Satu lagi, kau tidak boleh membocorkan pada satu orangpun tentang pertemuan kita.
Segalanya bergantung pada putusan akhir darimu. Baik buruknya, kau yang tentukan."
Aku melihat isi ВВМ yang baru kuterima lima menit yang lalu dengan bingung. Apa yang terjadi? Brengsek! Di mana letaknya Cafe Rusuh itu?whuah udah jam 4.30 sore,tinggal setengah jam lagi,guman Shasa.
Shasa yang bekerja sebagai kasir di sebuah mini market itu terlihat resah lantaran ia tahu bahwa ia bakalan tak diijinkan pulang awal mengingat lebaran tinggal 2 hari lagi.Banyak pembeli yg akan datang dan itu bertanda bahwa ia harus lembur sampai jam 7.30 malam.Dibacanya lagi isi BBM yang dikirim Kizzy,temannya.Lalu ia pun membalas balik dan mengetik sebuah pesan:
"gak bisa jam 5 an,soalnya hari ini aku lembur ampe jam 7.30 malam,kalo boleh jam 8 malam,boleh gak?kalo gak bisa ya udah satu kata dari gue,sorry!"
Sedang di lain tempat Kizzy hanya mendesah panjang.Diambilnya sebatang rokok dari saku bajunya,lalu dihisapnya rokok yang sudah dinyalakan olehnya.Kizzy berpikir sejenak sebelum ia mulai mengetik sebuah pesan balik buat Shasa,gadis yang ceria dan tidak bisa diam yang telah mencuri hatinya.
"Ok deh aku tunggu jam 8 malam,tempatnya tetap sama Cafe Rusuh".
Setelah pesan terkirim selang semenit hp kizzy pun koit."Brengsek! nih hp batere abis pula,mana lupa bawa chargernya lagi",gumannya."Ngopi dulu aja di warungnya mpok Jamu,lagian waktu masih panjang",katanya seraya menaiki motor maticnya yang masih kreditan itu.
Di mini market,Shasa mengetik sebuah pesan buat Kizzy untuk menanyakan letak Cafe Rusuh,namun sudah lewat satu jam tak juga mendapat balasan.Mau tak mau Shasa menelepon Kizzy,namun tetap juga hasilnya nihil,tak ada jawaban.
Shasa kesal banget,namun rasa ingin tahunya yang sangat besar mengalahkan kekesalannya.Terpikir olehnya buat bertanya kepada temannya Ghozyta teman akrabnya yang selalu tahu apa saja bila ditanya kek mbah google.Shasa lalu menelpon Ghozyta.
BeCeKS-CR1 : Hello Stranger
by Sinyo Manteman
"Temui aku di Cafe Rusuh yang terdapat di kota tua jam 5 sore ini, ingat jangan telat barang sedetikpun. Jangan juga datang sebelum jam 5 sore. Harus tepat jam 5 sore.
Jangan bawa teman atau siapapun, bila tidak. Aku tidak akan menanggung akibatnya nanti.
Satu lagi, kau tidak boleh membocorkan pada satu orangpun tentang pertemuan kita.
Segalanya bergantung pada putusan akhir darimu. Baik buruknya, kau yang tentukan."
Aku melihat isi ВВМ yang baru kuterima lima menit yang lalu dengan bingung. Apa yang terjadi? Brengsek! Di mana letaknya Cafe Rusuh itu?
Aku melirik arloji, 3.10 pm. Gawat! Aku harus bergegas ke Kota Tua sebab aku masih harus mencari di mana letak Cafe Rusuh itu. Kutinggalkan begitu saja pekerjaanku di meja.
"Woi..! Kemana lo?" tanya Beni, teman sekantorku. Tapi tak kugubris.
*****
"Temui aku di Cafe Rusuh yang terdapat di kota tua jam 5 sore ini, ingat jangan telat barang sedetikpun. Jangan juga datang sebelum jam 5 sore. Harus tepat jam 5 sore.
Jangan bawa teman atau siapapun, bila tidak. Aku tidak akan menanggung akibatnya nanti.
Satu lagi, kau tidak boleh membocorkan pada satu orangpun tentang pertemuan kita.
Segalanya bergantung pada putusan akhir darimu. Baik buruknya, kau yang tentukan."
Aku melihat isi ВВМ yang baru kuterima lima menit yang lalu dengan bingung. Apa yang terjadi? Brengsek! Di mana letaknya Cafe Rusuh itu?
Aku melirik arloji, 3.10 pm. Gawat! Aku harus bergegas ke Kota Tua sebab aku masih harus mencari di mana letak Cafe Rusuh itu. Kutinggalkan begitu saja pekerjaanku di meja.
"Woi..! Kemana lo?" tanya Beni, teman sekantorku. Tapi tak kugubris.
*****
Minggu, 18 September 2011
Poetry Battle Cafe Rusuh : Musim Basah
Sinyo Manteman
sudah tiba rupanya
rerintik yang menumpang awan dari terminal langit utara
mereka jatuh di atap
di beranda
di tanah
di pucukpucuk rerumput
nadanya tunggal
tik tik tik tik tik
tanpa tak
tanpa tuk
tanpa tek
tanpa tok
cuma tik tik tik tik tik
aku suka menari sendiri
jingkat kakiku ikuti ketukannya
satusatu
sesekali menengadah
biar rerintiknya jatuh juga di wajahku
dan aku terpejam
merasakan basahnya
sekali waktu aku hanya berdiri di balik jendela
nadanya masih sama
tik tik tik tik tik
di tepi jendela mereka singgah
mengetuk kaca jendela pelanpelan
seperti denting piano yang tak pernah berubah
ketukannya masih tetap satusatu
dari terminal langit utara mereka datang
mengetuk kaca jendelaku
mengajakku berjingkat
Batavia, 180911
Fannie Faiga
subuh kemarin
9 potong baju menyatu dengan detergent
siang kemarin
hujan melebat,
balkon asramaku sudah basah basah basah
dan cucianku basah semuaaaaaa
huhuhuhuhuhu :(( pagi ini air mataku pun mengalir basah basah dan basah lagiii, karena aku harus mencuci lagi :((
Arel Bae
Setelah menanti, akhirnya kau kembali
kembali memberi rerintik setelah berharihari hanya terik
menyambung juta waktu yg berlalu bersama keluhan campur harapan
"Langit, mendunglah....
Basahlah"....
...
Dadaku meletupletup menunggu
Dirimu
Meski titik-titik air
Menghujani tubuhku
Meski udara dingin
Membalutku
Kemana dirimu pergi?
Kenapa tak hinggapi aku yang masih menyendiri?
'rea' Harbowoputra
Aku suka air
Air dari langit
Langit yang kelabu
Kelabu itu gelap
Gelap, kata Mama
Mama bilang begitu
Begitu air turun
Turun hujan jadinya
Jadinya senang Aku
Karina Riesling de Silva
Byur byur byur
Tes tes tes
Payungku menadah
tangis langit yang mengguyur
tubuhmu
Semoga juga bisa menadah
tangismu yang menetes
dari matamu
Aku
Butuh
Basah!
Sialnya, tak setetes pun air menitik dari awan
Di aspal panas corak mulai terbentuk
Dari titik kecil jadilah penuh
Mobil masih melaju pada jalan yang kau ketuk
Kaca berdebu mereka pun kau basuh
Anak-anak berteriak riuh
Menengadah peluk kalian dalam tawa cerah
Orang tua menghardik marah
Hindari kalian, kembangkan payung dan tarik bocah
Lupalah orang tua pada ceria kala mereka menari bersamamu
Bersenda gurau walau badan telah basah kuyup
Pantaslah kalian malas datang bertamu
Juga alasan kenapa hubungan kita jadi tertutup
Garis-garis arsir turun dari langit
semua bersijingkat mencari tempat berteduh
lelaki kecil bergerak di tengah arena
bak penari...
setumpuk koran sebagai property
disambanginya satu persatu
pintu APV, Soluna dan Honda Jazz
berharap ada yang laku
meskipun satu
garis arsir semakin tebal
lampu yang merah menjadi hijau
lelaki kecil tetap menari
meski
decit roda mobil yang mencumbu aspal...
telah menghantar seliter genangan air
tepat pada setumpuk koran dalam dekapannya.
Amy Tan
Jatuh satu-satu di atas telaga
Benturannya mencipta riak
Telaga tempatmu bersinggah
Kulihat kuntum sakura di setiap jatuhnya
Ah!..aku terlena oleh rinaimu
Musim basah selalu membawamu padaku
Bias sakura di telaga
Suatu senja di September
Lalu,
Tarian hujan pun terhenti
Sirna seiring sembab yang tercipta dari ujung mata
Terhilang, kuasa sang jemari takdir
Aku termangu,
Tergagap jejak ruap rintih tanah basah
Dari balik rona yang terseka
Berbisik kata tercipta sesisa sunyi
Patahan silam bukan sesal kupertanyakan
namun engkau tak hanya sebuah ingatan taman hati
Bahagiamu, adalah kata terindah untukku meski gerimis masih bersamaku.
air berkelabu dengan alam, berbisik menyiangi sang waktu.dari rerupa rintik sampai menggulung bersatu dengan lumpur, bercanda dengan tanah yang menangis karena serakah.
kubawa sampah menggenangi hatimu dalam resah, nanar kulihat alirannya melahap penuh kemenangan, bersinergi dengan pupusnya harapan.
engkau,
satu musim yang kunanti rerintiknya
bukan bencananya
september rain,
saat kau dan aku bersama
dalam dingin gerimis yang tercipta
ditemani secangkir kopi panas di berandamu
gemericik hujan mengisi kekosongan kita
sesaat setelah kau ucapkan cinta
september rain,
aku masih terpaku di tepian jendela
menatap burung kebasahan
berselimut daun-daun cemara
mengingat adegan kita berpayung di taman kota
tetap basah terguyur hujan
september rain,
musim tetap bersenandung basah
dan aku tetap berpayung
bukan di berandamu
atau di taman kota
aku berpayung di pemakamanmu
masih di bulan september
18.09.2011
Agus Suprianto
musim kering yang basah
hujan dari bukit bebatuan tanah melukis tawa kita
lalu mengalir bersama kumpulan rerintik
yang lebih dulu menemukan jati diri
pada dua belas jam setengah basah itu
kita berjalan dalam kuyup, setelahnya
sudah tiba rupanya
rerintik yang menumpang awan dari terminal langit utara
mereka jatuh di atap
di beranda
di tanah
di pucukpucuk rerumput
nadanya tunggal
tik tik tik tik tik
tanpa tak
tanpa tuk
tanpa tek
tanpa tok
cuma tik tik tik tik tik
aku suka menari sendiri
jingkat kakiku ikuti ketukannya
satusatu
sesekali menengadah
biar rerintiknya jatuh juga di wajahku
dan aku terpejam
merasakan basahnya
sekali waktu aku hanya berdiri di balik jendela
nadanya masih sama
tik tik tik tik tik
di tepi jendela mereka singgah
mengetuk kaca jendela pelanpelan
seperti denting piano yang tak pernah berubah
ketukannya masih tetap satusatu
dari terminal langit utara mereka datang
mengetuk kaca jendelaku
mengajakku berjingkat
Batavia, 180911
Fannie Faiga
subuh kemarin
9 potong baju menyatu dengan detergent
siang kemarin
hujan melebat,
balkon asramaku sudah basah basah basah
dan cucianku basah semuaaaaaa
huhuhuhuhuhu :(( pagi ini air mataku pun mengalir basah basah dan basah lagiii, karena aku harus mencuci lagi :((
Arel Bae
Setelah menanti, akhirnya kau kembali
kembali memberi rerintik setelah berharihari hanya terik
menyambung juta waktu yg berlalu bersama keluhan campur harapan
"Langit, mendunglah....
Basahlah"....
...
Riu-kun Xentra
Dadaku meletupletup menunggu
Dirimu
Meski titik-titik air
Menghujani tubuhku
Meski udara dingin
Membalutku
Kemana dirimu pergi?
Kenapa tak hinggapi aku yang masih menyendiri?
'rea' Harbowoputra
Aku suka air
Air dari langit
Langit yang kelabu
Kelabu itu gelap
Gelap, kata Mama
Mama bilang begitu
Begitu air turun
Turun hujan jadinya
Jadinya senang Aku
Karina Riesling de Silva
Byur byur byur
Tes tes tes
Payungku menadah
tangis langit yang mengguyur
tubuhmu
Semoga juga bisa menadah
tangismu yang menetes
dari matamu
Sinta Latuhari
Aku
Butuh
Basah!
Sialnya, tak setetes pun air menitik dari awan
Catz Link Tristan
Di aspal panas corak mulai terbentuk
Dari titik kecil jadilah penuh
Mobil masih melaju pada jalan yang kau ketuk
Kaca berdebu mereka pun kau basuh
Anak-anak berteriak riuh
Menengadah peluk kalian dalam tawa cerah
Orang tua menghardik marah
Hindari kalian, kembangkan payung dan tarik bocah
Lupalah orang tua pada ceria kala mereka menari bersamamu
Bersenda gurau walau badan telah basah kuyup
Pantaslah kalian malas datang bertamu
Juga alasan kenapa hubungan kita jadi tertutup
Utami Panca Dewi
Garis-garis arsir turun dari langit
semua bersijingkat mencari tempat berteduh
lelaki kecil bergerak di tengah arena
bak penari...
setumpuk koran sebagai property
disambanginya satu persatu
pintu APV, Soluna dan Honda Jazz
berharap ada yang laku
meskipun satu
garis arsir semakin tebal
lampu yang merah menjadi hijau
lelaki kecil tetap menari
meski
decit roda mobil yang mencumbu aspal...
telah menghantar seliter genangan air
tepat pada setumpuk koran dalam dekapannya.
Amy Tan
Jatuh satu-satu di atas telaga
Benturannya mencipta riak
Telaga tempatmu bersinggah
Kulihat kuntum sakura di setiap jatuhnya
Ah!..aku terlena oleh rinaimu
Musim basah selalu membawamu padaku
Bias sakura di telaga
Suatu senja di September
Cahya Furi Purnama
Lalu,
Tarian hujan pun terhenti
Sirna seiring sembab yang tercipta dari ujung mata
Terhilang, kuasa sang jemari takdir
Aku termangu,
Tergagap jejak ruap rintih tanah basah
Dari balik rona yang terseka
Berbisik kata tercipta sesisa sunyi
Patahan silam bukan sesal kupertanyakan
namun engkau tak hanya sebuah ingatan taman hati
Bahagiamu, adalah kata terindah untukku meski gerimis masih bersamaku.
Dina Taz Mardiana
air berkelabu dengan alam, berbisik menyiangi sang waktu.dari rerupa rintik sampai menggulung bersatu dengan lumpur, bercanda dengan tanah yang menangis karena serakah.
kubawa sampah menggenangi hatimu dalam resah, nanar kulihat alirannya melahap penuh kemenangan, bersinergi dengan pupusnya harapan.
engkau,
satu musim yang kunanti rerintiknya
bukan bencananya
Alfian N. Budiarto
september rain,
saat kau dan aku bersama
dalam dingin gerimis yang tercipta
ditemani secangkir kopi panas di berandamu
gemericik hujan mengisi kekosongan kita
sesaat setelah kau ucapkan cinta
september rain,
aku masih terpaku di tepian jendela
menatap burung kebasahan
berselimut daun-daun cemara
mengingat adegan kita berpayung di taman kota
tetap basah terguyur hujan
september rain,
musim tetap bersenandung basah
dan aku tetap berpayung
bukan di berandamu
atau di taman kota
aku berpayung di pemakamanmu
masih di bulan september
18.09.2011
Agus Suprianto
musim kering yang basah
hujan dari bukit bebatuan tanah melukis tawa kita
lalu mengalir bersama kumpulan rerintik
yang lebih dulu menemukan jati diri
pada dua belas jam setengah basah itu
kita berjalan dalam kuyup, setelahnya
Jumat, 02 September 2011
50 kata September Wish : Virus
by Liz Levin
Enyahlah virus. Keberadaanmu hanyalah mengotori semesta, yang bahkan lebih rendah dari mikroorganisme penghuni rantai makanan terbawah. Kuharap kau membusuk jauh di dalam inti sel mu. Maka kau takkan bisa menebarkan kibasan angin keburukan dan merajalelakan racunmu ke tiap kanal-kanal yang rapuh. Dan hancurlah kau ke dalam dimensi keterasingan dan keterpurukan.
Enyahlah virus. Keberadaanmu hanyalah mengotori semesta, yang bahkan lebih rendah dari mikroorganisme penghuni rantai makanan terbawah. Kuharap kau membusuk jauh di dalam inti sel mu. Maka kau takkan bisa menebarkan kibasan angin keburukan dan merajalelakan racunmu ke tiap kanal-kanal yang rapuh. Dan hancurlah kau ke dalam dimensi keterasingan dan keterpurukan.
Rabu, 31 Agustus 2011
50 kata September Wish : Sukma Jiwa
by Dina Taz Mardiana
Haru dalam rindu, dinginnya malam ini terus menusuk, riuh pelukanmu selalu meninggalkan kehangatan dan tatapan resah hadir dalam desah nafasku. Ada harap tersisa dalam rona jingga, duabelas bulan dalam kata.
Nanti, akan samakah seperti malam ini, ingin kuhadirkan sorot mata tersisa biar kugenapi tirah ragumu dalam sukma, untukmu belahan jiwa.
50 kata September Wish : Lepaskanlah!
by Amy Tan
Ada yang tertinggal di telaga hatiku setelah semuanya berlalu,gejolak rasa itu mencekam jiwa.
Biarlah waktu kan menghapusnya.
Di antara harapan yang pupus dan cinta yang bergelora ini,rindu tentangmu menyekap setiap detak pada nadiku.
Walau tanpa kerelaan aku hanyutkan bayangmu di lautan hatiku.
Dan bila hadirku adalah resahmu
Lepaskanlah!
50 kata September Wish : Tentangmu
by Sinyo Manteman
Aku yakin bahwa setiap permohonan suatu saat pasti akan terwujud. Para malaikat akan membawanya ke langit ketika kita mengucapkannya dalam hati dengan tulus.
Kau tahu, aku selalu memohon agar Tuhan memberimu segala kebaikan supaya aku dapat tetap melihatmu tersenyum. Seperti halnya malam ini, aku bisikan dalam hati; Tuhan, jaga dia.
Jumat, 26 Agustus 2011
APCR : Rona Malam Braga
by Dina Taz Mardiana
langit merah merona jingga
kutelusuri setapak kota tua
tergoda kuhampiri kedai per house
ingin kusesap aroma cafein di senja yang mulai menggigil
malampun mulai beranjak, semilir angin kian menusuk kulit
kakiku terus melangkah, gerimispun ruah, rerintiknya jatuh tergenang ditanganku yang luluh
di tepi trotoar ini aku bertepi , bersandar pada dinding yang catnya mulai pucat.
kusapu jalananan dengan lirikan, di tepi sebuah gedung lukisanlukisan seni dijajakan
mungkin suatu pengabadian kenangan atau harap untuk sedikit tambahan
: dulu
disetapak trotoar ini, segolongan elit kolonial berkeliaran
bercumbu rayu dengan prestice
menghamburkan uang untuk de vries
atau butik au bon marche yang menjual fashion impor dari Paris
: Braga malam ini
Bagai simfoni lagu sunyi, bersenandung sepi
Rerindumu selalu kupeluk erat
Denyut megah gedung tua yang kian menelisik
kian muram dengan sorotan lentera lampu jalanan
dirimu saksi bisu sejarah dalam memoar
permata kota Paris Van Java yang mulai pudar
Note :
Coffe perhouse : rumah pelelangan kopi yang dibuat oleh Belanda yang kini jadi balai kota Bandung
De Vries : toko klontong yang selalu dikunjungi petani priangan kaya raya keturunan belanda atau orang kolonial Belanda
Butik au bon marche : salahsatu butik elit yang menjual pakaian impor dari paris dan merupakan tempat fashionnya sinyo dan none Belanda yang merupakan asalnya kenapa Bandung dijuluki Paris Van Java
langit merah merona jingga
kutelusuri setapak kota tua
tergoda kuhampiri kedai per house
ingin kusesap aroma cafein di senja yang mulai menggigil
malampun mulai beranjak, semilir angin kian menusuk kulit
kakiku terus melangkah, gerimispun ruah, rerintiknya jatuh tergenang ditanganku yang luluh
di tepi trotoar ini aku bertepi , bersandar pada dinding yang catnya mulai pucat.
kusapu jalananan dengan lirikan, di tepi sebuah gedung lukisanlukisan seni dijajakan
mungkin suatu pengabadian kenangan atau harap untuk sedikit tambahan
: dulu
disetapak trotoar ini, segolongan elit kolonial berkeliaran
bercumbu rayu dengan prestice
menghamburkan uang untuk de vries
atau butik au bon marche yang menjual fashion impor dari Paris
: Braga malam ini
Bagai simfoni lagu sunyi, bersenandung sepi
Rerindumu selalu kupeluk erat
Denyut megah gedung tua yang kian menelisik
kian muram dengan sorotan lentera lampu jalanan
dirimu saksi bisu sejarah dalam memoar
permata kota Paris Van Java yang mulai pudar
Note :
Coffe perhouse : rumah pelelangan kopi yang dibuat oleh Belanda yang kini jadi balai kota Bandung
De Vries : toko klontong yang selalu dikunjungi petani priangan kaya raya keturunan belanda atau orang kolonial Belanda
Butik au bon marche : salahsatu butik elit yang menjual pakaian impor dari paris dan merupakan tempat fashionnya sinyo dan none Belanda yang merupakan asalnya kenapa Bandung dijuluki Paris Van Java
APCR : Dewata Menelan Jasadmu
by Nyi Penengah Dewanti
Pijak langkah membagi kecupan
Sedulang kasih memugar kenangan
Di antara rumpun dedaunan
Hati berdenyut secebis senyuman
Pulau dewata memeluk sahdu
Segumpal ari-ariku tertanam
Dayung rindu
Mengucap salam
Birunya langit jatuh dibirunya lautmu
Ombak-ombak harapan berlarian
Bergelayut memerciki batu karang
Jasadmu terbujur kaku
Pulau seribu pura
Menelan raga
Membunuh mimpi
Menjinjing sepi
Rimbun pesona
Alam beri pertanda
Sampai jumpa
Matahari senja
Pijak langkah membagi kecupan
Sedulang kasih memugar kenangan
Di antara rumpun dedaunan
Hati berdenyut secebis senyuman
Pulau dewata memeluk sahdu
Segumpal ari-ariku tertanam
Dayung rindu
Mengucap salam
Birunya langit jatuh dibirunya lautmu
Ombak-ombak harapan berlarian
Bergelayut memerciki batu karang
Jasadmu terbujur kaku
Pulau seribu pura
Menelan raga
Membunuh mimpi
Menjinjing sepi
Rimbun pesona
Alam beri pertanda
Sampai jumpa
Matahari senja
APCR : Bisikan Pasir Bromo
by Endang Ssn
Memoar jejak langit masih terbaca
Menyerpih dalam tetes mimpi yang mengangkasa
Perlahan terjuntai
Lalu rebah dalam padang hati
Di penghujung senja, Bromo selayak siluet indah
Tapak-tapak langkah mensejarah
Menilas para pejuang mimpi
Saat satu persatu merayap pasti
Bukan aksara
Tak juga termaktub kata
Tapi bukan kalimat biasa
Saat hampar pasir putih menggeliat goda
Mata terpana akan pesona
Menelisik sisa rasa yang masih ada
Tegak bersama bangun asa
Butiran halus pasir mendekap luar biasa
Desir pasir menjamah jemari
Halus belai sang empunya hati
Mencumbu telaga bening yang menari
Menyibak segenap misteri
Tertunduk sebentuk raga
Saat cintaNya menyapa mesra
Diantara lautan pasir
IndahNya terukir
Hai Jiwa
Mengapa mesti resah saja
Bukankah alam masih berbahasa
Sekeping makna semestinya kau eja
Bisikan pasir luruh dalam rasa
Bersama peluk megah Bromo
Sebuah catatan yang tak lekang
Meski zaman menghilang
APCR : Merindu, Indonesiaku
by Hazztami CiNtya LutHfi
Bambu - bambu yang menghunus
mengisahkan lembaran cerita Kemerdekaan
Memoles keelokan garuda yang mencengkeram Bhineka
Sobekan hati para pahlawan yang telah terjahit rapi
dalam merah putih
Mari turunkan angkuhmu
untuk mengangkat tanganmu dalam hormat
Indonesiaku yang kini mulai lelah
tersapu derita penuh goda
Aku sadar...
Aku tahu...
Aku dan mereka masih terpasung dalam kebodohan
yang menggerogoti obor semangat
Berikanlah seluruh isi rusukmu untuk tanah air
Hapus debu dan peluh dari Indonesiaku
Mari gertak para penjajah budaya
Satukan janji serta bukti...
Tuk menjaga sepenuhnya anugerah dalam
induk negeri
Agar merasakan sejuknya hadir dan merindu
Indonesiaku...
Bambu - bambu yang menghunus
mengisahkan lembaran cerita Kemerdekaan
Memoles keelokan garuda yang mencengkeram Bhineka
Sobekan hati para pahlawan yang telah terjahit rapi
dalam merah putih
Mari turunkan angkuhmu
untuk mengangkat tanganmu dalam hormat
Indonesiaku yang kini mulai lelah
tersapu derita penuh goda
Aku sadar...
Aku tahu...
Aku dan mereka masih terpasung dalam kebodohan
yang menggerogoti obor semangat
Berikanlah seluruh isi rusukmu untuk tanah air
Hapus debu dan peluh dari Indonesiaku
Mari gertak para penjajah budaya
Satukan janji serta bukti...
Tuk menjaga sepenuhnya anugerah dalam
induk negeri
Agar merasakan sejuknya hadir dan merindu
Indonesiaku...
APCR : Sepucuk Surat Untuk Sang Ibu
by Kawako Tami
Salam Ibu,
Bumi yang menjadi rahim 200 juta dari kami..
Bu..
Apakah dera bagi anak yang durhaka?
Mencuri dari belanga ibunya..
Menjarah pusaka rumahnya..
Menandas hingga perut ibunya..
Tidak kami tahu, Bu, batas dosa kaki dan tangan ini
Tidak kami kira, Bu, hingga tersengal napasmu
dan jerit anak cucu kami..
Kami tak berhenti..
Bu..
Apakah dera bagi saudara,
yang menari di atas bangkai saudaranya?
Merebut pelangi masa kecil anak mereka
Merampas kehormatan istri-istri mereka
Menutup keran kehidupan mereka
Tidak kami rasa, Bu, keputusasaan mereka
Tidak kami dengar, Bu, hingga satu demi satu bertinggal nama
dan berlagu tawa di atas nisan mereka
Kami tak peduli
Ah.. Ibu..
Jangan kutuk kami jadi batu!
Meski kami putra putrimu
hanya malin-malin dalam rupa baru
Meminum darah dan air matamu
Bersantap bangkai putra-putrimu
Bu, jangan lempar sumpah serapahmu!
Karena kutulis surat ini, Bu..
Jikalau ada sekeping maafmu..
Jikalau waktu mau menunggu.. sadarku..
Dengan cinta yang terkubur dan tak lagi terlihat
ttd
Kami anak-anakmu, maling dalam rumahmu
APCR : JANGAN MENANGIS LAGI PERTIWIKU
by Ammy Cheery-Ozon
Rintihan Pertiwi kian menyayat hati
dentuman sirine lara menjadi penghias telinga
entah itu karena bencana
entah itu karena diam
atas sebuah frase ”Merdeka dalam kepura-puraan”
Tubuhku selalu berputar
sembari mulutku bergumam ”Andainya Pertiwiku bisa”
bisa menjadi pijakan untuk insan kuat
bisa menjadi tumpuan untuk insan yang lemah
namun, tatkala imajiku bergerak keluar dari sebuah fatamorgana
aku bungkam
bungkam atas berbagai ketidakadilan
bungkam atas berbagai ketidakberpihakan
oh aku salah...ternyata ada keberpihakan
tapi ternyata hanya untuk insan kuat
Aku tahu, Pertiwiku menangis
menjatuhkan bulir airmata di pipi kiri dan kanannya
aku berbisik ”Jangan Menangis Lagi Pertiwiku”
dibalik ketidakadilan yang kamu lihat
dibalik ketidakberpihakan yang kamu dengar
ada insan lemah namun kuat
kuat bertahan atas penindasan
bukan hanya diam tak bergeming
Layaknya dua sisi mata uang
Ada kiri, ada kanan
ada penjilat, ada pemberontak
pemberontak atas kemunafikan
pemberontak atas keonaran terselubung
pemberontak atas kebiadaban
pemberontak ini akan selalu menyeka air mata Pertiwiku
jadi, jangan menangis lagi Pertiwiku
Langganan:
Postingan (Atom)